Devan terdiam mendengar pengakuan Serena. Tangannya meraih jemari Serena yang masih menyentuh wajahnya, menggenggamnya erat seolah tak ingin ada jarak di antara mereka. Tatapannya menurun, berat, seolah menimbang semua yang baru saja diucapkan wanita itu. Devan menarik napas dalam, menatap mata Serena dalam-dalam. “Kamu menemui Rosa... untuk apa, Serena? Apa dia mengancammu?” Pertanyaan itu meluncur dengan nada dingin, membuat Serena sedikit terkejut. Serena menggeleng perlahan, lalu tersenyum samar. “Tidak. Dia hanya... mencoba mengingatkan posisinya. Bahwa dia istrimu, dan aku... hanya wanita yang kamu cintai.” Serena berkata dengan tenang, tapi hatinya terasa bergetar. Devan mengepalkan tangannya di atas meja. “Dia tidak punya hak lagi untuk berbicara seperti itu. Dia kehilangan hakn

