“Asisten kamu seru banget ya,” ujar salah satu teman satu tim futsal Noel terhadap Xaviera yang masih memanggang daging, dulu dia pernah makan makanan ini namun sangat jarang. Itu pun saat dia kuliah dan mendapat uang dari mengedit komik.
Sementara Noel dalam tubuh Xaviera asik berbincang tentang bola di sebelah Xaviera.
“Yah, begitulah,” jawab Xaviera yang kemudian hendak mengambil potongan daging yang sudah matang, namun Noel mengambilnya lebih dulu dan menyuapnya dengan wajah menyebalkan.
Sebenarnya Xaviera tak terlalu suka berkumpul seperti ini, namun dia perlu merayakan kemenangan kan? Itu sebabnya dia tetap berpura-pura menjadi Noel meski dia jauh lebih pendiam dibanding biasanya.
Hingga seorang wanita memakai baju terusan putih fit body tanpa lengan dengan belahan d**a rendah menghampirinya dan langsung mengecup pipinya membuat Xaviera mematung.
“Oli-Olivia?” tanyanya. Noel menoleh ke arah sosok yang namanya disebut.
“Selamat atas kemenangannya,” ujar Olivia, “maaf aku baru selesai syuting,” imbuhnya. Dia menendang diam-diam kursi yang diduduki Noel.
“Tolong pindah, peka sedikit ya hai asisten!” ujarnya.
Noel membelalakkan mata, “kenapa melotot? Enggak suka?” tanyanya sengak.
Noel menghela napas panjang, “biarkan dia di sini,” ucap Xaviera.
“Sayang,” rengek Olivia, entah mengapa Noel justru melihatnya dengan pandangan muak, bukankah dia mencintainya selama ini?
“Biar aku pindah,” ucapnya. Salah satu teman Noel menarik kursi di sebelahnya, “sini Vier,” ajaknya sambil tersenyum sumringah.
“Yoiy meluncur,” ujar Xaviera sambil berjalan dengan langkah tegap.
“Perempuan kok jalannya kayak preman,” gerutu Olivia.
Makan malam yang seharusnya meriah itu nyatanya tak membuat Xaviera terhibur sama sekali, tingkah manja Olivia yang membuatnya sebal, juga Noel yang lebih fokus ngobrol dengan teman-temannya tanpa berniat menyelamatkan hidupnya saat ini membuatnya semakin kesal.
Dia pun menatap jam tangannya, tinggal sepuluh menit lagi dari waktu yang dipesan, dia memutuskan ke toilet. Ditatap wajah Noel itu di cermin, dia memegang erat pinggiran wastafel, “capek banget, mau tidur,” gerutunya.
Hingga teman Noel tiba-tiba ada di sampingnya dan merangkul bahunya secara akrab, “kamu kelihatan berbeda Noel,” ujarnya. Xaviera mengingat namanya, Nathan.
Xaviera sedikit menegang, dia berdiri dengan leher kaku hingga Nathan justru memijat bahunya, “tegang banget,” ujarnya. Xaviera berusaha menepisnya dan menjaga jarak.
“Hanya capek,” jawabnya.
Nathan tersenyum tipis dan mencuci tangannya, “Xaviera itu ... kenapa dari awal tadi dia datang, aku merasa dia mirip kamu ya,” ujarnya.
“Entah,” jawab Noel, lalu dia berjalan keluar dari toilet, Nathan mengejar dan mensejajari langkahnya.
“Kamu selalu tahu cerita ke siapa kan Noel?” ujarnya menepuk bahu Xaviera dalam tubuh Noel itu, lalu dia berjalan lebih dulu.
Xaviera melihat teman-teman Noel yang sudah bersiap untuk meninggalkan restoran. Olivia pun ikut berdiri dan berbincang dengan mereka, lalu dia langsung mengamit tangan Xaviera yang sedikit menariknya untuk menjauh, namun Olivia tetap memegangnya erat.
“Aku ikut ke rumah ya,” ucapnya.
“Enggak perlu,” jawab Xaviera, “aku capek, mau tidur,” ungkapnya.
Noel langsung maju dan menatap Olivia, “besok jadwalnya padat, jadi dia harus pulang tepat waktu, ayo Xa-ehm Noel,” ujar Noel langsung berjalan cepat. Xaviera seperti sudah kehabisan tenaga untuk melepas gamitan tangan Olivia. Bahkan ketika sampai di parkiran tak ada ciuman perpisahan atau pelukan. Dia langsung masuk ke dalam mobil, meninggalkan Olivia yang mencebikkan bibirnya sebal.
Nathan berdiri di sampingnya, “mau bareng?” tanya Nathan.
“Aku bawa mobil sendiri sih,” ujar Olivia.
Nathan hanya mengangguk kecil dan hendak meninggalkan tempat itu jika Olivia tak segera menarik ujung kaosnya, “kamu tahu kenapa Noel berubah?” tanya Olivia.
“Berubah? Sepertinya enggak?” ucap Nathan.
“Setelah kecelakaan itu dia berubah,” ujar Olivia, “dia enggak seperti Noel yang aku kenal, aku dengar dia sempat amnesia sesaat tapi bukan berarti dia melupakan semuanya kan?” tanyanya seperti pada diri sendiri.
“Entahlah Liv, aku enggak tahu, pulang dulu ya,” ucapnya meninggalkan Olivia yang mengentakkan kakinya kasar.
“Jelas kamu akan membelanya, kamu kan temannya!” gerutu Olivia sebelum masuk ke dalam mobilnya. Dia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi karena Noel selalu menghindarinya. Bahkan pesannya lebih banyak hanya dibaca saja.
Dia memang cuek selama ini, namun kali ini, sejak ada Xaviera di hidup Noel, Olivia mulai merasa tersisihkan. Apakah firasatnya yang mengatakan mereka memiliki hubungan lebih dalam dari asisten dan bos itu benar adanya?
***
Setelah hari itu, Xaviera menjalani kehidupan Noel dengan sekuat tenaga, dia melakukan itu karena merasa Noel sudah membayarnya dan dia menganggapnya itu adalah sebuah pekerjaan sambil dia pun mencari cara untuk kembali ke tubuhnya.
Meskipun tinggal di rumah mewah, makan makanan enak setiap hari, dia bisa tidur dengan nyenyak meski terkadang tiba-tiba Noel sudah tidur di sampingnya. Namun, tetap saja dia merasa tak bisa menjadi dirinya sendiri.
Dan tubuh itu, bukan tubuhnya, dia masih sering terkejut dengan penampakannya di cermin.
Hari ini ada rapat umum pemegang saham, katanya dia hanya harus duduk tenang dan menyimak, tak ada yang akan bertanya macam-macam padanya, dia hanya perlu menjawab dengan ucapan formal.
“Terus kamu mau ke mana?” tanya Xaviera menarik lengan Noel hingga pria yang ada dalam tubuh gadis itu hampir terpelanting.
“Eh kamu sadar tenaga kamu itu tenagaku! Jangan kenceng-kenceng bisa?” gerutu Noel.
“Sorry,” ucap Xaviera, “tapi aku enggak bisa ditinggal sendiri gitu, di sana ramai,” imbuhnya dengan wajah penuh ketakutan.
“Ada Sherlita,” ucap Noel sambil membereskan baju terusannya yang sedikit terlipat, “aku ada urusan,” ungkapnya bertepatan dengan Sherlita yang masuk ke dalam ruangannya.
“Nah itu dia,” tutur Noel, “Sher tolong nanti kamu dampingi Noel, terus bisikin dia siapa-siapa aja yang dia ingin ketahui, nama dan jabatannya, dia sedikit lagi pusing hari ini,” imbuh Noel membuat Xaviera menggaruk keningnya.
“B-baik,” ucap Sherlita menatap Noel dalam tubuh Xaviera itu, bingung. Mengapa jadi asistennya yang memberi instruksi?
“Ya sudah aku pergi dulu, selamat menjalani waktu membosankan,” gurau Noel membuat Xaviera mengeram kesal. Dia berdecak dan menatap Sherlita, “sudah waktunya?” tanyanya.
“Ayo, Pak,” ajak Sherlita.
Noel berjalan ke luar gedung PT Empress, akhirnya dia bisa bolos dari rapat itu lagi pula kehadirannya hanyalah formalitas, dia sudah tahu tentang semua laporan saham itu. Tak ada yang spesial.
Dia memutuskan untuk pulang ke rumah dan mengganti pakaian, dia juga mengambil kunci mobil sportnya. Mobil yang hampir menjadi milik Kaisar jika Xaviera tak memenangkan pertandingan futsal itu.
Suara deru mesinnya membuatnya begitu bersemangat. Dipakai kaca mata hitamnya lalu dia melajukan mobil tersebut. Rasanya seperti sudah lama sekali dia tak mengendarainya. Dengan kakinya yang lebih pendek memang rasanya aneh, namun tidak masalah.
Dia menempuh perjalanan cukup jauh, sambil mendengarkan musik. Ini seperti waktu liburan baginya yang dia manfaatkan dengan baik, tak ada lagi panggilan meeting, pesan-pesan yang mengganggunya menanyakan keberadaannya.
Ada Xaviera yang menggantikannya, mungkin ini lah keuntungan memiliki kembaran, pikirnya.
Mobil terus melaju hingga memasuki kawasan pantai, dia memperlambat laju kendaraan, menikmati semilir angin dari jendela yang sengaja dia buka.
Dia menatap ombak yang bergulung-gulung menghantam batu karang, atau lenyap di tepian pasir.
Hingga dia melewati jalanan menanjak ke atas bukit, di mana dia bisa melihat lautan itu dengan lebih jelas.
Dia menepikan mobilnya, mungkin karena merupakan hari kerja sehingga tempat ini cukup sepi.
Dia bersandar di body mobil dan menatap langit serta laut yang tampak menyatu di kejauhan.
Bukan tanpa alasan dia ke tempat ini. Dia pernah tinggal di daerah sini dua puluh tahun yang lalu. Bersama salah satu pengasuh mendiang ayahnya yang sudah menua.
Nenek tua itu mengajaknya tinggal di rumahnya tak jauh dari pantai ini, selama hampir sebulan. Ayahnya sakit keras dan kakeknya melarang dia menemui sang ayah di akhir hayatnya. Lagi pula ... mereka tak memiliki hubungan baik seperti ayah dan anak pada umumnya.
Ayahnya terlalu sibuk memperbesar perusahaan, memperbanyak kekayaan. Ibunya pun terlalu sibuk dengan urusan duniawi, bergaul sana sini dan menyerahkannya pada pengasuh juga guru les yang seolah tak ada habisnya.
Noel tersenyum miring, “kakek tua itu memang selalu percaya takhayul,” bisiknya lirih. Kakeknya berkata Noel tak boleh ada di rumah yang sama saat itu karena berbahaya bagi hidupnya. Dia harus tinggal jauh puluhan kilo meter sehingga diminta diasuh oleh mantang pengasuh ayahnya dulu yang saat itu memang sudah tua.
Noel tinggal di pesisir pantai, merasakan bermain dengan anak-anak seusianya, tak perlu sekolah, tak perlu les tiap waktu. Dia akhirnya merasakan indahnya masa kecil, berenang di laut, mencari kerang atau kelomang bersama anak-anak sebayanya.
Menunggu mereka pulang sekolah sambil membuat istana pasir, jika bosan dia akan naik ke bukit ini dan bersandar di pohon sambil memandang jauh ke depan, kadang juga dia ketiduran. Nenek pengasuh tak pernah mencarinya selama dia tak melewatkan jam makan karena semua orang di sini tahu bahwa dia adalah cucunya yang datang dari kota, tak sulit menemukannya di desa kecil ini.
Hingga Noel kembali dibawa pulang kakeknya, dia merasa waktu liburnya sudah usai dan ketika dia kembali ke rumah itu, tak ada lagi sosok ayahnya yang telah meninggal beberapa hari lalu. ibunya tampak sedih dan meratapi nasib ditinggal suaminya. Namun itu tak berlangsung lama karena tidak sampai sebulan setelahnya dia mulai kembali pada kesibukannya.
Bahkan Noel dipindahkan sekolah ke luar negeri dengan alasan dia ingin Noel menjadi anak yang pintar dan dia ingin move on dari suaminya, padahal di luar negeri dia lebih banyak waktu di luar rumah. Entah ke mana? Lalu sepuluh tahun lalu ibunya meninggal karena penyakit yang diam-diam menggerogotinya.
Noel lagi-lagi menghela napas panjang, hingga dia merasa mobilnya sedikit bergerak. Dia menoleh, mendapati seorang anak kecil mungkin berusia tujuh dan lima tahun mengusap mobil itu dan berdecak kagum.
“Kakak, mobilnya bagus,” ujar mereka.
Noel menatap pakaian mereka, cukup lusuh, namun mereka memiliki senyum yang familiar.
“Anak-anak, jangan dipegang itu mobil mahal!” ujar seorang wanita yang berjalan sambil memegang payung, perutnya tampak membuncit besar. Lalu ingatan Noel mengawang lagi pada masa kecilnya yang tinggal di sini, pada teman perempuan yang pertama kali disukainya dan bisa disebut cinta monyet.
“Kamu Anya?” tanya Noel. Wanita hamil itu mengangguk.
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Noel tersenyum dan menghampirinya, ‘kamu cinta monyetku, aku bahkan masih ingat ciuman pertama kita dulu,’ ucapnya dalam hati yang jelas saja takkan dia keluarkan karena dia masih berada dalam tubuh Xaviera.
***