Ketika Noel dan Xaviera memasuki butik eksklusif itu, Darma langsung berbicara dengan sang manager yang bertugas, seketika pintu butik ditutup, begitu pula dengan gordennya. Hingga hanya ada staff dan mereka saja di dalamnya.
Noel mengedarkan pandangan ke sekitar, mengangguk penuh percaya diri, langkahnya besar-besar menatap ke pakaian yang dipajang di manekin.
Lalu dia menarik lengan Xaviera, dan memintanya merunduk, mereka sudah bekerja sama sejak di rumah tadi. Apa pun yang dia inginkan dia harus berbisik pada Xaviera agar Xaviera yang memberi instruksi karena tak mungkin dia memberi instruksi dengan tubuh ini, takkan ada yang akan mendengarnya.
Xaviera mengangguk, “beri dia semua baju yang cocok di butik ini, sepatu ukuran 38, termasuk dalaman, baju kerja, hmmm apa lagi?” tanya Xaviera ke arah Noel yang ada dalam tubuhnya itu.
“Baju tidur, baju santai, baju clubbing, pakaian seksi,” ucapnya.
“Minus pakaian seksi,” ujar Xaviera memelototkan Noel.
“Pakaian seksi,” ucap Noel dengan keras kepala. Xaviera hanya mengetuk keningnya sendiri, “jangan pukul tubuhku!” gumam Noel pada Xaviera yang kemudian langsung menurut.
“Jangan pamerkan tubuhku, kalau gitu,” gumam Xaviera. Noel mengangkat bahunya.
Tak berapa lama para staff berlarian mencari baju-baju yang pas, Xaviera duduk di sofa, menikmati teh hangat juga cokelat yang disediakan, tak pernah sebelumnya dia mendapat perlakuan seperti ini. Ah dia saja lebih senang membeli baju online, selain karena harganya lebih murah, ya karena dia malas berinteraksi dan dicurigai seperti dia adalah pencuri.
Noel hanya mengangguk dan menggeleng ketika staff memamerkan baju satu persatu ke arahnya.
Dalam waktu yang cukup singkat, tumpukan baju, pakaian dalam, sepatu, sandal, tas sudah bertengger di dekat meja kasir.
Noel berdiri di samping Xaviera yang hendak membayar, “pakai yang hitam,” bisiknya.
Xaviera menatap dompet milik Noel yang ada di sakunya, “tapi semuanya hitam,” gerutunya. Noel mengambil dompet yang ada di tangan Xaviera, mengeluarkan satu kartu. Darma hanya menunggu dalam diam, meski benaknya dipenuhi pertanyaan. Sejak kapan mereka berdua saling mengenal?
Mengapa Noel jadi bisa dikendalikan oleh orang asing seperti ini? Bahkan setelah berhasil melakukan pembayaran. Darma berjalan di samping Xaviera, sedikit jauh dari Noel.
“Tuan, apa anda tidak terlalu berlebihan pada gadis itu? Tadi tuan menyiapkan kamar di samping kamar tuan, mengganti kasur dan lain sebagainya, sekarang tuan membelanjakannya banyak barang?” tanya Darma.
Xaviera sedikit berdehem, “tidak apa-apa,” jawabnya singkat.
“Tapi Tuan saya khawatir tuan hanya akan dimanfaatkan,” keluh Darma.
“Saya pun memanfaatkannya,” ucap Xaviera berpura-pura dingin meskipun tangannya gemetar. “Oiya Darma, mulai besok dia akan bekerja sebagai asisten saya, minta siapkan meja dan kursi di ruang kerja saya di kantor di ehmmm PT Empress,” tukas Xaviera.
“Satu ruangan?” tanya Darma.
“Iya, satu ruangan dengan saya,” ujar Xaviera. Sejujurnya dia sangat takut, tapi entah mengapa Noel berkata dia akan baik-baik saja selama menurutinya. Itu sebabnya dia percaya selama ada Noel di dekatnya.
Hari ini rasanya terlalu panjang, malam menjadi saat yang menenangkan bagi Xaviera yang tak perlu berpura-pura menjadi Noel lagi. Dia berbaring di ranjang kamarnya, Noel berkata untuk tidak mengunci pintu kamar karena dia mungkin akan membutuhkannya.
Xaviera menatap langit-langit kamar Noel, kamar ini begitu luas dan nyaman. Rasanya dia tak pernah memiliki kamar dan kasur sebesar ini, sangat empuk dan lega. Piyama berbahan satin yang seolah menyelimuti kulitnya dengan kelembutan. Hingga pintu terbuka. Mata Xaviera terbelalak melihat seorang yang masuk.
Berpakaian tidur yang sangat seksi, lingerie berwarna putih sehingga kulitnya menerawang. Rambutnya dibiarkan tergerai dan gips masih ada di tangannya. Dia menutup pintu di belakangnya dan berjalan seperti preman.
“Bagaimana? Seksi kan?” ujarnya menyentuh dadanya dan meremasnya gemas.
“Apa kamu m***m? Berhenti menyentuh dadaku!” geram Xaviera.
“Ternyata enak, kenyal,” ujar Noel sambil terkekeh.
“Kenapa pakai pakaian seksi gitu? Astaga, aku enggak pernah memakai pakaian seperti itu,” ucap Xaviera kesal. Rasanya aneh melihat tubuhnya, berdiri di hadapannya mengenakan pakaian yang sangat seksi dan menerawang.
“Padahal tubuh kamu seksi, dan ini, euhmmm kenyal,” desahnya kembali menyentuh d**a itu.
“Please stop,” keluh Xaviera.
Noel naik ke ranjang, “aku enggak bisa tidur, biarkan tidur bersama malam ini, ada banyak kekhawatiran tentang besok,” ungkapnya sambil menarik selimut dan menutupi tubuh itu.
Xaviera hanya menggeleng lemah tak berdaya, tak bisa protes. Dia ikut berbaring dalam selimut yang sama.
“Besok,” ucap Xaviera, “apa saja yang kita lakukan?”
“Pertama kamu harus bercukur, wajahku jadi jelek,” ujar Noel.
“Aku enggak bisa,” ucap Xaviera, “aku enggak pernah bercukur,” ungkapnya.
“Pantas lebat,” gumam Noel membuat wajah Xaviera memerah.
“Ish!”
“Tidurlah, semua akan kita bahas besok, aku lelah,” ucapnya pelan, lalu dia mendengkur halus dan Xaviera bisa merasakan Noel yang sudah tertidur. Jika mereka tidur bersama, apakah besok pagi mereka akan terbangun dengan jiwa yang kembali tertukar?
***
Nyatanya tidak! Xaviera masih terbangun dengan tubuh Noel, dia bahkan melihat tubuhnya sendiri yang tidur dengan serampangan, Xaviera memejamkan mata dua detik sebelum menutupi tubuh dirinya itu dengan selimut. Bisa-bisanya memakai pakaian seksi seperti itu?
“Kamu sudah bangun?” tanya Noel.
“Sudah, tolong pakai pakaian yang normal, aku risih,” ujar Xaviera.
“Hmmm,” dehem Noel sambil bangkit, “ayo mulai hari ini,” imbuhnya.
Xaviera mengekornya ke kamar mandi, Noel memintanya duduk di atas closet yang tertutup. Dia mengambil cream untuk bercukur, mengoleskan di dagu dan bawah hidung. Lalu satu tangannya mengangkat dagu Xaviera, dia mulai mencukur bulu halus di wajahnya dengan lembut. Sesekali mereka bertatapan, “ternyata aku lebih ganteng ya dari dekat? Pantas banyak wanita tergila-gila,” ujarnya percaya diri.
Xaviera hanya mendengus, “jangan banyak bergerak, siletnya tajam,” ucap Noel memegang dagu itu. Xaviera hanya menurut, “dan benda kebangganku, itu tahan lama.” Ucapannya membuat Xaviera hampir tersedak.
“Pikiran kamu selalu kotor ya?” sindirnya.
“Sering sih tapi enggak selalu. Apa kamu pernah melakukan itu?” tanyanya santai. Wajah Xaviera memerah.
“Belum.”
“Mau coba?” tanyanya.
“Jangan ngaco!” gerutu Xaviera sebal, Noel hanya tertawa. Dia mengecek wajah itu apakah masih ada bulu halus yang tertinggal?
“Di kantor nanti ada Om Juan, dia adik angkatnya papa, tapi dia berusaha menyingkirkan ku dari perusahaan. Jangan terlihat lengah di dekatnya. Aku akan pakaikan alat pendengar untuk kita berhubungan, dari sana lebih mudah kamu berbicara agar persis sepertiku,” ucap Noel. Dia mengambil handuk kecil, mengusap sisa krim di wajah Xaviera.
“Aku ... takut,” gumam Xaviera.
“Aku selalu didekatmu, ingat itu. Kita harus saling membantu sekarang, mau tak mau, sampai kita pindah ke tubuh kita. Dan hati-hati Om Juan berencana membunuh kamu,” ujarnya membuat bulu kuduk Xaviera meremang, “tapi aku enggak akan biarkan itu terjadi, jadi jangan pernah jauh dariku,” imbuhnya seperti memberi ketenangan.
“Mau mandi bareng?” tanyanya genit.
“Enggak!” sungut Xaviera. Noel terkekeh kecil dan menganggukkan kepalanya. Aku siapkan baju untukmu, karena seleramu payah!”
“Terserah, tapi jangan pakai pakaian seksi.”
“Larangan adalah perintah,” ujarnya sebelum meninggalkan Xaviera di kamar mandi. Xaviera mendengus, dia menatap pantulan wajah itu di depan cermin, wajahnya tampak jauh lebih muda tanpa bulu halus yang tumbuh. Dia tahu Noel sangat memperhatikan penampilan, berbeda dengannya.
Xaviera sudah turun lebih dulu ke ruang makan, Darma sudah siap sambil berdiri di sana. Tak berapa lama Noel turun dan menghampirinya. Xaviera lagi-lagi hanya bisa membelalakkan matanya terkejut. Tak pernah menyangka dia bisa terlihat secantik itu, meski cara jalan Noel benar-benar tak bisa diselamatkan. Dan lihatlah, dia memakai sepatu kets!
Sangat tak cocok dengan baju terusan seatas lutut berwarna putih dan blazer hitam, sementara tangan kirinya masih dibebat gips. Dia menatap Darma yang juga memandangnya dengan pandangan aneh.
“Kenapa? Kakiku masih sakit,” ujarnya menjelaskan sepatu yang dipakainya. Apakah itu alasan dia membeli beberapa pasang sepatu kets dibanding flat shoes apalagi heels.
Noel duduk dengan santai, mengambil sarapan seperti telah terbiasa. Para pelayan di rumah itu saling tatap, mereka sudah mendengar bahwa asisten baru Tuan Noel akan ikut tinggal bersama, namun mereka tak menyangka asisten itu justru bertindak seperti tuan rumah.
Namun, tak ada yang mereka bisa lakukan selain melayaninya, “kopi hitamnya?” tanya Noel. Xaviera mendorong kopi hitam di dekat piringnya lalu dia menoleh ke arah salah satu pelayan, “minta kopi s**u saja,” ucapnya pelan. Dia tak terbiasa dengan kopi hitam meskipun sering begadang saat menyelesaikan deadline komik.
Pelayan itu menyiapkan yang diminta oleh Xaviera karena menganggap Xaviera adalah tuan rumah di sini. Lalu Noel menendang pelan kaki Xaviera dari bawah meja, lalu mengedikkan dagu ke arah Darma.
“Ah iya,” ucapnya. Dia kemudian memanggil Darma, “tolong siapkan earphone untuk aku dan Xaviera berkomunikasi,” perintahnya.
“Baik, hanya komunikasi dua arah?” tanyanya.
“Ya, seperti yang kamu lakukan ke para staff,” potong Noel.
“Ya seperti itu,” ujar Xaviera. Noel tampak tak peduli dengan pandangan Darma terhadapnya. Dia tetap makan dengan santai, dia tak mengerti mengapa perutnya terasa begitu menikmati sarapan pagi ini? Apakah dia selapar ini? Atau perut ini tak terbiasa dengan makanan yang nikmat?
Dia kemudian teringat kamar kost pengap dan kecil milik Xaviera, dia memandang Xaviera yang menikmati kopi s**u itu dengan mata berbinar seolah itu minuman paling enak, sesaat dia merasa kasihan. Seberat apa hidup wanita ini sebelumnya?
Hingga tunangan Noel datang kembali, langsung memeluk Xaviera dalam tubuh Noel itu dari belakang membuat Xaviera hampir tersedak, “kamu sudah sembuh, Sayang?” ujar Olivia. Lalu dia melirik ke arah wanita yang duduk di seberang Noel.
“Dia siapa?” tanyanya sambil berdiri posisi tegak seolah menunjukkan kastanya. Noel tak terganggu, justru dia memandangnya dengan pandangan muak.
“Dia, asistenku yang baru, namanya Xaviera,” jawabnya.
“Kamu serius? Asisten kamu perempuan? Dan sejelek itu?” tunjuk Olivia membuat Xaviera berdecih sebal.
Noel berdiri, “ya meskipun jelek tapi dadaku bagus, kenyal dan kencang toet toet tidak seperti kamu,” ucapnya sambil meremas dadanya sendiri membuat Olivia mengerang.
“Noel, lihat betapa tidak sopannya dia?” gerutu Olivia.
“Ayo Noel kita berangkat sudah siang,” ujar Noel dalam tubuh Xaviera berjalan lebih dulu. Aneh memanggil namanya sendiri.
Xaviera ikut berdiri, “benar ucapannya, pergi dulu ya, bye,” ucap Xaviera sambil menahan tawanya. Sementara Olivia mengentakkan kakinya kesal.
Dia tahu Noel selalu cuek, namun kali ini terlihat sangat berbeda, cueknya aneh! Membuatnya penasaran, apakah wanita itu yang membuatnya jadi seperti ini? Jika memang wanita itu ingin merebutnya, Olivia takkan segan mengusirnya dari kehidupan Noel selamanya!
***