“AHHH SIAL!!!” ujar Noel membuat Xaviera terkejut. Dia menoleh ke arah meja asisten berada, Noel sudah berdiri sambil berkacak pinggang menatap ponselnya. Mereka sudah memakai ponsel masing-masing saat ini. Meskipun terkadang Noel iseng saat di dekat Xaviera ketika dia ingin membuka kunci layar dia meletakkan ponsel tepat di depan wajah Xaviera dan sejujurnya hal itu membuat Xaviera terganggu.
“Kenapa sih?” tanya Xaviera.
Noel langsung menghampirinya dengan langkah panjang dan cepat, satu tangan memegang sandaran kursi, “besok ada futsal,” ujarnya.
Satu detik … dua detik. Xaviera terdiam lalu mata Noel mengerjap tampak penuh permohonan.
“Enggak ya! Seumur hidup aku enggak pernah main bola apalagi futsal! Enggak ngerti!” tukasnya.
“Please, aku taruhan,” ucapnya.
“Kamu mau mempermalukan diri kamu sendiri?” tanya Xaviera. Noel mencebikkan bibirnya lalu bersandar di dinding seperti anak kecil yang merajuk.
“Porscheku akan hilang kalau kalah,” cebiknya.
“GILA!!!” jerit Xaviera, “kalian taruhan porsche? Mobil? Beneran?” tanyanya.
Noel dalam tubuh Xaviera itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kamu cukup datang aja, nanti aku minta timku untuk berjuang penuh!”
Kini giliran Xaviera yang bersandar dengan lesu, olah raga adalah hal yang tidak disukainya, dia malas banyak bergerak, melelahkan. Mungkin karena dulu dia sering melakukan pekerjaan rumah tangga, sehingga saat di sekolah tenaganya sudah habis dan itu membuatnya sebal jam pelajaran olah raga yang menguras tenaga.
“Seratus juta!” ujar Noel kembali mendekat ke arah Xaviera.
“Maksudnya?”
“Aku transfer kamu seratus juta, bagaimana?”
Mata Xaviera membelalak, gaji di kantor ini cukup besar, namun siapa yang menolak seratus juta di era serba mahal ini kan?
Tanpa pikir panjang, Xaviera mengulurkan tangannya menyalami Noel.
“Deal!”
“Aku transfer setelah pulang besok,” ungkap Noel. Xaviera tersenyum lebar dan mengangguk antusias, demi uang itu dia akan latihan futsal jika bisa dia menonton pertandingan itu untuk menghapal gerakannya.
Saat mereka berjabat tangan, pintu ruangan terbuka, sekretaris kantor masuk menatap keduanya sambil menelengkan kepalanya.
“Maaf tadi saya sudah mengetuk pintu,” ucapnya.
Noel menatapnya sambil melepas jabatan tangan ke Xaviera, “Ada apa Sher?” tanyanya. Lalu dia mengatupkan mulutnya mengedikkan dagu ke arah Xaviera. Hingga Xaviera berdehem.
“Ada apa?” tanyanya.
Sherlita, sekretaris kantor itu melangkah maju meski terkadang dia masih bingung, “Pak Noel … Pak Juan mengadakan meeting lima menit lagi, bapak ditunggu di ruang konferensi utama,” ujarnya.
“Meeting dadakan?” tanya Noel dan Xaviera berbarengan. Sherlita mengangguk sambil mengerjapkan matanya.
“Tua bangka itu,” gumam Noel.
Xaviera menoleh ke arah Noel yang sudah menganggukkan kepalanya, “baik saya ke sana,” ucapnya datar berusaha tenang.
Sepeninggal Sherlita, mereka berdua pun mulai mengatur strategi. Noel akan ikut masuk ke dalam ruang meeting, duduk agak jauh dari Xaviera untuk mengawasi dan agar lebih leluasa berbisik padanya.
Rapat itu diumumkan tanpa pemberitahuan. Wajah Xaviera dipaksa datar namun jantungnya berdetak lebih cepat di balik tubuh itu.
“Juan, dia sengaja,” ucap Noel ketika mereka berjalan dengan langkah yang sedikit lebih cepat dari biasanya. Setiap langkah menuju ruang rapat terasa seperti berjalan di atas kaca yang tipis, meski dipaksa cepat namun dia khawatir langkahnya memecahkan kaca itu. Dan membuat semuanya berantakan.
Ruang konferensi utama sudah hampir penuh ketika mereka masuk. Kursi-kursi mengelilingi meja panjang. Beberapa direktur saling bertukar pandang, sedikit heran namun tak berani bertanya.
Juan duduk di ujung meja, sikapnya tampak santai seolah rapat ini hanyalah ide spontan untuk pertemuan non formal.
“Terima kasih sudah datang secepat ini, aku hanya ingin memastikan, arah perusahaan kita masih sama,” ucap Juan sarkas.
Xaviera duduk di kursi CEO, Noel memilih duduk di kursi agak jauh di belakang. Posisi yang sengaja dipilih.
Noel pun berbisik dengan alat yang menempel ke telinganya, “tenang, biarkan dia bicara dulu.”
Xaviera hanya mengangguk singkat menatap Juan. Pria itu langsung memaparkan data, angka dalam grafik dan diagram, pertanyaan-pertanyaan mulai diajukan, seperti pertanyaan biasa namun terlihat disusun seperti jebakan.
“Bagaimana pendapatmu tentang akuisisi anak perusahaan di Malaysia?” tanya Juan tiba-tiba menatap langsung ke arah Xaviera.
Hening. Xaviera menelan salivanya kasar. Itu bukan topik sembarangan, pengetahuannya baru seputar perusahaan di Indonesia.
“Jawaban pendek, jangan detail. Noel biasanya tidak suka membahas ini di forum terbuka,” bisik Noel. Xaviera mengangguk tipis, sedikit melirik Noel yang juga mengangguk dan mulai berbicara di earphone. Kata-kata yang diucapkan seperti form copy paste.
“Kita masih dalam tahap evaluasi, aku tidak ingin keputusan emosional,” ucap Xaviera tenang.
Juan memicingkan matanya, lalu tersenyum, dan senyumnya begitu memuakkan di mata Xaviera, “menarik. Biasanya kamu paling agresif dalam ekspansi,” kekehnya.
Noel menahan napas, “kita balas dengan dingin … sedikit sinis,” bisik Noel. Seorang staff menoleh ke arahnya tanpa dia ketahui, mencurigai gerakan Noel yang terus menerus memegang ujung kerah blazernya juga telinganya.
Xaviera menatap Juan, ekspresinya nyaris tidak berubah meski jarinya sedikit bergetar halus, “dan itu sebabnya aku masih memimpin perusahaan ini,” ucapnya lantang.
Beberapa direktur tersenyum kecil. Tegangan tampak mulai mereda.
Juan bersandar di kursinya, mengetuk meja pelan dengan ujung jemarinya, “baiklah, pamanmu ini hanya khawatir,” ucapnya sok baik.
Khawatir? Kata yang terdengar manis, namun Noel tahu kata itu sarat akan ancaman.
Rapat berakhir tanpa kesimpulan yang berarti, saat semua orang berdiri. Juan mendekat, suaranya terdengar begitu rendah nyaris berbisik, “kamu terlihat pucat Noel, pastikan kamu tidak memikul terlalu banyak sendirian,” ungkapnya.
Xaviera membalas dengan tatapan dingin, “aku selalu sendirian,” jawabnya, tentu saja suara itu dia salin dari telinganya yang tersumbat sebelah.
Juan tersenyum namun senyum itu tak sampai ke matanya, dia menatap Xaviera dengan tajam.
Xaviera meninggalkan ruangan bersama Noel, mereka berjalan cepat menuju ruang kerja. Di dalam Noel menggebrak meja.
“Sialan tua bangka itu!” gerutunya.
Xaviera meneguk air minum di gelasnya, nyaris tak bersisa. Rapat tak lebih dari satu jam, namun rasanya seperti berjam-jam melelahkan dalam ruang sidang skripsi.
“Kalau tangan ini sudah dibuka, aku ingin tinju dia!” gerutu Noel.
“Malam ini dokter bilang akan melihat perkembangan, tapi aku enggak mau dapat catatan kriminal,” ujar Xaviera.
“Good! Semoga bisa dibuka,” ujar Noel.
Sepulang kerja, mereka berdua kemudian ke rumah sakit, langsung menuju ruang dokter, Noel meminta ruangan privat untuk Xaviera. Meskipun dokter itu tampak bingung karena yang mengantarnya adalah cucu dari pemilik yayasan rumah sakit ini.
“Kamu tampak berbeda,” ujar dokter senior itu menatap Xaviera dalam tubuh Noel.
“Ah iya,” jawabnya singkat.
“Dokter, apa sudah bisa langsung dibuka?” tanya Noel.
“Kita periksa dulu ya,” ucapnya.
Perawat membantu membuka perban di tangan Noel juga gipsnya. Noel mengerling genit membuat Xaviera mendengus, apakah dia lupa dia masih di dalam tubuh wanita? Dasar ganjen!
Setelah rangkaian pemeriksaan, dokter pun tersenyum pada Noel, “sudah menyatu sempurna namun belum boleh dipakai mengangkat barang yang terlalu berat ya,” tuturnya.
Noel menggerakkan tangan itu rasanya ringan dan lega, “jelas menyatu sempurna, untuk apa minum obat puluhan juta kalau enggak sembuh?” gerutunya.
Xaviera berdehem, Noel menatapnya tajam dengan bibir mengerucut.
“Saya ingin bicara tentang kakekmu,” ucap dokter senior itu.
“Bicara saja,” ucap Xaviera. Dokter itu menatap Noel seolah memintanya pergi dari ruangan tersebut. Xaviera dengan cepat berkata, “dia asisten kepercayaan saya, dia tahu semua tentang saya,” ucapnya agar Noel tak diusir karena dia takkan mengerti apa-apa nantinya.
“Baiklah,” jawab dokter senior itu.
“Saya dapat info kalau kakek kamu berada di pedalaman Afrika, tapi belum tahu info itu valid atau tidak?” ucapnya.
Noel masih menggerakkan tangannya seperti melakukan pemanasan ringan, “mungkin dia mau meneliti cheetah?” komentarnya membuat dokter itu menoleh dan tersenyum kecil.
“Kamu memiliki asisten yang persis sepertimu,” ujarnya.
“Saya anggap itu pujian,” ucap Noel singkat. “Jika sudah bicaranya kami akan pergi,” imbuhnya sambil berdiri.
Dokter itu kemudian memegang tangan Xaviera, “coba kamu hubungi, dia sudah tua, jangan biarkan dia keluyuran, saya khawatir dia mengidap demensia dan hilang,” ucapnya.
Noel menoleh lalu menarik tangan Xaviera agar terlepas dari dokter itu, “dia tahu apa yang harus dia lakukan,” ucap Noel dingin. Digenggam tangan Xaviera dan dia keluar meninggalkan dokter itu.
“Terima kasih dokter,” ucap Xaviera sebelum menutup pintu.
Di lorong rumah sakit Noel masih berjalan cepat menggenggam tangan itu, Xaviera memperhatikan tangan dalam genggaman tersebut, “dasar kakek tua, ikut campur saja urusan keluarga orang. Kalau si kakek mau pergi jauh, biarin aja dia tahu resiko sendiri. Sudah tua masih melanglang buana, entah mencari apa? Cari mati kali? Ngerepotin aja!” gerutu Noel terus berjalan, hingga mereka berdiri di depan lift, dan pintu lift memantulkan bayangan mereka berdua, baru lah dia sadar dia masih menggandeng tangan Xaviera. Dia pun melepaskan tangan itu dan melipat di dadanya.
Tak ada perban, membuatnya bebas bergerak dia bisa melakukan apa saja sekarang. Termasuk menghajar Juan mungkin?
“Aku –“
“—jangan bicara, aku enggak butuh pendapat kamu!” potong Noel.
“Aku mau ke toilet!” ujar Xaviera.
“Tahan sampai rumah!”
Noel masuk ke dalam lift diikuti Xaviera yang bersandar di lift itu sambil merapatkan kakinya, Noel menatapnya, wajah Xaviera tampak melas.
“Ya sudah di lantai satu nanti, jangan lama-lama,” sentaknya.
Seperti mendapat mainan baru, Xaviera tersenyum lebar dan mengangguk antusias karena diperbolehkan ke toilet. Sementara Noel menggelengkan kepalanya tak mengerti. Di pikirannya, nama kakeknya bergema. Pria tua yang suka seenaknya itu, sungguh membuatnya sakit kepala!
***