3. Jiwa yang Tertukar

1735 Kata
Juan merasa seperti ada yang mengawasinya, dia pun menoleh namun dia tak mendapati siapa pun di belakangnya. Dia hanya menelengkan kepalanya. Usahanya menemui sang keponakan tidak berhasil karena laki-laki bodoh itu sedang tertidur dan tak mau ditemui siapa pun. Sombong seperti biasanya. Noel melangkah dengan ringan seperti telah terbiasa berada di rumah ini, jelas saja karena setiap bulan dalam beberapa hari dia ada di rumah ini, bahkan sebulan belakangan dia menempati rumah ini setelah perusahaan miliknya di luar negeri bisa dia lepaskan. Karena dia pun memiliki hal yang harus dibereskan di negara ini. Darma tak mengerti mengapa gadis yang masih memakai seragam khas rumah sakit itu terlihat familiar dengan rumah ini? Langkahnya begitu maskulin membuatnya tampak semakin aneh. Dia bahkan langsung berjalan ke lantai atas, ke kamar utama sang pemilik rumah. Darma langsung menghalau ketika wanita itu hendak menerobos masuk, “kami akan tanya tuan Noel dulu,” ujar Darma. “Alah tidak perlu!” “Tidak bisa!” ujar Darma tegas. “Ya sudah cepat!” geram Noel sambil mendengus, dia sangat sebal dengan tangan yang digipsnya. Sungguh rasanya ingin segera menghajar Darma saja yang bisa-bisanya menghalau dia masuk kamar sendiri. Darma mengetuk pintu kamar utama tersebut, seorang di dalam memintanya untuk masuk. Suara itu! Suaraku. Pikir Noel. Ketika pintu terbuka, Noel langsung masuk. Dia terhenyak menatap seorang yang merupakan dirinya sendiri berdiri di dekat jendela, menatap ke arahnya, sama terpaku sepertinya. Tubuh itu miliknya! Namun jiwa mereka tertukar. Sama seperti Noel, Xaviera pun tertegun memandang sosok di hadapannya. Dirinya! Rambut berantakan, tangan dibebat perban yang digendongnya. Mereka saling melangkah mendekat menelusuri dari atas sampai bawah. “Jadi?” tunjuknya berbarengan, “kita tertukar?” ucapnya serempak. Lalu keduanya menutup mulut. Tak menyangka kata-kata mereka sama. Noel langsung menoleh ke arah pintu, Darma masih berdiri di sana, namun dia yakin Darma tak mengerti apa yang terjadi, “minta orang itu menutup pintu,” desis Noel. “Darma, tinggalkan kami berdua,” pinta Xaviera. “Ini barang-barang nona Xaviera?” tanya Darma menunjukkan tas dan kantung berisi sepatu atau entahlah apa itu? “Taruh saja meja,” jawab Noel tanpa menoleh sedikit pun. Xaviera mengangguk seolah menyetujui ucapan Noel di dalam tubuhnya itu. Setelahnya Darma keluar dari kamar itu, meninggalkan mereka berdua. “Aku enggak mengerti, mengapa kita bisa tertukar?” tanya Xaviera. Noel langsung berjalan ke arah lemari pakaian, mencari baju yang kira-kira bisa dia gunakan untuk tubuhnya yang kecil ini. “Ah sialan kenapa badannya kecil banget?” gumam Noel. “Kita harus bicara,” ucap Xaviera. “Sebentar, baju ini jelek aku enggak suka!” gerutu Noel. Dia kemudian menemukan kaos putih yang menurutnya berukuran paling kecil, juga celana trainingnya. “Tunggu, kamu mau ganti baju?” tanya Xaviera dengan mata terkejut. “Terus kamu mau aku pakai baju rumah sakit terus?” tanyanya sambil menatap Xaviera dalam tubuhnya dari atas ke bawah, “kamu juga sudah melihat sepenuhnya kan? Tidak apa-apa, aku enggak akan macam-macam, paling hanya sentuh dikit aja,” ujarnya sambil menahan tawa, dia pun berjalan masuk ke dalam kamar mandi yang memang merupakan miliknya sehingga dia sangat hapal ruangan ini. Xaviera menjatuhkan tubuhnya ke sofa, mengurut pelipisnya sendiri. Menunggu apa yang terjadi selanjutnya. Noel masuk dalam toilet, melepas pakaian satu persatu, lalu dia menatap dirinya di cermin. Dia menyeringai dan membalik tubuhnya dan sedikit bersiul, dia meremas bagian atas tubuhnya. Senyum jahilnya terbit, “kayaknya masih perawan,” gumamnya. Lalu dia teringat ada hal yang lebih penting dibanding menjahili tubuh yang dihinggapinya ini. Dia pun segera mandi, memakai pakaian dalam tak sulit, dia pernah memakaikan itu pada seorang wanita. Tunggu bukan hanya seorang. Tapi lihatlah, bahkan pakaian dalam ini tak layak. Ingatkan dia untuk berbelanja nanti. Sekeluar dari kamar mandi, Noel langsung duduk di sofa dekat Xaviera yang menyilang kakinya. Tampak begitu feminim dengan tubuh macho itu. “Aku tahu kita tertukar,” ucap Noel, “mungkin karena kecelakaan itu?” imbuhnya. “Terus kita harus apa?” tanya Xaviera, “ke dukun? Atau dokter?” lanjutnya. Noel menggeleng, “pasti ada sesuatu yang membuat kita tertukar, entah apa itu? Yang jelas sampai kita kembali ke tubuh kita, kita harus kerja sama,” ucapnya. Xaviera menghela napas panjang dia kemudian menggigiti kukunya, “stop! Jangan sakiti lambungku dengan telur cacing!” larang Noel. Xaviera segera menarik jari itu dari mulutnya. “Pertama-tama yang harus kita lakukan adalah kita harus tinggal bersama,” ucap Noel. “Di kamar ini?” tanya Xaviera. “Akan aneh jika aku yang tidur di sini sementara kamu di kamar tamu kan?” ujar Noel geram. “Tapi? Aku enggak bisa sekamar dengan orang asing.” “Kamu bahkan hidup di dalam tubuh orang asing!” geramnya. “Ceritakan semua yang kamu ingat sebelum kejadian?” tukas Noel. Xaviera menceritakan semuanya, dari nama lengkap, pekerjaannya, lalu dia yang akan melamar kerja di PT Empress, hingga kecelakaan dan koma lalu terbangun di tubuh itu. Noel hanya mengangguk singkat ketika Xaviera menceritakan semuanya, dengan mulutnya, dengan suaranya dan gestur tubuh itu yang tak terbiasa Noel lihat. Bagaimana bisa tangannya jadi selentik itu? “Jadi kamu kost? Keluarga?” tanya Noel. “Iya, aku punya saudara jauh dari ibu tapi mereka sudah tak menganggap aku lagi,” jawab Xaviera ada nada sedih ketika mengucapkan itu. “Good. Aku masih memiliki satu kakek dari ayahku yang entah ada di mana?” “Hilang?” tanya Xaviera. “Bukan hilang, tapi sengaja menghilangkan diri sendiri, dia sering berkelana dari negara satu ke negara lain, menemui para peneliti antariksa atau apa pun itu, entahlah. Dia enggak pernah bisa diduga. Tapi dia bisa tiba-tiba ada di sini, dan itu yang harus kita waspadai.” “Lalu?” “Sementara kamu jadi diriku,” ujar Noel, “tapi kita enggak bisa lakukan itu jika terpisah. Aku akan membuat ah maksudnya kamu dalam diriku akan membuat aku bekerja sebagai asistenmu di kantor sehingga kita bisa terus bersama, aku harus tinggal di dekatmu, ada kamar kosong di sebelah, aku akan tinggal di sana. Dan kita susun strategi, setidaknya kita harus selalu bersama sampai jiwa kita kembali ke tubuh seharusnya.” “Kamu terlihat tenang?” tanya Xaviera. “Harus. Atau ... aku akan kehilangan semuanya,” ucap Noel. “Kamu punya pacar? Cewek seksi yang langsung nyerobot itu?” “Ah iya namanya Olivia, sudah cuekin saja cewek hyper itu,” ujar Noel. Percakapan yang panjang itu nyatanya cukup menyita waktu, namun pada malam hari mereka berhasil membawa Darma mengantar mereka ke rumah kost Xaviera. Noel berjalan ke lantai dua, memperhatikan sekelilingnya dengan jijik. Ada aroma tak sedap yang sangat dia benci. Dia menutup hidung dengan tangan kanannya. Lalu Xaviera membuka kunci kamar itu. Ketika pintu terbuka Noel langsung bersin-bersin, Darma diminta menunggu di bawah agar tak kentara bahwa mereka tertukar. “Aku alergi bulu kucing,” ujar Noel, “cepat bereskan, ambil yang penting saja,” imbuh Noel. “Ya sudah kamu tunggu di sana saja,” tunjuk Xaviera ke arah balkon kamar kost itu. Noel pun berjalan ke balkon, rumah ini sangat kecil, beberapa pintu di lantai dua menunjukkan kamar-kamar kost yang lain. Lalu dia mengangkat sebelah alisnya, mendengar suara desahan dari salah satu kamar di ujung. Dia bergidik ngeri dan kembali ke kamar Xaviera sambil menutup hidungnya dengan sapu tangan yang dia bawa. “Kamar ujung?” tanyanya. Xaviera yang memasukkan beberapa barang ke dalam kardus itu hanya mengangkat bahunya, “sepertinya open BO, sering gonta ganti cowok,” ucapnya. “Ah kupikir orang sakit tadi,” tutur Noel. Xaviera mengangkat bahunya acuh, membereskan tumpukan komik, baju-baju, tidak terlalu banyak barang yang dia miliki. Hanya masuk dalam tiga kardus berukuran sedang. “Panggil mereka, jangan biarkan tubuhku membawa barang-barang sampah itu,” tutur Noel. Xaviera mendengus dan berjalan ke balkon menunduk ke bawah, “Darma, tolong bantu,” ujarnya. Darma dan salah satu pengawal lain berjalan cepat ke atas, membawa dus-dus itu ke dalam mobil. “Kamu harus berpamitan pada ibu kost, dia sudah baik sama aku selama lima tahun ini.” “Iya.” Xaviera turun lebih dulu, di tangga dia melihat kucing yang sering menemaninya, dia pun langsung menggendongnya turun. Dia mengetuk pintu rumah ibu kost sementara Noel masih menutup hidung di belakangnya. Darma memperhatikannya lekat, sejak kapan Noel menggendong kucing? Bukankah dia sangat membenci hewan berbulu itu? Ibu kost itu keluar, tubuhnya ringkih, kaca matanya tebal. “Viera, ada apa?” tanyanya. Xaviera menyenggol lengan Noel, “saya itu ... saya mau pindah, tinggal sama bos saya,” tunjuknya ke arah pria tinggi yang menggendong kucing itu. Xaviera hanya mengangguk dan tersenyum lebar membuat Noel mendengus, dia tak pernah tersenyum selebar itu! Citranya bisa jauh seketika. “Oh kamu sudah dapat kerja, syukurlah ... ibu khawatir tiga hari kamu enggak pulang, ibu senang dengarnya semoga betah ya,” ucapnya, “tapi tangan kamu kenapa?” tanyanya. Noel menatap wanita tua yang mengusap tangannya itu, tubuhnya terasa kaku, “hanya ... hanya retak sedikit, dalam tiga hari lagi juga gipsnya sudah bisa dibuka,” ucap Noel dengan terbata. “Kamu kelihatan berbeda, tapi syukurlah ibu senang kamu bisa hidup lebih layak sekarang,” ucap ibu kost. Noel menyerahkan kunci pada ibu kost dan menyalaminya tanpa mengecup punggung tangannya. Berbeda dengan Xaviera yang menyerahkan kucing itu sambil mengecup punggung tangannya dengan takzim. “Pergi dulu ya, Bu,” ucap Xaviera. “Boss, titip Xaviera ya, dia anak yang baik dan polos, dia yatim piatu dan sangat menyedihkan selama ini,” ucap ibu kost pada Xaviera yang bisa didengar Noel. Xaviera mengangguk dan menyeka sudut matanya yang berair. Dia kemudian meninggalkan rumah itu, rumah yang selama lima tahun menaunginya. Ibu kost yang baik yang tak pernah protes jika dia telat bayar kost, yang sering menawarinya makanan. Dia pasti akan sangat jarang bertemu wanita itu lagi nantinya. Sepanjang jalan, Xaviera berpikir. Otaknya terus berputar, bertanya-tanya apa yang terjadi selanjutnya. Namun Noel meminta sopir berbelok di salah satu butik ketika hendak menuju arah pulang. Noel menarik lengan Xaviera dan berbisik di telinganya, “bilang kalau kamu mau membelikan baju untukku, aku alergi pakaian murah,” ujar Noel. Xaviera hanya mengangguk, “Darma, kita belikan baju untuknya dulu.” “Baik, Tuan Noel,” ucap Darma, “belok kanan di sana,” tunjuk Darma pada sang sopir. Xaviera menatap Noel yang pandangannya lurus ke depan, entah apa yang ada di pikirannya? Namun Xaviera yakin Noel pun sama sepertinya, mencari tahu apa yang membuat mereka bisa tertukar, dan cara mereka kembali ke tubuh aslinya! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN