Chapter 1: Dunia Lain
Maya Astawiyana bertahan hidup selama bertahun-tahun hanya dengan mengandalkan kafein dan secercah harapan.
Pukul 05.30 pagi, saat ia membuka pintu kafe—tempatnya bekerja, awan masih diselimuti kegelapan. Dengungan pelan mesin kopi, aroma biji kopi yang baru dipanggang, serta bunyi klik yang akrab di telinga—telah menjadi bagian dari rutinitas yang membuatnya tetap berdiri tegak.
Ketika matahari mulai muncul di balik cakrawala, Maya sudah melayani belasan pegawai kantoran yang tampak lelah saat perjalanan menuju gedung pencakar langit kota yang bahkan dirinya sendiri tidak pernah berani membayangkan untuk masuk kesana.
Namun, entah mengapa hari ini terasa berbeda.
Untuk pertama kali dalam waktu yang cukup lama, Maya memiliki sesuatu yang benar-benar bisa ia nantikan.
Malam sebelumnya, setelah kelas selesai sang profesor memanggil. Maya sempat mengira ia akan mendapat teguran—mungkin karena nilainya menurun atau absensinya yang tidak menentu akibat pekerjaan dan kondisi sang adik.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Sang dosen tersenyum dan menyerahkan sebuah surat yang dicetak dengan kop universitas.
“Kami dengan senang hati memberitahukan bahwa … Anda terpilih untuk mengikuti program magang eksklusif tahun ini di Balakosa Enterprises ….”
Saat membaca kalimat itu, Maya merasa paru-parunya berhenti bekerja. Matanya berkedip berulang kali, menelusuri setiap kata seolah berharap menemukan kesalahan cetak. Namun, tidak. Balakosa Enterprises. Nama itu sangat megah hingga terasa seperti sebuah ilusi semata.
Perusahaan paling berpengaruh di ibu kota. Bahkan, menurut banyak orang—perusahaan itu paling berkuasa di seluruh nusantara. Sebuah kerajaan bisnis global yang dibangun di atas d******i, disiplin, dan reputasi yang nyaris sempurna.
Setiap tahun, Balakosa Enterprises hanya memberikan kesempatan magang untuk satu universitas pilihan. Dan tentu saja hanya satu posisi. Dan tahun ini, universitasnya lah yang terpilih.
Dari ratusan kandidat yang mendaftar—mereka biasanya memilih kandidat yang memiliki riwayat akademik unggul, nama keluarga terpandang, atau koneksi yang jauh lebih kuat. Tetapi, entah mengapa ini justru Maya Astawiyana yang berhasil mendapatkannya. Seonggok manusia yang hidupnya dirundung susah.
Sang profesor tersenyum saat melihat ekspresi tidak percaya di wajahnya.
“Terkadang, kerja keras mampu mengalahkan garis keturunan. Kesempatan ini memang milikmu,” ucap sang profesor, tidak bisa menyembunyikan senyumnya.
Maya hampir tak bisa berkata apa-apa.
Ia pulang dengan tubuh gemetar dan air mata sudah mengalir sebelum pintu kontrakan sempat tertutup di belakang. Jamil menunggunya di sofa. Wajah sang adik tampak pucat dan gelang identitas rumah sakit masih melingkar di pergelangan tangan setelah pemeriksaan yang baru saja dijalani hari itu. Namun, begitu Maya menceritakan kabar tersebut, senyum lebar langsung menghiasi wajahnya.
Senyum paling tulus yang pernah Maya lihat dalam beberapa bulan terakhir.
"Lihat, ‘kan?" kata Jamie. "Kakak itu luar biasa!"
Maya menggeleng pelan.Tidak, dia tidak ajaib. Dia hanya putus asa. Tetapi, kesempatan ini … merupakan sebuah keajaiban yang tak pernah dia sangka.
***
Keesokan paginya, Maya memindai penampilannya di depan cermin selama berkali-kali. Blus yang dia kenakan adalah pakaian bekas, tetapi masih terlihat cukup rapi. Celana hitamnya merupakan salah satu dari dua pasang celana formal yang dia punya untuk kelas dan acara penting. Sepatunya biasa saja, namun masih layak pakai, sementara rambutnya disanggul serapi mungkin.
Dia tidak punya mobil. Karena itu, dia menuju perusahaan Balakosa dengan MRT. Sepanjang perjalanan, dadanya terasa sesak. Semua orang yang dia lihat tampak mewah dan berkelas. Mereka lebih percaya diri, cocok ada di tempat seperti Balakosa Enterprises.
Namun, ia terus mengulang satu kalimat dalam hati.
‘Aku berhasil mendapatkan kesempatan ini.’
‘Aku pantas ada di sana.’
Dia terus mengulang kalimat tersebut dalam hati saat lift membawa dirinya semakin tinggi, meninggalkan MRT menuju dunia yang selama ini hanya bisa dilihat dari kejauhan.
Ketika sampai ke lobi Balakosa Enterprises, Maya merasa seolah telah melangkah ke dunia lain. Area resepsionisnya terasa dingin dan sempurna. Hamparan kaca dan desain minimalis yang nyaris tidak memiliki kehangatan sedikit pun menciptakan kesan elegan sekaligus mengintimidasi.
Orang-orang bersetelan mahal berjalan melintasi lantai mengkilap tanpa suara, seakan mereka adalah bayangan yang membawa miliaran rupiah di pundaknya.
Maya mendekati meja resepsionis dengan langkah hati-hati. Resepsionis itu bahkan tidak langsung menatapnya.
"Ya?" tanya resepsionis itu, singkat.
"Saya ... uhm ... Maya Astawiyana. Saya datang untuk program magang," jawab Maya, suaranya jauh lebih pelan. Tepatnya, minder dengan situasi tersebut.
Pandangan wanita itu memindai penampilan Maya dari atas ke bawah. Seolah keberadaan Maya adalah gangguan yang tidak diinginkan.
"Tunggu sebentar."
Dia mengangkat telepon, mengucapkan sesuatu dengan suara pelan, lalu kembali meletakkannya.
"Anda akan langsung menuju lantai eksekutif. Seseorang akan menemui Anda di luar ruangan CEO."
Maya berkedip.
"Ruangan ... CEO?"
Senyum tipis wanita itu terasa mengejek.
"Ya, tim eksekutif Pak Balakosa, lebih suka bertemu langsung dengan para peserta magang. Anda sudah ditunggu."
Maya hanya bisa mengangguk. Kemudian dia berjalan menuju lift berikutnya. Dengan setiap langkah yang diambil, perasaan gugup di dadanya semakin berat. Saat pintu lift terbuka, dia merasakan atmosfer yang asing. Beda sekali dengan dunianya.
Tempat itu sunyi, tenang dan tentu … terasa dingin.
Dinding-dindingnya perpaduan antara kaca berwarna abu dengan sentuhan hitam matte yang elegan. Setiap sudut ruangan memancarkan kekayaan dan kekuasaan tanpa perlu ditunjukkan.
Karpet tebal menutupi lantai sehingga langkahnya tidak menimbulkan suara sedikitpun.
Napas Maya tertahan ketika dia melihat lorong panjang yang luas. Di sepanjang lorong itu berdiri deretan pintu kaca buram dengan papan nama minimalis beraksen emas.
Lalu di ujung lorong, dia melihat sepasang pintu kaca besar. Tertulis nama—Damian Balakosa - CEO.
Jantung Maya langsung berdegup cepat. Tentu saja, dia tidak akan bertemu Damian Balakosa secara langsung. Mungkin belum.
Kemungkinan besar hanya sekretaris atau asistennya. Namun, hanya dengan mengetahui bahwa pria itu ada di balik pintu tersebut sudah cukup membuat lututnya terasa lemas. Semua orang mengenal namanya. Pria berusia tiga puluh lima tahun. Seorang miliarder yang tak tersentuh.
Damian Balakosa adalah tipe pria yang tidak perlu meninggikan suara untuk menghancurkan seseorang. Dengan visi yang luar biasa dan ketegasan yang nyaris kejam, ia berhasil mengubah perusahaan logistik kecil menjadi korporasi multinasional yang mendominasi pasar.
Dia jarang terlihat di hadapan publik. Hampir tidak pernah menginzinkan adanya wawancara. Dan dia hanya muncul di depan kamera jika benar-benar diperlukan. Media tidak pernah berhasil memahami pria itu sepenuhnya. Bahkan, para pesaingnya pun lebih berhati-hati.
Damian Balakosa bagaikan hantu yang dibungkus lapisan baja. Dan sekarang, Maya berada di lantai yang sama dengan pria itu.
Seorang wanita berambut bob rapi dengan sepatu hak tinggi yang terdengar mengintimidasi muncul dari balik meja resepsionis.
"Maya Astawiyana?" tanya wanita itu sambil memegang papan klip.
"Ya, Bu," jawab Maya cepat.
"Ikuti saya."
Wanita itu langsung berbalik tanpa menunggu. Maya buru-buru menyusul di belakangnya. Mereka melewati sebuah lorong sebelum memasuki ruang tunggu pribadi yang ada tepat di depan kantor CEO. Ruangan itu tampak sempurna. Sofa kulit yang rendah. Meja kopi yang terlihat nyaris tak pernah digunakan. Jendela besar yang menyuguhkan pemandangan seluruh kota. Maya berdiri canggung di dekat dinding.
"Hari ini Anda akan menerima arahan dari salah satu asisten eksekutif Pak Damian," jelas wanita itu sambil menyerahkan setumpuk dokumen kerahasiaan yang cukup tebal.
"Sementara menunggu, baca ini. Pak Damian tidak mentoleransi kebocoran informasi dalam bentuk apa pun. Anda diharapkan mematuhi seluruh kebijakan kerahasiaan perusahaan mulai saat ini. Tanda tangani semuanya."
Setelah mengatakan itu, wanita tersebut pergi begitu saja. Maya perlahan duduk di sofa. Tangannya sedikit gemetar ketika mengambil pena dari dalam tas.
Tanpa sadar, pandangannya kembali terarah ke pintu kantor di seberang ruangan. Di balik pintu itu … ada Damian Balakosa. Pria yang memiliki semua ini. Pria yang sebentar lagi akan menjadi atasannya. Maya menelan ludah dengan susah payah. Magang ini seharusnya menjadi awal yang baik. Sebuah kesempatan dan berkah baginya. Mungkin bahkan jalan keluar dari kehidupan yang selama ini terus menekannya.
Namun saat duduk di sana, dengan tanda tangannya yang baru setengah tergores di atas garis dokumen, Maya merasakan sesuatu berputar perlahan di dalam dadanya. Entah harapan … atau sebuah peringatan.
Dan untuk saat ini, dia belum tahu mana yang sebenarnya sedang menunggunya.
***