Semakin Erat

2245 Kata
“Walah, saya sampai tidak tahu kalau Mas Adiguna sekarang menjadi dosen besar di Universitas Cakrawala. Saking jarangnya kita berkabar,” ucap Sutrisno kepada Adiguna. “Iya, Pak,” jawab Adiguna dengan suara sopan. “Terakhir kita komunikasi memang sudah cukup lama. Ayah saya yang meminta saya pulang ke Indonesia. Awalnya saya masih mempertimbangkan beberapa perkara yang sedang berjalan di luar negeri, tetapi setelah dipikirkan lagi, saya rasa tidak cukup jika hanya bekerja sebagai advokat dan menangani klien. Ilmu hukum tidak boleh berhenti di ruang sidang saja. Ada bagian yang harus disalurkan di ruang kelas, terutama kepada mahasiswa yang kelak akan membawa wajah hukum negeri ini.” Sutrisno mengangguk-angguk dengan wajah semakin bangga. “Ya Tuhan, pemikiran orang pintar memang beda ya, Mas. Kalau saya mah orang tua begini pikirannya sederhana saja. Anak cucu bisa sekolah tinggi, bisa kerja baik, bisa hidup lebih layak dari orang tuanya, itu sudah bersyukur sekali. Makanya waktu Teteh masuk Hukum, saya senang bukan main. Saya pikir, siapa tahu nanti dia bisa jadi orang hukum hebat seperti keluarga Kertana.” Adiguna menurunkan pandangan sesaat, lalu tersenyum tipis dengan sopan. “Setiap orang punya jalannya sendiri, Pak. Tidak semua mahasiswa hukum harus menjadi hakim, jaksa, advokat, atau akademisi. Tetapi semua yang memilih hukum seharusnya memahami bahwa hukum bukan sekadar pasal. Hukum itu nalar, keberanian mengambil posisi, dan tanggung jawab terhadap akibat dari setiap argumen yang dibuat.” Dari dapur, Amerta mendengar kalimat itu dengan wajah yang semakin pucat. Ia sedang mencuci sayuran di dekat wastafel, tetapi pikirannya sama sekali tidak berada di sana. Bu Rahma yang sedang mengiris bawang di sampingnya menyenggol lengan Amerta pelan. “Teteh, kenapa dari tadi mukanya kayak lihat setan? Itu dosen kamu ganteng pisan, lho. Guru besar pula. Mamah sampai kaget. Harusnya kamu ikutan seger ih. Kenapa?” “Nggak apa-apa, Mah. Teteh cuma capek habis kerja.” “Senyum atuh, Teh. Ini berkah pisan. Kenapa malah murung gini ah. Padahal kalau Mamah kuliah terus pembimbingnya ganteng begitumah juga pasti semangat.” Amerta menggigit bibir bawahnya. Ia ingin sekali mengatakan kepada ibunya bahwa guru yang dianggap sebagai berkah itu adalah alasan utama ia ingin cuti. Tapi tidak mungkin, apalagi Ibu dan kakeknya malah bersuka cita dengan fakta pembimbing skrispinya adalah Adiguna sendiri. “Jangan bengong. Potong cabainya. Bapak sama Alisa bentar lagi pulang.” Seolah dipanggil oleh kalimat itu, suara pintu pagar terdengar dari luar, disusul langkah kaki dan suara Alisa yang cerewet bahkan sebelum masuk rumah. “Mah! Aku pulang! Bapak tuh jalannya lama banget, masa beli telur aja pake nawar dulu sama mang sayur!” “Biar murah, Lis,” sahut Mulyono dari luar dengan suara lelah namun sabar. “Seribu dua ribu juga uang. Kamu nanti kalau sudah bayar uang sekolah baru tahu rasanya.” Ketika Mulyono dan Alisa masuk ke ruang tamu, Kakek Sutrisno langsung berdiri dengan wajah berseri-seri. Ia tampak bangga sekali seolah sedang memperkenalkan tamu negara kepada keluarganya sendiri. “Eh, Bapa ada tamu?” Tanya Mulyono. “Nah, Mulyono, sini. Ini Mas Adiguna. Cucu dari Pak Patria Kertana, majikan Aki. Ini cucunya sekarang sudah jadi guru besar hukum di Universitas Cakrawala, bahkan tahu gak? Beliau pembimbingnya si Teteh, memang inilah namanya takdir.” Mulyono yang masih memegang kantong plastik berisi telur langsung terlihat gugup. “Oh iya ‘kah? Mas Adiguna perkenalkan saya Mulyono, bapaknya Amerta. Maaf sekali rumah kami begini adanya, sederhana. Terima kasih sudah mau datang jauh-jauh ke sini untuk membantu anak saya.” Amerta melihat seluruh anggota keluarganya sanngat antusias, bahkan Alisa juga yang memperkenalkan diri. bahkan dengan kurang ajarnya Alisa menanyakan umur, sebab tidak percaya kalau masih umur 38 tahun sudah menyandang gelar professor. Sampai-sampai kakek dan ayahnya menegur Alisa. “Maaf, ya. Agak susah di rem mulutnya, Mas,” ucap Mulyono sembari mendorong Alisa supaya pergi dari sini. “Mas makan malam disini ‘kan?” “Harus disini dong. Iya ‘kan, Mas?” tanya Sutrisno menatap sambil memohon. Adiguna menatap ke arah dapur, tepat ketika Amerta tanpa sengaja mengangkat wajah. Tatapan mereka bertemu hanya satu detik, tetapi cukup membuat tangan Amerta hampir salah memotong cabai. Pria itu tetap tenang, sementara Amerta langsung membuang pandang ke arah wajan seolah minyak di dalamnya jauh lebih menarik daripada wajah dosennya sendiri. “Kalau tidak merepotkan, saya akan ikut makan malam,” ucap Adiguna akhirnya. “Loh, ya nggak merepotkan, Mas,” jawab Bu Rahma cepat. “Justru senang. Jarang-jarang ada tamu penting datang ke rumah begini. Makanannya sederhana saja ya, masakan rumahan.” “Saya menyukai masakan rumahan,” kata Adiguna. “Sudah lama tidak memakannya, Ibu dan Ayah sangat sibuk hingga jarang di rumah. Eyang sekalipun masih banyak kegiatannya.” Kakek Sutrisno langsung tersenyum bangga. “Nah, kalau soal masak, cucu saya ini jagonya, Mas. Dari kecil senangnya di dapur. Dulu malah maunya sekolah masak, Culinary Art katanya. Tapi ya saya arahkan ke hukum karena saya pikir masa depannya lebih luas. Meski begitu, masakannya tetap enak. Kue-kue buatannya juga sering laku kalau dititipkan ke tetangga.” “Begitu?” tanya Adiguna. Suaranya terdengar dekat dengan nada yang tidak bisa Amerta baca. “Iya, Mas,” jawab Sutrisno tanpa ragu. “Kalau soal hukum mah memang masih harus dibimbing. Tapi kalau soal dapur, Teteh ini telaten. Makanya saya yakin kalau dia dibimbing orang yang tepat, belajar hukum juga bisa telaten begitu.” Adiguna mengalihkan pandangan ke arah dapur lagi. Kali ini tatapannya jatuh tepat kepada Amerta yang sedang berdiri kaku di samping kompor. “Kalau begitu, saya jadi tidak sabar mencicipi masakan Amerta.” Amerta memaksakan senyum canggung. “Se-semoga cocok, Pak,” ucap Amerta akhirnya. *** Di meja makan sederhana itu, berbagai hidangan khas Sunda tersaji dengan hangat. Ada tumis genjer dengan bawang putih yang harum, sayur asem yang masih mengepul dari panci, ikan nila goreng yang renyah, sambal dadak yang baru saja diulek oleh Bu Rahma, tahu goreng, tempe garit, serta lalapan segar yang ditata rapi di atas piring besar. “Mas Adiguna, mangga dicicipi dulu,” ujar Bu Rahma sambil tersenyum sopan. “Masakannya sederhana saja. Mudah-mudahan cocok di lidah.” Semua mata langsung tertuju pada Adiguna. Pria itu mengambil sendok dengan tenang. Ia mencicipi sayur asem terlebih dahulu, lalu sedikit tumis genjer dan ikan goreng. Tidak ada perubahan ekspresi berarti di wajahnya. Tetap datar, tetap tenang, dan tetap sulit ditebak seperti biasa. Namun di dalam pikirannya sendiri, Adiguna harus mengakui sesuatu. Masakan itu lumayan, bahkan jauh lebih baik dari yang ia bayangkan. Anak yang kabur dari bimbingannya ini ternyata memang punya kemampuan di dapur. Ia mengunyah perlahan sebelum akhirnya mengangguk kecil. “Enak.” Hanya satu kata tetapi seketika wajah Bu Rahma langsung berseri-seri. “Puji Tuhan,” ucapnya lega. “Saya khawatir tidak cocok.” “Tidak,” jawab Adiguna. “Saya justru jarang menemukan masakan rumahan seperti ini sekarang.” Barulah semua orang mulai ikut makan. Suasana perlahan menjadi lebih santai. Alisa yang sedari tadi penasaran beberapa kali melirik Adiguna diam-diam, sementara Mulyono mulai bercerita tentang pekerjaannya dan Bu Rahma sesekali menawarkan tambahan lauk. Hanya Amerta yang sejak tadi berharap dirinya bisa menghilang ke dimensi lain. Sayangnya Tuhan tampaknya belum mengabulkan doa tersebut. “Mas Adiguna,” panggil Sutrisno setelah beberapa saat. “Saya mau bertanya sesuatu.” Adiguna mengangkat pandangannya. “Tentu, Pak.” “Saya sebenarnya masih merasa tidak enak. Apa Mas benar-benar tidak keberatan membimbing Teteh?” Sendok Amerta hampir jatuh. Jangan. Jangan bahas itu. Tolong jangan. “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Pak.” “Maksudnya?” “Amerta memang mahasiswa bimbingan saya. Karena itu saya bertanggung jawab terhadap perkembangan akademiknya. Kalau ada mahasiswa yang belum memahami materi dengan baik, tugas saya bukan meninggalkannya.” Sutrisno tampak semakin senang. “Nah, itu dia yang saya suka dari orang-orang keluarga Kertana. Bertanggung jawab.” Mulyono yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara. “Kalau begitu saya mau bertanya juga, Mas.” “Silakan.” “Amerta sudah terlanjur mengajukan cuti. Itu bagaimana ya?” “Menurut saya cutinya tidak perlu dibatalkan.” Kali ini bukan hanya Amerta yang terkejut. “Tidak perlu dibatalkan?” ulang Bu Rahma. “Ya.” “Kenapa?” “Karena dengan cuti, Amerta justru memiliki waktu lebih banyak.” Amerta mulai merasa tidak enak. Sangat tidak enak. Dan instingnya mengatakan bahwa pria di depannya sedang menyusun sesuatu. “Selama masa cuti,” lanjut Adiguna tenang, “Amerta tetap bisa belajar bersama saya. Bahkan lebih efektif dibanding saat kuliah aktif. Tidak ada jadwal kelas. Tidak ada tugas mata kuliah lain. Fokusnya hanya satu.” “Skripsi?” tanya Sutrisno. “Skripsi dan pemahaman dasar hukumnya.” Senyum di wajah Sutrisno langsung melebar. “Nah itu bagus!” “Setiap hari?” tanya Bu Rahma. “Atau bagaimana ya teknis belajarnya, Mas? Kami belum paham.” “Setiap hari bertemu diluar kelas. Jadi private hanya saya dan Amerta saja.” Amerta langsung tersedak air minumnya. Uhuk! Uhuk! Uhuk! Alisa buru-buru menepuk punggung kakaknya. “Teh, santai dong.” Bagaimana bisa santai? Setiap hari? Pria ini bahkan lebih menyeramkan daripada dosen penguji. “Pak,” sela Amerta akhirnya. “Saya kerja. Saya kerja di bakery.” Adiguna mengangguk pelan. “Toko La Douce Bakery?” Amerta membeku. “Bapak tahu?” “Ya.” “Dari mana?” “Karena toko itu baru diakuisisi oleh adik saya dua minggu lalu.” Kini bukan hanya Amerta yang terdiam. Seluruh meja makan ikut terdiam dan saling bertukar pandang. Informasi itu jelas tidak diduga oleh siapa pun. “Diakuisisi?” ulang Mulyono. Adiguna mengangguk. “Adik saya membeli bisnis tersebut sebagai bagian dari ekspansi usaha kuliner yang sedang ia jalankan.” Amerta merasakan firasat buruk. Sangat buruk. Dan ternyata firasat itu tidak meleset. “Sebelumnya dia bilang,” lanjut Adiguna, “beberapa bulan ke depan toko itu akan direnovasi total. Akan ada konsep baru. Sebagian staf kemungkinan diganti.” Amerta menatap meja makan. Ia memang mendengar rumor itu dan bahkan beberapa pegawai sudah mulai membicarakannya. Namun mendengar konfirmasi langsung membuat dadanya terasa tidak nyaman. “Adik saya juga berencana mendatangkan pastry chef dari Prancis.” Suasana kembali hening. “Jadi menurut saya,” lanjut Adiguna, “akan lebih baik jika Amerta mulai memikirkan alternatif lain.” Sutrisno langsung mengangguk. “Nah! Tuh kan. udah Aki bilang jangan bekerja disana. Sudah, tugas kamu fokus saja sekarang. Perdalam materi dengan Mas Adiguna ini.” “Aki...” “Kamu dengar sendiri, Teh. Sudah jangan memikirkan apapun lagi. Bapak masih bisa sekolahin Lisa, kamu jangan ikutan mikir,” ujar Mulyono. “Tapi—” “Lagipula kalau mau belajar sama Mas Adiguna setiap hari, kerja juga bakal susah.” Ibunya ikut menimpali. Amerta menggigit bibir. Ia merasa sedang dikeroyok dari segala arah. Dan yang paling menyebalkan adalah semua orang tampak setuju, bahkan ibunya, ayahnya, dan Alisa yang masih SMP. “Menurut saya ada solusi lain,” ujar Adiguna tiba-tiba. “Sebenarnya bukan Solusi, tapi opsi apabila Amerta memang menginginkan uang tambahan selama masa cuti.” Semua orang kembali menoleh kepadanya. “Solusi apa, Mas?” tanya Mulyono. “Saat ini koki pribadi saya sedang pulang kampung karena alasan keluarga.” Amerta langsung punya firasat sangat buruk. “Saya membutuhkan seseorang untuk mengurus dapur apartemen sementara waktu.” Tidak. Jangan. Tolong jangan. “Karena Amerta memiliki kemampuan memasak yang baik, saya rasa ia bisa mengisi posisi tersebut.” Dan tepat. Itulah yang paling ia takutkan. Rasanya seperti melihat jebakan terbuka lebar tepat di depan mata tanpa bisa menghindar. “Sekalian,” lanjut Adiguna tenang seolah sedang membahas cuaca sore hari, “saya juga bisa mengawasi perkembangan belajarnya secara langsung. Dan tenang saja, gaji yang dibayarkan tiga kali lipat dari gaji Amerta sekarang. Cukup datang ke apartemen saya setiap hari.” Mata Amerta membesar. Sutrisno langsung terlihat tertarik. “Nah! Itu malah lebih bagus!” “Betul juga,” sahut Bu Rahma. “Kerjanya jelas,” tambah Mulyono. “Sekalian juga sambil memperdalam apa yang Teteh gak paham.” “Dan dekat sama pembimbing,” kata Alisa. “Jadi aku gak usah dengerin lagi keluhan Teteh yang bahkan lupa pasal, hehehehe.” Amerta menatap mereka satu per satu dengan perasaan dikhianati. Ia benar-benar tidak mengerti keluarga macam apa yang justru mendukung rencana seperti ini. Tidak ada satu pun yang tampak berada di pihaknya. “Bapak, Teteh belum bilang setuju,” rengeknya pada sang Ayah. “Tapi ini kesempatan bagus, Teh,” ujar Bu Rahma. “Aku masih mau kerja di bakery.” “Bakery yang mau renovasi itu?” tanya Sutrisno. “Lama-lama juga kamu dipecat.” Amerta terdiam. “Lagian kalau belajar sama Pak Adiguna tiap hari bukannya bagus?” sambung Alisa. Amerta perlahan mengangkat pandangan. Dan untuk pertama kalinya sejak makan malam dimulai, tatapannya bertemu langsung dengan Adiguna. Pria itu duduk tenang, sangat tenang, bahkan terlalu tenang, seolah ia sudah tahu sejak awal bagaimana percakapan ini akan berakhir. “Bagaimana, Amerta?” Suara Adiguna terdengar rendah. Tenang. Tegas. Dan sama sekali tidak memberi ruang untuk kabur. Amerta menelan ludah. Lalu ia menatap keluarganya yang jelas-jelas sudah mendukung rencana tersebut. Pada akhirnya, ia hanya mampu mengangguk pelan. “Iya... Pak.” Sutrisno langsung tersenyum lebar, Bu Rahma terlihat lega dan Mulyono tampak puas. Bahkan Alisa ikut bersorak kecil. Hanya Amerta yang merasa masa depannya baru saja dijual secara legal di meja makan. Dan ketika ia kembali menatap Adiguna, pria itu hanya mengangkat gelas tehnya pelan. Sudut bibirnya bergerak sangat tipis, nyaris tidak terlihat, namun cukup untuk membuat Amerta sadar bahwa pria itu baru saja memenangkan sesuatu. Dan Amerta tidak tahu betapa suram hidupnya akan menjadi setelah berurusan dengan Adiguna Maharaja Kertana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN