Rosa mendorong ayunannya makin kencang. “Renata, dorongin aku dong! Biar lebih tinggi!” katanya riang. Renata berdiri dan mulai mendorong pelan. “Segini aja, nanti kamu jatuh.” “Kurang! Lebih kenceng lagi!” Rosa mendesak. Renata mendorong sedikit lebih keras. Tapi begitu ayunan naik tinggi, Rosa mendadak menjerit. “Aaaahhh! Aduh sakit, sakit!” Ia menghentikan ayunan dengan kaki, lalu meringis sambil mengusap lengannya. “Kamu kasar banget sih!” Renata panik. “Aku nggak… aku cuma dorong biasa…” Namun, suara jeritan Rosa sudah cukup membuat Widya berlari keluar dari pintu belakang. “Rosa! Ada apa, Nak?” Rosa langsung berlari ke pelukan ibunya, pura-pura sesenggukan. “Ibu… Renata dorong aku keras banget. Aku takut jatuh…” Mata Widya membesar, lalu menatap Renata dengan sorot kecewa. “Re

