5. Peran Pengganti

1643 Kata
Setelah berakting menjadi Noel yang asli, Xaviera dalam tubuh Noel kini bisa sedikit bernapas saat duduk tegak di kursi CEO, wajahnya dipaksa tenang, ekspresinya dingin seperti yang selama ini dikenal semua orang, setidaknya itu lah yang dikatakan Noel padanya. Setelan jas hitam melekat sempurna di tubuh itu, menyembunyikan kekacauan yang terjadi di dalam kepalanya. Hanya Darma yang tahu bahwa dia mengalami amnesia ketika baru bangun dari komanya, namun Darma sekarang mulai yakin bahwa Noel sudah mulai mengingat banyak hal, sehingga dia tak perlu khawatir meninggalkannya berdua dengan Xaviera. Di sisi ruangan, berdiri seorang asisten pribadi baru yang secara resmi dikenalkan pada bawahan langsungnya. Tubuhnya ramping, dengan tangan yang masih memakai gips. Pakaiannya tampak elegan untuk seorang asisten pribadi, namun siapa yang peduli? Orang-orang di sekitarnya tahu bahwa Noel memang sangat memperhatikan penampilan. Dia tak segan mendikte seorang yang memakai pakaian tidak rapi di matanya, meski hanya sekedar dasi yang miring atau tak terikat sempurna. Takkan ada yang menyangka bahwa jiwa dalam tubuh Xaviera adalah Noel yang asli, pemilik perusahaan ini. Sebuah earphone kecil tersembunyi di telinga kanan mereka masing-masing. Pintu diketuk, Xaviera mendongak menatap seorang pria yang baru masuk membawa tumpukan berkas, “yang baru masuk, dia direktur keuangan, namanya Alfad, jangan terlalu ramah,” bisik Noel pelan melalui alat penghubung. Xaviera mengangguk tipis, hampir tak terlihat. “Selamat pagi, Pak Noel,” sapa pria itu. “Pagi,” jawab Xaviera singkat, nadanya datar dan dingin, tepat seperti Noel yang biasa mereka kenal. Alfad tersenyum tipis, menyerahkan berkas yang dia bawa, menerangkannya sedikit. Noel yang justru memperhatikan secara seksama, Xaviera memanggilnya untuk mendekat. Meskipun Alfad tampak sedikit terkejut karena tak pernah melihat Noel sedekat ini dengan wanita lain, bahkan dia tampak sangat akrab padahal wanita itu adalah karyawan baru yang diketahuinya. Setelah Alfad membeberkan beberapa hal, dia pun pergi. Meninggalkan Xaviera yang mengembuskan napas kecil. “Bagus,” ucap Noel, suaranya kembali terdengar di telinganya, “nada kamu pas, jangan terlalu banyak bicara,” imbuhnya yang kemudian duduk di meja yang telah disiapkan staff di ruangan itu. Yah tak apa lah ruangannya menjadi tak seperti sebelumnya, setidaknya dia aman berada di dekat Xaviera dalam tubuhnya, bahkan wanita itu sudah belajar memanipulasi tanda tangannya. Dan hasilnya sangat perfect mungkin karena dia pernah bekerja sebagai editor komik yang terbiasa memegang pena dan merapikan garis juga mencontoh gambar dari penulis aslinya ketika mengedit komik itu. Beberapa orang masuk satu persatu menyapa, memberikan berkas atau laporan, mengajukan pertanyaan, dan setiap kali Xaviera membutuhkan jawaban, Noel selalu berbisik padanya sehingga dia tak pernah kesulitan. Dalam waktu singkat dia sudah hapal beberapa orang yang menurutnya merupakan orang kepercayaan Noel. Noel selalu mengawasi Xaviera, seperti bayangan penjaga, matanya tajam mengamati setiap gerak, setiap perubahan ekspresi orang-orang di ruangan itu, dengan tubuhnya dia lebih mudah menilai ketulusan mereka dari gestur dan senyum mereka dibalik wajah asli. Ada satu orang, satu alasan dia merasa tak boleh jauh dari Xaviera dan orang itu datang. Pintu kaca terbuka kembali, Xaviera menegang menatap pria tua yang dia tahu itu. Noel lebih dulu bereaksi, “tenang, ya ... dia adalah Om Juan,” ucap Noel dengan alat penghubung. Xaviera tahu dia adalah musuh Noel paling nyata, paling utama. Melihatnya berjalan mendekat membuat jantung Xaviera berdegup lebih cepat. Juan melangkah masuk dengan senyum santai, jas hitam mengkilap tampak pas membentuk tubuh paruh bayanya, sikapnya terlalu ramah untuk seorang pria yang merencanakan pembunuhan di belakangnya. Matanya menyapu ruangan lalu berhenti sejenak pada Xaviera yang sudah berdiri dari tempat duduknya. “Pagi, Noel,” sapanya hangat, “kamu terlihat ... berbeda hari ini?” Xaviera mengangkat pandangannya perlahan, “apa ada yang bisa kubantu, Om Juan?” tanyanya dingin. Di balik tubuh Xaviera, tangan Noel mengepal. “Santai saja, jangan tegang,” bisik Noel. Juan tersenyum lalu melirik ke arah asisten pribadi di samping meja. “Asisten baru?” tanyanya. “Ya,” jawab Xaviera singkat, “namanya Xaviera,” ucapnya. Noel segera menghampiri dan mengulurkan tangannya berpura ramah, “saya Xaviera asisten pribadi bapak Noel,” ujarnya. Juan menyalami tangannya, membelainya lembut dan sedikit menggelitikinya membuat Noel bergidik dan segera menarik tangan itu karena muak. Juan menatapnya lebih lama dari yang seharusnya, matanya tajam, seperti menilai, lalu dia memindai pandangannya dari atas ke bawah seperti mencari cela atau mungkin menganalisis sesuatu. Hingga Noel berdehem. “Apa ada yang salah, Pak?” tanyanya. “Menarik,” ucap Juan, lalu dia menoleh ke arah Xaviera dalam tubuh Noel itu, “biasanya Noel tidak suka perubahan mendadak, sepertinya sakit kemarin membawa perubahan pada keponakanku ya?” ujarnya sok ramah. Xaviera tersenyum tipis, senyum yang sudah Noel latih sejak semalam di depan cermin. “Semua orang bisa berubah, termasuk aku,” ucap Xaviera. “Benar, terutama ... orang yang dicekam ketakutan?” ujarnya seraya pergi, lalu dia sempat mengedipkan mata ke arah Noel yang membuat pria itu geram. Xaviera merosot sedikit di kursinya, dia menghela napas panjang, sementara Noel mengusap tangannya ke arah bajunya sendiri. “Najis!” ujarnya seperti membersihkan kotoran, “tua bangka bau tanah, bisa-bisanya godain perempuan muda! Enggak puas punya istri di mana-mana!” geramnya. Xaviera memandang Noel dengan pandangan putus asa, “makanya pakaiannya yang benar,” tukasnya. Noel kembali meremas dadanya, “seksi kan?” ujarnya. Xaviera yang mendapat tekanan itu sangat kesal, dia sudah berupaya membantu Noel, namun pria itu masih saja berbuat aneh pada tubuhnya, diambil gunting di atas meja di arahkan ke Noel lalu dia menunjukkan gunting itu, menukikkannya dengan tajam ke bawah seolah ingin menusuk benda kejantanan yang tertutupi di bawah sana. Noel langsung mengangkat tangannya tanda menyerah, “oke-oke, jangan please, itu kebanggaanku!” ujarnya. “Sekali lagi kamu remes-remes tubuhku! Aku akan sunatin ini!” ujarnya mengancam. “Iya, enggak lagi, taruh dulu ya guntingnya,” ucap Noel setengah merajuk. Xaviera mengembuskan napas kasar. Dia berdecih. Sementara Noel merasa ingin ke toilet. “Selama aku di toilet, jangan terima orang, bilang saja tak mau diganggu!” tukas Noel. “Ingat jangan mengintip di toilet cewek, aku enggak mau citraku jadi jelek!” geramnya. “Sedikit,” ucap Noel sambil tersenyum nakal. Padahal di ruangan ini ada toilet khusus, tapi mungkin Noel bosan dan ingin jalan-jalan, atau mungkin memantau situasi di luar ruangan. Dia berjalan melewati lorong dan lift lalu menuju toilet khusus karyawan di lantainya, ada satu orang wanita yang memulas lipstik, aroma parfumnya menyeruak. Noel memperhatikannya sekilas lalu dia masuk ke dalam bilik toilet. Dia mulai terbiasa membasuh tubuh itu, dia pun tak pernah berniat macam-macam, dia hanya senang menggoda Xaviera, reaksi wanita itu lucu menurut Noel. Sekeluar dari bilik toilet, Noel membasuh tangannya. Wanita itu masih di sana, Noel menatap id card yang tergantung di lehernya. Dia sepertinya mengenalnya. “Mbak Xaviera kan?” tanya wanita itu. “Iya,” jawab Noel. “Saya tunggu saat interview tapi enggak datang-datang, tiba-tiba langsung masuk jalur orang dalam, hebat,” ucapnya memuji namun Noel bisa melihat sudut bibirnya yang tersenyum miring seperti menyindir. “Sama saja kan?” jawabnya. “Tentu berbeda, saat interview mbak seharusnya menjadi staff data entry jika diterima, tapi sekarang jadi asisten pribadi dengan gaji yang fantastis, keren. Kenalin dong sama pak bos Noel biar saya juga bisa naik jabatan,” kekehnya. Ah Noel akhirnya tahu dia pasti HRD namun bagian staf sehingga dia tak terlalu mengenalnya. “Jadi ID card saya kapan jadinya? Pak Noel minta hari ini kan?” tanyanya sambil mengeringkan tangan dan tisu. “Iya jadi sore ini,” jawabnya. Noel mengangguk singkat tanpa mengatakan permisi sama sekali membuat wanita itu mendengus, “sombongnya, baru jadi asisten aja,” gumamnya. Noel masih dapat mendengar kata-kata itu, dia kesal namun dia tak bisa berbuat apa-apa, jika dia mengikuti Xaviera menjadi staf data entry pasti lah dia takkan bisa membantu dirinya sendiri. Dia pun berjalan di lorong itu, dia mendengar beberapa pegawai wanita yang tampak berbincang, atau lebih tepatnya bergosip. “Namanya Xaviera?” “Iya katanya dia harusnya jadi staf data entry tapi tiba-tiba jadi asisten pribadi.” “Wah keren, bawaannya siapa ya?” “Pak N langsung kayaknya.” “Terus kita harus bagaimana?” “Kalau dia masih saudaranya, mending kita cari aman deh, bantu dia aja. Dari pada kita yang di-cut!” Noel berusaha mengabaikan percakapan itu dan terus berjalan ke dalam ruang kerjanya. Dia melihat Xaviera yang terlihat pusing membaca dokumen-dokumen di atas meja. Noel menghampiri Xaviera, berdiri di belakang kursinya, namun menatap ke arah jendela dari lantai tertinggi gedung tersebut. “Belajar tentang perusahaan ini dari awal, dari sejarah terbentuknya PT Empress, agar kamu enggak kebingungan,” ucap Noel, dia mengusap tangan kirinya yang masih digips, dia mulai bisa merasakan tangan itu. “Kalau kita kembali ke tubuh masing-masing lagi,” ucap Xaviera menggantung, memutar kursi menghadap ke arah Noel, “apakah aku tetap jadi asisten kamu? Atau ... aku berhenti dari perusahaan ini?” tanyanya. “Kamu butuh banget uang?” tanya Noel. Xaviera pun tampak bingung, dia memainkan ujung kuku jarinya, “aku hanya butuh pekerjaan dan kehidupan yang stabil,” ungkapnya. “Aku akan mencarikan posisi yang pas untukmu nanti, aku harap ... sebelum itu terjadi, aku sudah bisa mendapatkan bukti untuk memenjarakan Om Juan,” ujar Noel. Xaviera menatap mata Noel yang menerawang jauh, bukan sekedar menatap pemandangan di depan, namun seperti menatap masa depannya. Dia mengangguk, “aku tahu rasanya dicurangi keluarga sendiri, aku akan bantu kamu,” ucap Xaviera sambil tersenyum. Noel memandangnya beberapa detik, lalu dia menjitak kepala Xaviera, “jangan senyum seperti itu, jelek!” Xaviera mengusap kepalanya sendiri, “ish! Sakit!” Noel kemudian berjalan ke kursinya, “besok gips ini bisa dilepas kan? Lama-lama gatal,” gerutunya. Xaviera mengangguk, “katanya begitu, awas saja setelah bisa pakai dua tangan, jangan macam-macam sama tubuhku, aku masih perawan!” “Aneh, hari gini masih perawan, kamu enggak pernah pacaran ya?” tanyanya menohok Xaviera sampai ke ulu hati. Dia hanya terdiam. Pacaran? Kapan terakhir dia punya pacar ya? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN