9. Kesederhanaan Cinta

1704 Kata
Kini Xaviera menyadari alasan Noel menghindari rapat kali ini. Rapatnya benar-benar membosankan. Sungguh, dia harus menutupi mulutnya berkali-kali karena menguap. Bahkan Sherlita yang berada di sampingnya sudah masuk ke alam mimpi, dia pura-pura menunduk menopang tangan di dagu, namun Xaviera tahu wanita itu sudah tidur, dengkur halus sesekali terdengar, untung tempat itu sangat luas dan microphone menyala kencang. Hingga Xaviera mendapat pesan masuk dari Noel, “setelah meeting pergi ke café Treetan, temui Kaisar untuk ambil kontrak kerja sama,” tulisnya. Singkat padat dan jelas. Xaviera mendengus sebal, dia tak suka Kaisar, ucapannya terlalu frontal. Dan dia membenci tatapannya yang selalu merendahkan apalagi pria itu menyelengkatnya saat futsal. Namun, Xaviera tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti keinginan Noel. Pria itu cukup royal terhadapnya dan sejujurnya dia cukup baik untuk ukuran seorang pria konglomerat. Lagi pula dia tak bisa berbuat apa-apa dengan tubuh yang tertukar ini. Kembali pada Noel yang kemudian mengunci layar ponselnya. “Kamu mengenalku?” tanya Anya dengan wajah penasaran. Noel mengatupkan mulutnya, dia kelepasan memanggil namanya tadi. “Aku Xaviera, asisten Tuan Noel, hmmm kebetulan aku pernah melihat foto kecil kalian dan tidak ada yang berubah kecuali rambut kamu yang panjang dan wajah lebih dewasa,” ucap Noel. Anya tertawa, dan senyum itu … senyum gadis kecil yang manis yang mengajarkan banyak hal. “Mereka anak-anak kamu?” tanyanya lagi karena Anya hanya terdiam. Wanita hamil itu mengangguk. “kalian mau kakak antar pulang?” tanya Noel pada anak kecil itu dengan suara dibuat lembut seperti wanita sungguhan. “Boleh kan bunda? Ayolah bunda boleh kan?” ucap keduanya merengek. “Maaf kalau merepotkan,” ucap Anya. “Enggak kok, ayo masuk,” ujar Noel meminta kedua anak Anya masuk, Anya menyusul mobil itu, tak terlalu luas dalamnya namun cukup untuk menampung mereka semua. Ketika pedal gas ditekan, deru suara mesinnya membuat kedua anak Anya tertawa girang. Noel melajukan mobil itu. Anya tak pernah menyangka dia bisa berada dalam mobil mewah. Dia menunjuk jalanan menuju rumahnya yang sebenarnya Noel tahu meski sudah sekitar dua puluh tahun lalu, namun memang tak banyak perubahan di desa pesisir pantai ini. Yang berubah hanya nenek pengasuh telah lama tiada, beberapa bulan setelah Noel tinggal di luar negeri bahkan dia tak menyaksikan pemakamannya. “Bagaimana kabar Noel sekarang? Anak kota itu, pasti sibuk ya,” gumam Anya. Selama sebulan bermain bersama meninggalkan kesan tersendiri di hati Anya dan tentu saja di hati Noel. “Dia sedang meeting, sibuk dari meeting satu ke meeting lain, sibuk memperkuat perusahaan,” jawabnya. Anya tertawa lagi seolah mengingat kenangan dulu. “Dulu saat hari pertama datang, dia enggak mau masuk ke laut, katanya takut kulitnya hitam,” tutur Anya membuat Noel tertawa, tentu dia ingat itu. “Tapi tiga hari kemudian, dia justru yang paling susah dipanggil naik, setiap siang sampai sore berenang, cari karang, nangkap ikan kecil, sampai nenek pengasuhnya teriak-teriak manggil dia,” kekeh Anya. Noel melirik ke arah Anya, ingatan itu rupanya masih melekat juga di kepala Anya, “oiya?” tanya Noel berpura-pura terkejut mengetahui hal ini. “Sampai akhirnya dia bilang, kalau liburan kali ini adalah liburan yang paling berharga dibanding liburan ke tempat mahal sekalipun, di sini dia jadi diri sendiri. Dia enggak harus dipaksa belajar, dia bisa makan apa saja. Saat … ayahnya meninggal pun dia berusaha bersikap biasa saja, tapi aku tahu dia diam-diam menangis,” kenang Anya. “Dan?” tanya Noel. Wajah Anya tersipu, lalu dia menggeleng. “Sudah,” ucapnya berbohong. Noel tersenyum tipis, dan saat itu Anya menghiburnya dan memeluknya, lalu Noel mengecup bibir itu, hanya bebepara detik sebelum keduanya memutuskan untuk pulang dan setelah itu tak bertemu lagi dalam waktu yang sangat lama. “Itu parkir di sana saja,” tunjuk Anya pada jalanan kecil di belakang rumah sederhana. Yang seperti masih tahap renovasi kecil-kecilan. Jaring nelayan, box plastik berada di sisi rumah itu. Seorang pria bertubuh tegap dan kulit legam terbakar matahari keluar dari rumah itu, kedua anaknya melompat turun dan memeluk ayahnya. Pria itu kemudian membantu Anya turun dan tersenyum sopan pada Noel dalam wujud Xaviera itu. Noel ikut turun dari mobil, Anya ragu menawarinya singgah. Namun kata-kata itu keluar juga dari mulutnya, “mau mampir? Maaf rumahnya kecil,” ucap Anya. Noel mengangguk, “aku butuh sedikit istirahat kayaknya, capek juga nyetir dari ibu kota,” tuturnya pelan. Anya mengangguk, suaminya tetap memegang lengannya membantu wanita hamil itu berjalan. Noel memperhatikan rumah kecil itu, rumah yang menurutnya tergolong miskin dibandingkan dunia yang biasa dia tinggali, namun entah mengapa terasa hangat. Dia duduk di teras, Anya membawakan minuman dingin. Anak-anak duduk tak jauh darinya, membuka bungkusan makanan dan suami Anya tampak membantu mereka. “Suami kamu enggak kerja?” tanya Noel. Anya menoleh ke arah suaminya yang bercanda dengan kedua anaknya. Anya tersenyum tipis. “Dia hanya nelayan biasa, penghasilannya tidak besar, tapi cukup untuk kita berlima makan, lagi pula … ,” ucap Anya sambil mengusap perutnya, “kami bisa makan apa saja yang ada di laut,” kekehnya ringan. “Kamu kelihatan sangat mencintainya? Meski dia …. Bekerja sebagai nelayan?” tanya Noel sambil menelan salivanya ada rasa tercekat di tenggorokan. “Ya, kami saling mencintai … lagi pula cinta itu enggak selalu tentang materi kan? Dia sangat baik, dia mencari uang, melakukan pekerjaan rumah tangga, dia enggak membiarkan aku kecapekan, bisa dibilang dia meratukan aku meski dia raja yang miskin,” kekeh Anya menutupi getir. “Dan kamu bahagia?” tanya Noel. Anya dengan tegas mengangguk, “sangat,” jawabnya. Jawaban itu sederhana, namun menghantam Noel sangat kencang. Di dunia tempat dia dibesarkan, cinta yang dia lihat datang dengan syarat, status sosial dan perhitungan. Namun, di rumah kecil ini, di pesisir pantai ini … dia melihat sesuatu yang jarang dia lihat, cinta tanpa syarat. Sebelum pamit, Noel berjongkok di depan dua anak itu, dia membuka dompet dan mengeluarkan lembaran uang dari dompet itu menyerahkan pada mereka berdua. “Belajar yang rajin ya, jadi anak sukses dan membanggakan bagi bunda kalian,” ucap Noel. Kedua anak itu mengangguk dan meloncat senang menerima uang tersebut. Anya tak menyadarinya. Saat mobil kembali menjauh dari pekarangan rumah kecil itu, Noel memandangi pantai yang masih sangat biru. Mungkin ini pertama kalinya dia merasa beruntung tertukar tubuh karena dia bisa bebas ke mana pun tanpa pengawasan dan tanpa diekori oleh pengawalnya. Dia bahkan tak perlu takut bertemu orang lain karena berpikir ada yang akan mengintainya. Dari Anya dia melihat dunia yang berbeda, dunia dengan cinta yang berawal dari kesederhanaan. Lalu dia mulai bertanya, jika dia berada di posisi suami Anya, akankah Olivia tetap mencintainya? Atau justru pergi meninggalkannya? Noel kini memahami ada cinta yang tidak membutuhkan harta dan nama besar, hanya membutuhkan hati yang tulus. *** Café Treetan itu tak terlalu ramai di siang hari. Interiornya modern, jendela besar menghadap ke jalan utama, namun café ini memang sangat klasik dan terlihat ‘mahal’. Xaviera dalam tubuh Noel duduk dengan punggung sedikit tegang, dia sudah menanggalkan jasnya dan diletakkan di mobil. Kemeja dengan dasi yang mengikat lehernya itu tampak begitu pas dengan lekuk tubuhnya yang jantan. Di hadapannya Kaisar bersandar santai di kursi. Dia memakai vest rajut di luar kemejanya, mungkin mencontoh gaya pria korea. Tak tahukah langit negara ini sedang panas-panasnya? Pertemuan ini memang semi formal, hanya pertemuan bisnis yang merupakan perpanjangan dari pertandingan futsal lalu. “Selamat, porsche-mu aman dan seperti kesepakatan, kontrak tender ini milkmu,” ucap Kaiar sambil menyodorkan map hitam ke atas meja. Xaviera menatap map itu sekilas, tangannya ingin langsung membuka, namun dia menahan diri. “Thanks,” ucapnya tenang. Pelayan datang dan bersiap mencatat menu, “seperti biasa americano double shot tanpa gula?” tanya pelayan pada Noel sepertinya pria itu memang sudah sering ke sini sampai menunya pun dihapal di luar kepala. Xaviera hampir menjawab iya, namun karena refleks dia kemudian berkata, “latte dingin saja, dan satu chocolate cake.” Kaisar mengangkat alisnya, hening sepersekian detik ketika pelayan mencatat dan pergi. Kaisar meletakkan siku di meja,menopang dagunya sambil tersenyum miring seperti mengejek. “Latte dingin? Dan cake?” tanyanya menyindir. Xaviera merasakan sedikit meremang, “sedang ingin saja,” jawabnya berusaha bersikap santai dan sedikit menyesal harusnya dia mengiyakan saja pertanyaan dari pelayan tadi. Kaisar tertawa kecil, “sejak kapan kamu suka manis? Bahkan saat meeting terakhir saja kamu enggak pernah menyentuh dessert?” “Orang kan bisa berubah,” ucapnya pelan, mengambil berkas perjanjian kerja sama itu untuk menghilangkan gugup. Es kopi datang beserta sepiring kecil potongan kue yang menggugah selera. Xaviera langsung menyesap minumannya, kopi mahal memang rasanya berbeda, tak lupa dia mengambil suapan pertama di kuenya, lalu lanjut ke suapan kedua. Dia tak mau menyiakan sepotong kue yang harganya bisa membeli satu loyang kue di toko kue sederhana depan kostnya itu. Xaviera kembali membuka map, melihat halaman pertama saja yang sudah membuatnya pusing. Dia lelah belajar kontrak, pasal, angka dan ketentuan hukum yang dicekoki Noel setiap hari agar dia terbiasa katanya. “Aku akan mempelajarinya dulu,” ucap Xaviera sambil menutup kembali map itu sebelum membaca kontrak keseluruhan. Kaisar tersenyum lebar dan terlihat memandangnya dengan pandangan nyinyir, “mempelajari? Noel yang kukenal biasanya hanya butuh dua sampai tiga menit sebelum tanda tangan?” Jantung Xaviera berdetak lebih cepat. Dia tidak bersama Noel sekarang, tidak ada earphone dan arahan. Dia sendirian kini. “Aku enggak suka tergesa-gesa akhir-akhir ini, resiko terlalu besar,” ucapnya. Dia hanya membaca sekilas, angka ratusan milyar yang terpampang. Membuatnya yakin circle dari tubuh pria yang dihinggapinya ini bukan main-main. Bahkan berbicara kontrak semahal itu saja bisa dilakukan di café. Xaviera saja tak pernah melihat wujud uang 1 milyar, apalagi ratusan milyar seperti itu. Xaviera kemudian kembali memakan cake tersebut, sampai tandas, menyeruput sisa es kopinya. Lalu dia berdiri perlahan mengambil map itu. “Kita bicara lagi setelah aku memeriksanya dan terima kasih untuk waktunya,” ucap Xaviera sambil lalu. Dia tidak memberi waktu Kaisar untuk menyindirnya dan dia pergi lebih cepat dari yang direncanakan. Kaisar menelengkan wajahnya, menatap cara jalan Noel yang terlihat aneh seperti dipaksakan. “Apa yang terjadi padanya sebenarnya?” gumam Kaisar meninggalkan tanda tanya besar di hatinya? Dan dia sangat ingin tahu, dia menyadari kesempatan untuk merebut Olivia tak mungkin datang berkali-kali kan? Kali ini dia pasti berhasil jika tahu Noel yang mereka kenal, bukan Noel yang biasanya! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN