Bab 26

1113 Kata

Renata buru-buru berlari ke kamarnya setelah sarapan selesai. Tangannya langsung mendorong pintu kamar ibunya yang setengah terbuka. Di dalam, ibunya masih berbaring, wajah pucatnya tampak lelah. Ada nampan kosong di meja kecil samping ranjang—sisa bubur yang ia makan sendirian. “Ibu…” suara Renata parau. Ia duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan ibunya erat. Ibunya menoleh pelan, tersenyum meski jelas sakit. “Kenapa, Nak? Kok wajahmu murung sekali?” Renata menunduk, air matanya jatuh begitu saja. “Aku… aku makan di meja makan barusan, Bu. Sama Ayah, sama… mereka.” Ibunya terdiam, mengusap kepala Renata dengan lembut. “Terus?” Renata menghela napas gemetar. “Ayah marahin aku… gara-gara aku bilang kalau aku cuma punya Ibu. Dia marah, Bu. Ayah marah.” Mata ibunya berkaca-kaca, tapi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN