Napas Niko terhenti. Bukan lagi marah—kali ini sesuatu yang lebih gelap merayap di dadanya. Pesan berikutnya menyusul, singkat dan dingin. Jangan memaksaku mengambil langkah yang lebih jauh. Kau tahu aku mampu. Rahang Niko mengeras hingga nyaris bergetar. Jadi ini bukan lagi sekadar tekanan. Richard sudah mulai bermain kotor. “Richard…” desisnya rendah, suaranya sarat ancaman. Tangan Niko terangkat, refleks ingin melempar ponselnya ke dinding, namun ia menahan diri di detik terakhir. Menghancurkan benda itu tidak akan mengubah apa pun. Yang perlu ia lakukan adalah menghancurkan kendali ayahnya. Ia berjalan mondar-mandir di kamar, napasnya berat. Jas yang tadi terasa rapi kini seperti belenggu di tubuhnya. Setiap detik yang berjalan membuatnya merasa semakin terpojok. Jika ia membata

