Kesadarannya perlahan pulih. Amerta merasakan silaunya lampu yang menusuk kelopak matanya bahkan sebelum ia benar-benar membuka mata. Aroma antiseptik yang menyengat memenuhi hidungnya, bercampur dengan bau obat-obatan.
Amerta membuka matanya perlahan lalu langsung menoleh ke kanan dan kiri. Langit-langit putih, tirai hijau yang menutupi sebagian ruangan, lemari obat di sudut ruangan. Ia langsung mengenali semuanya dan spontan menghela napas panjang. Benar, ia berada di klinik kampus. Kesadaran itu membuatnya sedikit lega, tetapi hanya sampai ingatannya mulai kembali satu per satu.
“Ya ampun...”
Amerta buru-buru bangun setengah duduk, tetapi gerakan itu membuat kepalanya kembali berdenyut sehingga ia langsung memegangi pelipisnya. Ia masih berusaha mengingat apa yang terjadi sebelum akhirnya berada di sini ketika pintu ruangan terbuka dan dua sosok yang sangat dikenalnya masuk dengan tergesa-gesa.
“Woylah, bangun juga dia.”
“Gila ya lo, nyari masalah banget.”
Rumi dan Arthika hampir bersamaan.
“Lo bangun juga akhirnya!” seru Rumi.
“Syukur deh,” sambung Arthika. “Gue kira lo bakal tidur sampai besok pagi.”
Amerta mengerjapkan mata beberapa kali sebelum akhirnya bertanya pelan. “Kenapa gue di sini?”
Rumi dan Arthika saling pandang sesaat sebelum menjawab. “Lo pingsan pas abis ngobrol sama Pak Adiguna.”
Ingatan itu langsung menghantam kepalanya tanpa ampun. Daftar dosen pembimbing. Ancaman tentang malam di hotel. Pasal-pasal yang disebutkan Adiguna. Tatapan tajam pria itu. Dan kalimat yang membuat hidupnya terasa berakhir saat itu juga. Pembimbing satu. Astaga, kenapa hidupnya harus seburuk ini?
“Ya Tuhan...” gumamnya pelan.
“Nah, akhirnya ingat,” kata Rumi.
“Lo harus tau… gue takut banget tadi… Pak Adiguna itu… nyeremin banget.”
“Gue paham sih,” ucap Arthika. “Tadi gue nelpon lo dimana, yang angkat malah Pak Adiguna, alhasil kita kesini dan ternyata beliau masih ada disini.”
“Loh, dia yang bawa gue kesini?” Amerta semakin kaget.
“Beliau juga ngomong soal malam itu,” lanjut Rumi. “Dan ya… minta kita diem jangan nyebar rumor yang aneh.
Tubuh Amerta langsung menegang. “Ngancem juga?”
“Kurang lebih sama kayak yang beliau bilang ke lo. Pokoknya jangan sampai ada yang tahu. Jangan sampai jadi gosip. Jangan sampai ada yang ngomongin.”
Arthika mengangguk pelan. “Dan jujur aja, Ta. Cara beliau ngomong serem banget. Gue yang nggak salah apa-apa aja ikut takut. Tapi emang kita gak mau cari masalah, lagian siapa juga yang mau nyebarin berita itu, yang ada lo kena sial.”
Amerta menelan ludah. “Gue takut banget, guys…. Mana dia pembimbing gue dan bilang bakalan… didik gue. intinya gue yakin skripsi ini gak akan mudah deh.”
“Mampus.” Arthika terkekeh.
“HEI!”
“Ya terus harus bilang apa?” protes Rumi. “Selamat datang di neraka akademik?”
Amerta menjatuhkan kepalanya ke bantal. “Kenapa hidup gue begini sih?”
“Terus sekarang lo mau gimana?” tanya Arthika. “Gak ada jalan lain ‘kan?”
Amerta terdiam cukup lama. Semakin dipikirkan, semakin tidak masuk akal baginya untuk menjalani bimbingan dengan Adiguna. Bukan hanya karena kejadian hotel, tetapi juga karena pria itu jelas tidak menyukai kualitas akademiknya. Baru lima menit bertemu saja ia sudah dikuliti habis-habisan. “Gue mau cuti.”
“Hah?” seru Rumi.
“Serius.”
“Lo gila?” Arthika menambahkan.
“Gue serius.”
Amerta menarik napas panjang. “Kemarin ada kenalan yang nawarin kerja di toko baking. Awalnya gue masih mikir-mikir. Tapi sekarang kayaknya lebih baik gue kerja dulu aja.”
“Karena Pak Adiguna?” tanya Arthika.
“Karena banyak hal sih sebenernya.” Wajah Amerta perlahan berubah serius. “Kondisi rumah lagi nggak bagus. Ayah masih nganggur. Ibu jahitannya masih sepi. Alisa bentar lagi masuk SMA. Biayanya pasti gede. Gue juga nggak enak kalau cuma mikirin skripsi terus sementara di rumah lagi susah.”
Rumi dan Arthika langsung diam. Mereka tahu kondisi keluarga Amerta memang sedang tidak baik. Selama ini sahabat mereka itu jarang mengeluh, tetapi mereka tahu berapa keras ibunya bekerja dan berapa sering ayahnya gagal mendapat pekerjaan tetap.
“Kalau gue kerja dulu setahun,” lanjut Amerta pelan, “gue bisa bantu orang tua. Bisa bantu biaya sekolah Alisa juga. Terus nanti kalau Pak Adiguna beneran pindah ke luar negeri, gue balik lagi, lanjut kuliah, terus minta ganti pembimbing.”
“Tapi itu cuma rumor,” kata Arthika.
“Ya siapa tahu bener.”
“Kalau nggak bener?”
Amerta terdiam. Ia tidak punya jawaban. Namun bayangan harus duduk berdua dengan Profesor Adiguna Maharaja setiap minggu membuat perutnya langsung mulas.
“Gue tetap mau kerja dulu,” ujarnya akhirnya. “Gue nggak sanggup kalau harus ketemu beliau terus. Apalagi beliau bilang bakal bikin gue paham hukum sampai akar-akarnya. Gue aja dengar itu udah mau pingsan.”
Arthika menghela napas panjang. “Kalau itu keputusan lo, gue dukung.”
“Gue juga,” sahut Rumi. “Tapi jangan ambil keputusan cuma karena takut.”
Amerta memandang kedua sahabatnya bergantian. Ia tahu mereka benar. Namun saat ini yang memenuhi kepalanya hanyalah wajah Profesor Adiguna Maharaja yang berdiri di bawah pohon sambil menyebut dirinya sebagai pembimbing satu. Dan entah kenapa, bagi Amerta, ancaman itu terasa jauh lebih menakutkan daripada menunda kelulusan satu tahun penuh.
***
Amerta memang bukan dari Kalangan menengah ke atas, bahkan bisa dibilang sekarang ini dalam kondisi ekonomi kurang baik juga. Amerta kuliah di kampus elite juga karena dorongan sang Kakek yang membiayainya juga dari gaji pensiunan. Selain karena insiden Pak Adiguna, Amerta merasa ini petunjuk dari Tuhan kalau ia harus cuti dulu.
Tapi, hal itu membuat Kakek Sutrisno tidak setuju, terlebih tinggal satu tahap lagi sang cucu lulus.
“Udah telat, Aki. Teteh udah ngajuin cuti,” ucapnya sore itu ketika baru saja pulang dari bakery tempatnya akan bekerja. “Si adek kan mau sekolah, Bapak sama Mamah juga usaha lagi sepi. Lagian kan kerja di toko bakery gak capek-capek amat, barusan abis perkenalan gimana aja kerjanya, ringan kok.”
Kakek Sutrisno mendengus. “Tapi kalau kamu sudah lulus jadi sarjana hukum, nanti pekerjaan yang didapatkan lebih layak dan juga gajinya lebih besar. Jangan khawatir masalah si adek mah. Kan Aki masih punya kebon kapol di kampung. Bapak kamu juga sekarang ngojeg tuh lumayan, dan dia ada niatan buat pulang kampung ngurus kebun disana sembari memperluas ladang.”
Belum sempat Amerta menjawab, sang Ibu keluar dari rumah membawakan nampan berisi teh hangat dan bolu ketan yang sudah dipanaskan. “Aku juga bingung ini, Pa, tahu-tahu si Teteh udah ambil cuti aja gak ada diskusi atau apapun, padahalmah si adek juga udah mau ke sekolah Negeri, asal nanti kuliahnya di Kampus Cakrawala, yang sama kayak si Teteh.”
“Tuh, Ibu kamu aja gak mempermasalahkan kamu bisa bantu atau enggak. Sok, jujur sama Aki, kamu teh ada masalah apa di kampus sampai harus cuti dulu?”
Bu Rahma memilih untuk kembali masuk ke dalam dan menjahit, menyerahkan semuanya pada sang Bapa Mertua yang memang mendukung anak-anaknya untuk tetap lanjut kuliah. Mereka memang dulunya tidak terlalu memikirkan Pendidikan, tapi Sutrisno sangat mengutamakannya sampai siap menanggung biaya kuliah cucunya. Katanya, untuk menaikan derajat keluarga.
“Aki masih bisa kok membayai kamu, coba bilang kenapa?”
Sebenarnya… malu mengatakan ini, terlebih cuti sudah diajukan, bahkan Amerta sudah menolak panggilan Adiguna dan mengiriminya pesan dengan sopan bahwa dirinya akan cuti dulu. Tapi lebih malu juga menyatakan kalau dirinya tidak sepintar itu walaupun kuliah di kampus ternama, bukan type yang mudah berbaur juga. Bahkan sampai bertanya-tanya apa yang menjadi kelebihannya? Di akademik juga pas-pasan.
“Aki… sebenarnya…. Um, bukan salah Aki. Cuma saja… Teteh tuh…. Aki inget kan dulu Teteh pernah mau jurusan yang Culinary Art? Tapi… um… Aki nyaranin buat ngambil jurusan Hukum.”
“Iya, ‘kan Aki bilang sebelumnya kalau Aki punya kenalan. Bukan kenalan sih sebenernya. Nih, Aki mau jujur aja. Dulu Aki itu Cuma sopir di Jakarta, mengabdi sama majikan yang dulunya Bapaknya Aki juga ngabdi sama beliau. Terus majikan Aki itu gagal ginjal, nah cocok sama punya Aki. Jadi Aki donorkan. Mereka itu bukan sembarangan orang, mereka dorong dan bantu Aki sampe jadi PNS. Kebetulan juga mereka orang-orang Hukum, jadi kamu bisa kerja sama mereka nantinya.”
Amerta terdiam, baru tahu cerita itu. Sebenarnya tahu kalau Kakeknya dulu adalah sopir, tapi tidak dengan donor itu.
“Ada sih kenalan Aki sewaktu kerja, tapi gak seberpengaruh orang yang jadi mantan majikan Aki. Kami masih berhubungan baik. Bahkan karena Aki menyumbangkan ginjal Aki, mereka sangat menghormati Aki. Sok, kamu bilang apa masalahnya sekarang.”
Dengan desakan sang Kakek, akhirnya Amerta pun menjelaskan bahwa dirinya selama ini kurang memahami jurusan Hukum, sulit masuk otak bahkan seringkali nilainya jelek. Sekalian juga Amerta minta maaf pada Kakeknya. Oh, tapi tentu tidak menyinggung tentang malam gila bersama dengan pria menakutkan itu. Hanya jujur pada bagian susah memahami Pelajaran di Fakultas Hukum.
Sutrisno menghela napas. “Kenapa gak bilang dari tadi? Gini atuh, mau gak les private?”
“Les private gimana?”
“Cucunya yang jadi majikan Aki itu orang hebat. Pasti dia mau bantu kamu belajar memahami apa yang belum kamu pahami. Lebih enak dan tidak terganggu seperti di kelas kan? kumaha?”
“Emang gak papa, Aki?”
“Ya gak papa, daripada kamu gak paham-paham. Gimana?”
Setelah direnungkan, Amerta pun mengangguk. Daripada ia menghadapi Adiguna dengan kepala kosong, lebih baik mempersiapkan diri bukan?
***
Untungnya, Amerta masih diizinkan untuk tetap bekerja di Bakery selama masa cuti. Jadi enam bulan ini akan ia pakai untuk les private dari orang hebat yang Kakeknya katakan, dan juga sembari melakukan pekerjaan yang juga hobby nya.
“Mbak, aku pulang dulu ya.”
Amerta melepaskan celemeknya lalu menggantungnya rapi di tempat biasa. Hari itu cukup ramai karena menjelang akhir pekan, sehingga toko bakery tempatnya bekerja tidak pernah benar-benar sepi sejak siang bahkan sudah habis hingga tutup lebih awal.
“Hati-hati, Ta!” teriak Mbak Susi dari dalam toko.
“Iya, Mbak!”
Amerta mengayuh sepedanya melewati trotoar yang sebagian sudah rusak, lalu masuk ke gang-gang kecil yang semakin lama semakin sempit.
Wilayah tempat tinggalnya bukan daerah yang bisa disebut nyaman oleh kebanyakan orang. Rumah-rumah berdempetan tanpa jarak, sementara kabel listrik menjuntai semrawut di atas kepala seperti sarang laba-laba raksasa.
Meski berada di lingkungan yang sederhana, rumah keluarganya sendiri sebenarnya cukup besar dibanding bangunan di sekitarnya. Kakek Sutrisno selalu mengatakan bahwa uangnya lebih banyak dihabiskan untuk membeli sawah, kebun, dan tanah di kampung halaman daripada membangun rumah mewah di kota.
“Rumah cukup buat berteduh mah cukup,” begitu kata lelaki tua itu setiap kali ditanya.
Sementara aset-asetnya justru tersebar di kampung. Ada sawah, ada kebun kapol, dan ada pula lahan yang dijaga oleh adik ayahnya.
Amerta terus mengayuh hingga akhirnya memasuki gang terakhir menuju rumahnya. Matahari mulai turun perlahan di ufuk barat, membuat cahaya keemasan menyelimuti deretan rumah sederhana di sepanjang jalan. Ia sudah membayangkan segelas teh hangat buatan ibunya dan suara televisi yang biasanya menemani Kakek Sutrisno di ruang tamu.
Namun ketika sepedanya berhenti di depan rumah, keningnya langsung berkerut. “Hah?”
Di dekat pintu masuk rumah, tergeletak sepasang sepatu pria berbahan kulit hitam yang mengilap. Merek itu pernah ia lihat di internet dengan harga yang cukup untuk membayar uang sekolah Alisa selama beberapa tahun.
Jantung Amerta langsung berdetak sedikit lebih cepat. Pikirannya segera teringat pada percakapan dengan Kakek Sutrisno beberapa waktu lalu. Jangan-jangan orang yang dimaksud kakeknya sudah datang.
Orang yang akan mengajarinya, cucu majikan lama Aki. Orang hebat yang selama ini terus disebut-sebut.
Amerta buru-buru memarkir sepedanya lalu masuk ke dalam rumah. Suara percakapan terdengar samar dari ruang tamu. Ada suara Kakek Sutrisno yang terdengar bersemangat, sesuatu yang cukup jarang terjadi akhir-akhir ini. Suara ibunya juga terdengar sesekali, penuh sopan santun seperti saat menerima tamu penting.
Amerta melangkah pelan menuju ruang tamu. Semakin dekat, semakin jelas suara percakapan yang terdengar dari dalam. Entah mengapa, ada perasaan aneh yang perlahan muncul di dalam dadanya.
“Aduh, merepotkan sekali jadi harus datang kemari,” kata Kakek Sutrisno.
“Tidak merepotkan sama sekali, Pak.”
Langkah Amerta langsung terhenti. Tubuhnya membeku di tempat ketika suara itu mencapai telinganya dengan jelas.
Tidak….. Tidak mungkin. Pasti hanya mirip.
Dengan jantung yang mulai berdetak tidak wajar, Amerta melangkah masuk ke ruang tamu. Kakek Sutrisno yang duduk di sofa langsung tersenyum lebar begitu melihatnya datang. Senyum itu terlihat begitu bangga hingga membuat Amerta semakin gugup.
“Nah, ini dia cucu saya, Mas.”
Pria yang duduk membelakangi itu perlahan berbalik.
Waktu seolah berhenti pada saat yang sama. Dunia mendadak sunyi hingga Amerta merasa tidak mampu mendengar apa pun selain detak jantungnya sendiri.
Prof. Dr. Adiguna Maharaja, S.H., M.H.
Dan pada detik itu juga, Amerta merasa seluruh rencana hidupnya baru saja hancur berkeping-keping.
“Bapak...”
Suaranya tercekat di tenggorokan. Ia bahkan tidak mampu menyelesaikan satu kata dengan benar karena terlalu terkejut. Seluruh tubuhnya terasa kaku seolah kehilangan kemampuan untuk bergerak.
Sementara itu, Adiguna menatapnya dengan tenang. Terlalu tenang hingga membuat Amerta semakin tidak nyaman. Tatapan pria itu seolah mengatakan bahwa pertemuan ini sama sekali bukan kebetulan.
Seolah sejak awal ia sudah mengetahui bahwa murid yang akan diajarinya... adalah Amerta Putri.