Semakin Lengket

1663 Kata
“Mas Adiguna, sekali lagi terima kasih ya, atas bantuannya. Mohon maaf ini, saya jarang sekali berkunjung, khawatirnya mengganggu kesibukan keluarga Kertana,” ujar Sutrisno begitu segan, sambil menatap Adiguna yang kini menyesap teh hangat. Setelah makan, Adiguna duduk di kursi depan yang halamannya hanya beberapa meter saja. Terlihat berbeda sekali dengan lingkungannya tumbuh dimana privasi diutamakan. Sejak kedatangannya kesini, terus menerus ada beberapa pasang mata yang penasaran, siapa pria tampan yang datang ke kediaman Pak Sutrisno. “Tidak usah begitu, Pak. Bapak tahu sendiri apa yang Bapak lakukan untuk Eyang saya. Lain kali datanglah berkunjung kesana, sesibuk apapun Eyang pasti akan langsung pulang jika Bapak yang datang.” “Saya masih segan dan sungkan atas semua yang diberikan, apalagi setiap kali berkunjung selalu diberikan banyak makanan dan barang, belum lagi amplop yang nominalnya besar.” “Tapi sudah bertahun-tahun Bapak tidak berkunjung, Eyang saya pasti akan menyangka Bapak melupakan beliau.” Sutrisno langsung kaget. “Tentu tidak, Mas. Bagaimana bisa saya melupakan sosok yang selalu membantu saya, sampai saya punya sawah dan kebun di kampung. Saya akan datang akhir bulan ini kalau begitu, menunggu masa panen selesai. Tidak enak kalau tidak bawa apapun kesana.” Adiguna hanya mengangguk-anggukan kepalanya sambil menyesap teh yang ia Yakini pasti harganya murah, tapi ternyata enak. Mengingatkannya akan masa kecil, entah kenapa teh yang dibuat oleh orang rumah terasa berbeda. Padahal katanya itu merk paling bagus, mungkin pelayan yang dulu bekerja dan membuat tehnya sudah tidak lagi ada disana. Belum lagi masakan sederhana buatan Amerta dan Ibunya, membuat pikiran Adiguna langsung terlempar di masa dia masih sekolah dasar, dimana mediang istri Pak Sutrisno seringkali menitipkan makanan lewat sang suami untuk Adiguna, rasanya enak. Sayangnya, istri Pak Sutrisno saat itu tidak bisa bekerja untuk keluarga mereka sebab masalah Kesehatan. Namun, rasa masakannya sangatlah khas, belum lagi memory yang berputar saat memakan masakan itu disaat Adiguna menangis karena dimarahi Eyang maupun Ayahnya, terasa jauh lebih nikmat, dimakan di pos tempat Sutrisno bekerja saat itu. Seenak apapun masakan yang dibuat koki dirumah atau di apartemen, ada rasa yang kurang bagi Adiguna. Terlebih saat sang Ibu memutuskan fokus menjadi Ibu Rumah Tangga dan mengatur segalanya, koki yang didatangkan olehnya itu memasak dengan rempah-rempah yang tidak cocok di lidah Adiguna. “Amerta bisa mulai bekerja besok ya, Pak. Langsung saja ke apartemen saya, bawa alat tulis seperti biasa. Selama saya bekerja nanti, Amerta bisa tinggal di apartemen untuk belajar, dan setelah saya pulang kerja nanti akan diulas apa yang dia pelajari selama saya tinggal. Untuk pulangnya, nanti saya minta sopir mengantarkan, jadi tidak usah khawatir.” “Eh, tidak perlu diantarkan, Mas. Nanti biar Ayahnya jemput, dia kan mulai ngojek sekarang.” “Tapi saya me--” “Bahkan kalau dia diminta menginap juga tidak apa-apa, Mas. Tapi sepertinya jangan, nanti malah merepotkan, Amerta agak rewel kalau malam, overthinking atau apa gitu ya.” Sebelum Adiguna membalas ucapan tersebut, ponselnya berdering, satu notifikasi masuk yang membuat keningnya berkerut. Tidak lama, ia pun berdiri. “Pak, saya harus pergi, ada hal yang harus saya urus.” “Oh, tentu-tentu. Amerta! Hei, semuanya, Mas Adiguna mau pulang.” Adiguna agak kaget dengan mereka yang langsung keluar, kecuali Amerta yang berjalan paling lambat dan tampak malas menemuinya. Dari Ibu Rahma, Pak Mulyono sama Alisa datang memberi salam dan berterima kasih. “Teh? Teteh? Anterin dosen kamu sampai ke depan, sampai selamat ke mobilnya,” perintah Sutrisno. “Teteh ma….,” ucapannya mengambang kala melihat tatapan tajam Adiguna, ia segera menunduk dan mengangguk. “Iya, Aki.” “Nah, diantarkan sama Amerta ya, Mas. Supaya kalian bisa mengobrol juga kedepannya bagaimana. Maaf tidak bisa mengantar, kaki saya sudah sakit.” “Tidak apa, Pak. Terima kasih atas makan malamnya,” ujar Adiguna kemudian menatap Amerta yang menahan napas disana. “Ayok, Amerta, saya memiliki beberapa hal yang harus dibicarakan dengan kamu.” “B-- baik, Pak.” **** Sambil melangkah keluar dari halaman rumah, Amerta berjalan beberapa langkah di belakang Adiguna. Langit sore mulai berubah warna. Semburat jingga dan keemasan memenuhi cakrawala di atas deretan atap rumah-rumah sederhana yang berdempetan. Suara televisi dari rumah tetangga bercampur dengan suara anak-anak yang masih bermain petak umpet di gang sempit. Di tempat seperti ini, hampir tidak ada rahasia yang bisa bertahan lama. Kehadiran mobil mewah milik Adiguna saja sudah cukup untuk menjadi bahan pembicaraan satu RT selama seminggu ke depan. Amerta menggenggam kedua tangannya erat-erat di depan perut. Ia gugup bukan main. Apalagi sejak keluar rumah, Adiguna lebih banyak memperhatikan ponselnya daripada dirinya. Jari pria itu bergerak cepat di atas layar, membalas pesan demi pesan dengan ekspresi datar yang sulit ditebak. Mereka melewati gang demi gang. Sesekali beberapa tetangga yang sedang duduk di teras menoleh penasaran. Tepat ketika mereka melewati warung kecil di ujung gang, Adiguna akhirnya menyimpan ponselnya. Ia menoleh lalu terkekeh pelan. Jantung Amerta langsung mencelos. “Apa saya terlihat lucu, Pak?” tanyanya hati-hati. “Tidak.” “Kalau begitu kenapa Bapak tertawa?” Adiguna memasukkan satu tangan ke saku celananya. “Saya hanya merasa Tuhan memiliki selera humor yang cukup baik.” Amerta mengernyit. “Maksudnya?” “Maksudnya,” jawab Adiguna tenang, “dari ribuan mahasiswa yang pernah saya ajar, justru mahasiswa yang paling ingin kabur dari hukum malah berada dalam bimbingan saya, dan Kakeknya semakin mengikat saya. Mau bagaimana lagi kamu cari alasan supaya pergi huh?” Amerta langsung menunduk. “Maaf, Pak.” “Saya tidak sedang meminta maaf.” “Amerta.” “Iya, Pak?” “Saya pernah mengajar mahasiswa yang malas. Saya pernah mengajar mahasiswa yang tidak punya motivasi. Saya juga pernah mengajar mahasiswa yang merasa hukum terlalu sulit.” Amerta hanya mendengarkan sambil menunduk. “Tapi saya belum pernah bertemu mahasiswa yang sampai mengajukan cuti hanya karena melihat nama dosen pembimbingnya.” Wajah Amerta langsung memanas. “Itu bukan karena Bapak saja, Pak. Keadaan keluarga saya juga memang sedang sulit.” “Tapi tetap saja. Saya tidak akan melepaskan kamu begitu saja. Saya tidak akan membiarkan lulusan Universitas Cakrawala bingung dengan hukum dasar.” Amerta tersenyum canggung. “Saya memang masih banyak kurangnya, Pak.” “memang, akhirnya kamu sadar juga. Karena itu akan diperbaiki. Dan saya akan memastikan otak kamu diisi dengan benar.” Amerta hanya mengangguk patuh. Cara pria itu berbicara terdengar sangat tenang dan logis, tetapi entah kenapa seperti vonis yang tidak bisa dibantah. “Kamu akan membaca lebih banyak.” “Iya, Pak.” “Kamu akan menulis lebih banyak.” “Iya, Pak.” “Kamu akan belajar berpikir seperti sarjana hukum.” “Iya, Pak.” “Kamu juga akan ikut saya ke pengadilan beberapa kali.” Langkah Amerta sedikit melambat. “Ke pengadilan, Pak?” “Tentu.” Amerta tampak ragu, tetapi tetap sopan. “Kalau boleh tahu, untuk apa, Pak?” “Supaya melihat praktik hukum secara langsung. Kenapa? Kamu takut?” Amerta hanya terkekeh hambar. “Tepat karena kamu takut, maka kamu harus melihatnya langsung.” “Iya, Pak.” Adiguna tampak cukup puas dengan jawaban itu. “Selain itu,” lanjutnya santai, “Tentang makanan juga, kamu masaklah makanan sederhana. Khas Indonesia saja, jangan yang aneh-aneh.” Amerta hanya mengangguk pelan. “Saya akan berusaha, Pak.” “Bagus.” Mereka akhirnya sampai di sebuah lapangan kecil yang berada tidak jauh dari jalan utama. Matahari sudah hampir tenggelam sepenuhnya. Cahaya jingga menyinari rerumputan dan dinding-dinding rumah sederhana di sekitar mereka. Di kejauhan, beberapa ibu-ibu yang sedang duduk di warung tampak terus mengintip ke arah mobil hitam mewah yang terparkir sendirian di sana. Mobil itu terlihat sangat mencolok. Sebuah Mercedes-Benz S-Class hitam mengilap. Terlalu mewah untuk lingkungan seperti ini. Bahkan beberapa anak kecil berdiri di dekat lapangan sambil berbisik-bisik penasaran. Adiguna berhenti di samping mobil. Amerta ikut berhenti. Jantungnya kembali berdegup tidak nyaman. Pria itu lalu menundukkan tubuhnya sedikit hingga posisi wajah mereka sejajar. Dan itu justru membuat Amerta semakin gugup. “Besok pagi…..” “Iya, Pak.” “Datang ke Apartemen Arkananta Residence.” Amerta mengangguk cepat. “Lantai paling atas.” Amerta tampak bingung. “Paling atas, Pak?” “Penthouse.” Amerta langsung terdiam. Ia bahkan belum pernah masuk ke apartemen mewah, apalagi penthouse. Adiguna mengeluarkan sebuah kartu nama dari dompetnya lalu menyerahkannya. “Kartu ini berikan kepada satpam.” Amerta menerimanya dengan kedua tangan. “Baik, Pak.” “Nanti mereka akan mengantar kamu langsung ke unit saya.” “Iya, Pak.” “Kode akses akan saya kirim melalui pesan.” “Iya, Pak.” “Kali ini dibalas, jangan abaikan pesan saya.” Amerta langsung menegang. “Baik, Pak. Maaf kalau sebelumnya saya terlambat membalas.” “Jangan tidak sopan lagi.” “Iya, Pak.” Sementara Adiguna justru terkekeh. Terkekeh sungguhan. Mungkin pertama kalinya Amerta melihat pria itu tampak benar-benar terhibur. “Bagus.” Amerta berkedip. “Apa yang bagus, Pak?” “Seperti ini.” Amerta menatapnya bingung. “Menurut.” Amerta langsung menunduk dan mengangguk cepat. “Iya, Pak.” Adiguna mengangkat tangannya lalu memegang puncak kepala Amerta pelan seperti seseorang yang sedang menahan diri tidak memecahkan kepalanya. “Besok jangan terlambat. Dan bersiaplah otak kamu yang kosong ini akan saya isi sampai tumpah tumpah, kamu tidak akan bodoh lagi.” “Iya, Pak.” “Nah. Begitu.” Sebelum Amerta sempat mengatakan apa pun lagi, seorang sopir berseragam hitam sudah membukakan pintu belakang mobil. “Silahkan, Pak. Tuan besar sudah menunggu di rumah.” Adiguna mengangguk lalu masuk ke dalam kendaraan mewah itu tanpa tergesa-gesa. Sebelum pintu tertutup, pria itu masih sempat menatap Amerta sekali lagi. “Selamat malam, Amerta.” “Selamat malam, Pak.” Pintu mobil tertutup. Mesin menyala. Beberapa detik kemudian Mercedes hitam itu melaju meninggalkan lapangan dan menghilang di ujung jalan. Amerta berdiri sendirian sambil menatap arah mobil yang sudah tidak terlihat lagi. Lalu perlahan ia menarik napas panjang. Bagaimana ini? Besok pagi ia harus datang ke apartemen seorang profesor yang mengintimidasinya, membimbing skripsinya, mengajaknya ke pengadilan, menyuruhnya memasak setiap hari, dan entah kenapa tampak sangat menikmati kenyataan bahwa dirinya tidak bisa kabur lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN