bc

Sentuhan Nakal Nona Kath

book_age18+
79
IKUTI
1.3K
BACA
badgirl
stepfather
drama
bxg
bold
athlete
like
intro-logo
Uraian

(21+) SPICY ROMANCE

Demi melunasi utang, Kathrina menerima pekerjaan memijat seorang pria di hotel berbintang lima dengan bayaran puluhan juta.

Masalahnya? Kath sama sekali tidak bisa memijat.

Bermodal nekat dan tutorial t****k yang baru ditonton di dalam taksi, ia justru harus menangani Rafka Dirgantara—aktor nomor satu Indonesia yang sedang menyembunyikan cedera.

Namun, sentuhan ngawur Nona Kath malah membuat sang aktor ketagihan dan terus mencari alasan untuk memanggilnya kembali.

“Kalau sampai pinggang saya makin sakit gara-gara kamu, Kathrina... saya pastikan kamu bayar ganti ruginya pakai seluruh tubuhmu malam ini.”

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Gadis Kretek
“Ah, s**t! Iya, lebih ke bawah lagi... rada tekan dikit dong. Ahhh, ini enak—” “T-tekanannya kurang keras nggak, Mas? Ini udah mentok, lho...” Kamar suite berbintang lima itu terasa panas seketika. Rafka Dirgantara, aktor papan atas yang wajahnya wara-wiri di layar lebar dan digilai jutaan wanita—tengah berbaring tengkurap di atas kasur. Tubuhnya hanya tertutup sehelai selimut putih dari batas pinggang ke bawah. Di sampingnya, Kathrina berlutut kaku. Gadis bertubuh mungil dengan rambut kecokelatan ikal yang terurai itu sibuk memijat pinggang sang aktor. Mata hitamnya yang dinaungi bulu mata lentik mengerjap panik. Jarinya yang mulai pegal menekan-nekan tubuh Rafka. Namun, ketenangan itu tak bertahan lama. Rafka mendadak meringis, dahinya berkerut dalam sebelum memprotes galak. “s**t! Serius, ini beneran bisa pijat nggak, sih, kamu? Bukannya sembuh, ini malah kayak cuma dicolok-colok!” Kathrina seketika gelagapan. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Keberadaannya di kamar jelas karena nekat. Berbekal keberanian di atas rata-rata dan tutorial kretek tulang dari YouTube yang baru ia tonton setengah jam lalu di dalam taksi. “B-bisa, Mas! Ini... ini teknik terapi relaksasi usapan awal sebelum penekanan saraf inti!” sahut Kathrina terbata-bata, mencoba terdengar meyakinkan. Rafka langsung berbalik dan duduk di atas kasur. Mata tajamnya menyipit penuh intimidasi. “Jangan bohong kamu. Kamu sebenarnya bukan fisioterapis, kan?” “N-nggak, Mas! Demi Allah, saya beneran pegawai resmi dari... dari Serenity Reflexology & Platinum Massage!” cerocos Kathrina asal sebut nama tempat. Rafka terkekeh sinis, sama sekali tak makan umpan. “Pijat refleksi matamu! Penampilan kamu aja nggak ada rapi-rapinya. Kamu pasti sasaeng, kan? Mana? Kamu sembunyiin kamera di mana, hah? Mau jebak saya?” Rafka mendadak bangkit berdiri dengan emosi membumbung, mengabaikan fakta bahwa pergerakan kasarnya membuat selimut itu melorot bebas ke lantai. “Ibukuuu!” Kathrina menjerit kecil, refleks menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Rafka yang sadar langsung mencemooh tajam. “Nggak usah sok suci mata kamu. Saya nggak sebodoh itu ya sampai harus kepancing sama jebakan amatiran kayak kamu. Angkat kaki dari kamar saya.” Rafka berdecak kesal, meraih ponsel di atas nakas hendak menelepon manajemennya untuk mencari tukang pijat lain. Kathrina seketika membeku. Bayangan debt collector dan bank plecit yang siap mencincangnya dua hari lagi mendadak berputar menakutkan di otak. Nggak bisa! Uang lima puluh jutaku nggak boleh melayang gitu aja! “Mas Rafka, tunggu!” Kathrina langsung memasang muka sok profesional walau dadanya deg-degan parah. “Coba sekali lagi, Mas. Tolong berikan saya kesempatan satu kali lagi. Kalau kali ini Mas masih ngerasa nggak enak atau makin sakit, Mas boleh usir saya, bahkan laporin saya ke polisi sekalian!” Rafka menghentikan jemarinya di atas layar ponsel, menatap Kathrina dengan pandangan malas “Buang-buang waktu banget. Jadwal saya padat, dan saya nggak punya waktu buat ladenin bocah acak kayak kamu.” “Cuma lima menit, Mas! Serius, lima menit aja! Kalau lima menit nggak mempan, saya keluar sendiri tanpa dibayar sepeser pun. Janji!” meyakinkan Kathrina pantang menyerah. Rafka menghela napas panjang. Ia melirik jam dinding, berdecak keras, lalu menatap Kathrina tajam. “Lima menit. Lebih dari itu, saya serahkan kamu ke sekuriti hotel buat diproses hukum.” “Siap, Mas!” jawab Kathrina cepat. Rafka kembali berbaring. Kathrina menghembuskan napas lega yang ditahannya sejak tadi. Ia memejamkan mata sejenak, komat-kamit berdoa dalam hati agar jemarinya mendadak kerasukan keahlian tukang urut profesional mana pun. Perlahan, Kathrina memajukan tubuhnya. Kedua telapak tangannya yang agak gemetar terulur, mendarat tepat di atas permukaan kulit punggung Rafka. Baru saja jarinya menekan sedikit area tulang belikat sang aktor— “Tunggu...” gumam Rafka tiba-tiba, suaranya mendadak menegang. Pria itu memiringkan kepalanya sedikit, lalu menoleh ke belakang dengan tatapan tajam yang mampu membuat bulu kuduk berdiri. “Kalau sampai pinggang saya makin sakit gara-gara kamu, ... saya pastikan kamu bayar ganti ruginya pakai seluruh tubuhmu malam ini.” Deg! Jantung Kathrina seolah melompat keluar dari d**a. Tubuhnya membeku seketika. Iris mata hitamnya membelalak lebar, memandangi rahang tegas Rafka yang berjarak begitu dekat dengannya. Dalam hati, Kathrina sudah mengumpat sejadi-jadinya dan merutuki citra pria di hadapannya ini. “Dih! b******k banget ini cowok! Di depan TV, di wawancara, di panggung awards sok sopan kayak cowok alim tanpa dosa. Ternyata aslinya m***m! Coba fans-fansnya tahu kelakuan aslinya yang suka ngancam anak orang begini, auto merosot tuh popularitas!" Merasa gadis di atasnya mendadak tak bergerak dan hilang suara, Rafka mengernyit. “Kenapa diam? Takut?” Suara berat itu langsung menyentak Kathrina kembali ke realita. Ia tersenyum kaku, tertawa hambar yang sangat dipaksakan demi menutupi kepanikannya. “A-hahaha... Mas Rafka ternyata pinter bercanda juga, ya? Lucu banget, deh,” sahut Kathrina cepat, mencoba mencairkan suasana yang terlanjur panas. “Aduh, Lagian mana mau Mas sama saya? Saya ini janda, lho, Mas. Janda!” Kathrina sengaja membusungkan d**a, bermaksud menakut-nakuti Rafka agar pria itu ilfil. "Bohong dikit nggak apa-apa lah, ya. Mana sudi gue disuruh bayar pakai tubuh. Mending gue ngaku janda sekalian biar dia kabur!" batinnya penuh kemenangan. Dahi Rafka justru berkerut dalam. Mata tajamnya bergulir pelan, menyapu penampilan Kathrina dari atas sampai bawah. Gaya rambut ikal kecokelatannya yang modis, riasan tipis tapi segar di wajahnya. Rafka mendecak pelan, lalu nyeletuk santai tanpa beban, “Janda pun... saya suka.” “Hah?!” Mata Kathrina melotot. Melihat ekspresi polos dan lucu dari gadis itu, d**a Rafka mendadak berdesir aneh. Ia dengan cepat membuang muka kembali menatap bantal, berusaha menyembunyikan sudut bibirnya yang hampir saja tertarik membentuk garis tipis. “Nggak usah masang muka kayak gitu. Buruan pijat, atau saya tambah denda kamu jadi dua kali lipat,” celetuk Rafka nyeleneh, kembali menyebalkan seperti biasa. Kathrina mengelus dadanya yang menegang. "Gila ini aktor, bener-bener gak waras!" gumamnya bingung dalam hati. Namun, demi lima puluh juta dan tenggat waktu bank plecit yang menghantuinya, Kathrina menelan bulat-bulat kekesalannya. Ia mulai menggerakkan jarinya lagi, memijat dan menekan perlahan area punggung hingga pinggang Rafka sesuai arahan video tutorial yang diingatnya. Ajaibnya, keheningan menyelimuti kamar itu. Napas Rafka yang tadinya memburu dan sarat amarah, perlahan-lahan mulai teratur. Pria itu memejamkan mata, membiarkan jari lembut Kathrina bekerja menelusuri tiap lekuk ototnya. Rasa hangat yang aneh perlahan merambat dari sentuhan gadis itu, menjangkau titik-titik saraf yang selama ini selalu terasa tegang. Kathrina menghela napas lega. “Alhamdulillah, kayanya tuh tutorial t****k beneran manjur," batinnya kegirangan. Sampai akhirnya, jemari Kathrina tanpa sengaja mengurut agak ke bawah, menyentuh bagian pinggul belakang Rafka. Seketika, tubuh Rafka menegang hebat. Beda dari tegangan otot akibat nyeri cedera—kali ini seluruh badannya meremang. Pria itu menyentak pelan, meraih pergelangan tangan Kathrina dengan cengkeraman erat yang membuat gadis itu terkejut. Rafka membuka matanya lebar-lebar. Ada kilat ketakutan dan kebingungan yang sangat asing terpancar dari iris matanya saat ia menatap Kathrina. “Kamu... kamu pakai apa di tangan kamu?” bisik Rafka dengan suara parau yang bergetar. Kathrina bingung setengah mati. “Nggak pakai apa-apa, Mas? Cuma minyak zaitun biasa—” “Nggak mungkin,” potong Rafka cepat, napasnya mendadak berburu kembali. Pria itu memegangi dadanya yang berdegup kencang secara tidak wajar. “Mas Rafka? Mas kenapa?” tanya Kathrina panik melihat wajah Rafka yang mendadak pucat pasi. Rafka menatap Kathrina lekat-lekat, mencengkeram jamari gadis itu semakin kuat hingga Kathrina meringis. “Mulai malam ini... kamu tidak boleh memijat pria lain selain saya.” Bersambung~

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Tentang Cinta Kita

read
230.6K
bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

Keyra, Gadis Kecil Kesayangan Om Dirga

read
213.0K
bc

Satu Atap Tanpa Cinta

read
28.7K
bc

Pernikahan Rahasia sang CEO: Menyerah pada Cinta yang Menggila

read
1K
bc

Sentuh Aku, Daddy!

read
172.0K
bc

Demo Dulu, Jatuh Cinta Kemudian

read
8.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook