Renata menutup pintu kamarnya pelan. Suara tawa Rosalina dan ibunya, Widya, masih terdengar samar dari ruang makan. Ia menggigit bibir, menahan rasa sesak di d**a. Langkah kakinya berbelok menuju kamar di ujung lorong—kamar ibunya. Perlahan ia mengetuk. Tok… tok… “Ibu, ini aku.” Suara lirih terdengar dari dalam. “Masuk saja, Nak.” Renata mendorong pintu. Aroma obat langsung menyambutnya. Lampu kamar redup, hanya satu bohlam kecil yang menyala di meja samping ranjang. Ibunya, wajah pucat dengan rambut terurai kusut, sedang berbaring bersandar dengan bantal menumpuk di punggung. “Ibu…” Renata berlari kecil, duduk di tepi ranjang. “Kenapa Ibu nggak ikut makan? Ayah, Ibu Widya, sama… Rosalina ada di meja makan.” Ibunya tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip menahan sakit. “Ibu tidak a

