Di suatu desa nan jauh dari keramaian, tepatnya seperti berada di pulau terpencil. Di sebuah rumah-rumah batu. Seorang kakek tua menatap batu permata di hadapannya. Batu yang cukup besar dan bersinar, sinarnya hijau kebiruan.
Dia memakai topi lebar, baju safari berwarna cokelat, kaca mata bertengger di matanya.
“Jadi batu ini bisa menyelamatkan cucuku?” gumamnya,
Beberapa orang pria yang merupakan suku pedalaman khas itu mengangguk-angguk dan berbicara dengan bahasa yang tak dimengerti, seorang pria tua penerjemah berdiri di samping kakek itu.
“Benar Tuan, dia sudah melindungi cucu Tuan dan akan terus melindunginya sampai waktu yang tak ditentukan.”
“Bagaimana cara dia melindunginya?”
“Semua kuasa dari batu ini Tuan, jika memang sudah tidak dibutuhkan batu ini akan menghilang sendirinya dan itu artinya nyawa cucu Tuan sudah aman,” ucapnya.
Kakek itu menggumam pelan dan mengangguk lalu memasukkan batu bercahaya itu ke dalam tas, dalam kegelapan batu itu justru tak mengeluarkan cahaya.
Matanya menerawang jauh, sejak kecil ... sejak Noel lahir dia tahu usia anak keturunannya tak akan bisa bertahan lama. Tak pernah sampai usia 40 tahun sama seperti ayah dari Noel putra kandungnya, bahkan anak keduanya meninggal sesaat setelah dilahirkan. Istrinya stress keras, sepuluh tahun kemudian kakek Noel, pria bernama Endrico itu mengadopsi anak dan terpaksa mengatakan pada istrinya bahwa itu anak mereka.
Meski tidak terlalu waras, istrinya perlahan membaik dan hidup bahagia sampai akhir hayatnya dengan Juan yang sudah dianggap anak sendiri. sayangnya anak yang tak jelas asal usul orang tuanya itu ternyata besar tak sesuai dengan ekspektasi Endrico, mungkin benar darah lebih kental dari air. Juan menghabiskan banyak uang.
Kini Endrico mencari cara agar cucunya bertahan hidup, satu-satunya keturunannya hingga dia sering ikut kegiatan penelitian, mencari keajaiban untuk sang cucu tersayang.
***
Kembali ke kediaman Noel, kini mereka berada di halaman rumah menatap Xaviera dalam tubuhnya yang sudah memakai baju olah raga khas.
“Pokoknya bola jangan dipegang, dan larinya yang macho!” perintah Noel yang memakai baju olah raga juga.
“Iya bos, ayo oper!” ujar Xaviera.
Noel menendang bola ke arahnya, harusnya Xaviera menggiring bola itu, namun dia langsung menendangnya ke arah Darma yang ditugaskan menjadi kiper. Tentu dengan mudah Darma mendapat bola itu.
“Aish!!!” gerutu Noel. Darma menelengkan kepalanya, tak biasanya bosnya itu tak bisa bermain bola, bahkan Noel menghampiri Xaviera dan memiting lehernya, “yang benar!!” geramnya.
“Ih sakit!” ujar Xaviera seraya mendorong Noel, “besar juga tenaganya!” ujar Noel.
Keduanya masih berlatih futsal hingga malam kian larut. Baru lah mereka memutuskan beristirahat. Besok adalah hari yang ditunggu, Xaviera menatap akun banknya, dia berdecak, sebentar lagi akun itu akan terisi uang tiga digit. Hal yang tak pernah dia dapatkan. Karena itu besok dia harus maksimal menjadi Noel seutuhnya.
***
Lapangan futsal itu sudah ramai sejak sore. Xaviera dalam tubuh Noel tak menyangka bahwa pertandingan yang dianggapnya hanya main-main antar anak orang kaya itu ternyata dihadiri banyak sekali penonton.
Sementara Noel yang berada di dalam tubuh Xaviera berdiri kaku di pinggir lapangan, mengenakan jersey longgar dengan nomor punggung yang tampak kebesaran, celana pendek nyaman bertengger bahkan tingginya hampir sama dengan ujung kaos.
“Jadi kamu yakin aku bisa?” bisik Xaviera sambil menyilangkan tangan.
“Aku enggak yakin, tapi kalau kamu enggak main, Porsche ku melayang,” ujar Noel. Dia sudah meminta teman satu timnya untuk bermain bagus dan dia akan memberikan bonus pada mereka jika menang.
Xaviera melirik mobil sport hitam yang terparkir tak jauh dari lapangan. Matanya menyipit.
“Harga mobil itu bisa untuk menyokong kehidupanku selama sepuluh tahun?” tanyanya pelan.
“Bukan sepuluh, tapi dua puluh,” jawab Noel datar.
Xaviera menoleh ke arah Noel, tentu saja dia agak menunduk untuk dapat melihat tubuh gadis yang jauh lebih pendek darinya itu.
Peluit dibunyikan, Xaviera melangkah masuk ke lapangan, di tubuh Noel dengan ekspresi dingin yang berbanding terbalik dengan kepanikan dalam kepalanya.
“Tenang, ini hanya futsal, aku hanya harus pura-pura lari dan dapat bola, tendang sedikit karena teman-temannya akan memback up,” bisik Xaviera pada dirinya sendiri.
Dia menatap lawan-lawannya, ada seorang yang bertampang sangat sok, dia yang menantang Noel, katanya dia itu saingan Noel sejak dulu. Bahkan dia pernah mengencani Olivia, tunangan Noel, sayangnya Olivia memilih Noel dibanding pria itu.
Bola datang ke arahnya, Xaviera berusaha menghampiri bola dan menendangnya, namun tendangannya miring dan justru meluncur ke arah lawan.
“Noel yang benar dong!” gerutu rekan satu timnya. Xaviera membentuk permohonan maaf dengan tanganya.
“Noel! Kaki kanan!!!” ujar Noel dalam tubuh Xaviera di pinggir lapangan sambil meraup wajahnya sendiri, kesal.
Xaviera tak mungkin memakai earphone saat ini karena dilarang dalam permainan. Dia berusaha maksimal bermain bola, hingga lima menit kemudian dia terengah, keringat membasahi pelipis namun bayangan angka seratus juta di rekeningnya membuatnya kembali bersemangat.
Lawan mulai bermain kasar seperti mengincarnya, hingga Kaisar, saingan Noel itu berdiri di samping Noel, “kamu enggak seperti biasa,” bisiknya.
Xaviera menoleh, pria itu tersenyum mengejek, “kamu kelihatan seperti banci,” guraunya.
Xaviera yang tadinya memasang posisi kuda-kuda yang tegak kemudian menoleh ke arahnya, “kamu kelihatan jelek,” ujarnya.
Kaisar terlihat tidak suka, dia bermain kian kasar sengaja mencari celah untuk menendang kaki Xaviera atau membodynya. Namun Xaviera terus bergerak lincah untuk menghindar.
Pertandingan babak pertama berakhir dengan angka yang seri, Xaviera menatap salah satu pelatih cabutan, “satu angka saja, kita cetak satu angka, habis itu main bertahan,” ujarnya.
Boro-boro satu angka, bisik Noel, mereka main tidak imbang karena Noel tak termasuk hitungan.
Babak kedua dan penentuan di mulai, pertandingan terus berjalan terasa lambat, Xaviera sudah tampak kehabisan tenaga, beberapa pemain digantikan namun dia tidak, karena dia lah bintangnya.
Hingga lima menit sebelum pertandingan usai, Kaisar sengaja menyenggol betisnya, tubuh Xaviera terangkat, melayang sesaat, lalu jatuh keras ke lantai.
“XAV!!” teriak Noel, “NOEL!!!” ujar teman lainnya.
Xaviera meringis, pertandingan dihentikan sementara. Nyeri menjalar dari pergelangan kaki hingga pinggang. Belum sempat dia bangkit, seseorang telah menerobos masuk ke lapangan. Noel.
Masih mengenakan jersey kebesarannya, berlari masuk tanpa peduli teriakan wasit.
“Hei! Ini Lapangan!! Clear!” ujar sang wasit. Namun Noel tak perduli, dia berlutut di samping Xaviera wajahnya panik, “kamu bisa berdiri?” tanyanya cepat.
Xaviera mendengus, “kalau aku mati, Porsche kamu juga hilang.”
“Jangan bercanda!”
Teman-teman Noel saling pandang. Beragam komentar dilontarkan, mempertanyakan kedekatan Noel dengan asistennya. Yang lebih mirip seperti pacarnya. Lalu gosip demi gosip mulai melayang.
Noel membantu Xaviera berdiri, lengannya menopang dengan refleks dan tampak begitu lembut seperti seorang yang butuh sandaran.
“Aku bisa lanjut, sisa lima menit lagi,” ucap Xaviera.
Wasit akhirnya memutuskan tendangan finalti, Xaviera meminta temannya mengambil namun Kaisar keberatan dan wasit menyuruh Xaviera yang mengambil tendangan itu.
Di luar lapangan Noel tampak pasrah, jika memang Porschenya harus hilang.
Dua tim berdiri di sisi berbeda, Xaviera bersiap mengambil tendangan, dia memejamkan mata beberapa detik, semalam saat latihan ... Darma mengatakan titik yang paling krusial. Dia hanya harus meluruskan kakinya dalam menendang, jangan sampai salah arah lagi.
Dia menarik napas panjang, peluit dibunyikan. Xaviera terlihat seperti hendak memberi tendangan tinggi, namun semua salah! Dia memberi tendangan rendah, kiper melompat tak menyadari bola justru melesat ke bawah tubuhnya.
Dan Gol!!!
Peluit panjang berbunyi, tim Noel menang!
Xaviera dipeluk teman-teman satu timnya membuatnya terdiam, aroma keringat bercampur kemenangan tak dihiraukan, dia hanya berupaya menjauh dari para pria bertubuh besar yang mengerubunginya itu.
Sorak sorai memenuhi lapangan. Lawan menghela napas panjang lalu tertawa, Noel yang asli masuk lapangan dan menarik Xaviera serta memeluknya erat membuatnya menjadi bahan sorakan.
“Aku enggak kebayang kalau Olivia ada di sini, tubuh kamu bisa habis dicincangnya,” ujar Kaisar dari arah belakang. Noel melepas Xaviera dan menoleh sambil memberikan tatapan tajam.
Kaisar kemudian menepuk bahu Xaviera dan mengulurkan tangannya, “Porschemu aman, dan soal tender itu, kita bicarakan minggu depan, aku akan meyakinkan papa untuk kerja sama dengan perusahaanmu,” ucapnya.
Xaviera tersenyum tipis sambil terengah, “terima kasih,” ucapnya yang mendapat injakan kaki dari Noel, “ah maksudnya, aku tunggu,” ujarnya meralat.
Kaisar tertawa lalu dia menatap Noel sambil mengedipkan matanya genit, “kamu ... tertarik untuk menjadi nyonya Kaisar?”
“Jangan mimpi!” ujar Noel.
“Wah asistenmu galak, sama sepertimu Noel, kalian cocok,” kekehnya menepuk bahu Xaviera dalam tubuh Noel itu sekali lagi, lalu dia bersiul dan menghampiri rekan satu timnya.
Noel menyerahkan botol minum ke arah Xaviera, “kurasa aku harus dapat bonus, kamu lihat angka satu itu aku yang mencetak,” tunjuk Xaviera ke papan scor.
“Iya aku akan berikan bonus, terima kasih porscheku aman dan aku menang tender,” ujar Noel tersenyum bangga.
Di kejauhan teman satu tim futsal Noel saling berbisik, “fix itu bukan hubungan biasa.”
“Noel enggak pernah segitu pedulinya sama siapa pun,” ucap sang kiper.
Noel dan Xaviera saling pandang dan berjalan menjauh, “sana hampiri mereka, bilang pada mereka kita makan daging panggang malam ini untuk merayakan kemenangan,” ucap Noel.
Xaviera menghampiri rekan satu timnya, “guys kita party malam ini, all you can eat!” ujarnya, “asistenku yang reservasi,” tuturnya menunjuk Noel yang membelalakkan mata lalu dia mengangguk pelan sambil mendengus.
Keduanya buru-buru berpaling dari tatapan itu, mereka tahu satu hal dengan pasti. Jika orang-orang tahu kebenarannya maka kekacauan ini akan terlihat semakin gila!
***