10. Sengatan Listrik Ribuan Volt

1601 Kata
“Bagaimana Tuan?” tanya Darma ketika Xaviera dalam tubuh Noel itu memasuki mobil, diserahkan berkas itu ke arah Darma sang ketua pengawal yang bisa dibilang tangan kanan kepercayaannya. “Aku akan pelajari dulu,” ucapnya pelan, menatap ke arah jalanan. Mobil pun melaju perlahan. Darma mengernyitkan kening, pelajari dia bilang? Noel sebelumnya tak pernah mempelajari kontrak yang memang sudah dia sepakati. Apa yang terjadi? Hari ini Noel tak seperti biasanya, apakah karena tak ada Xaviera di sampingnya? Darma terus berspekulasi tanpa bertanya langsung pada tuannya. Xaviera memperhatikan jalanan yang lengang, dia tahu jalanan ini. Di ujung jalan ada toko buku besar yang berdiri sendiri. Dulu dia sering menghabiskan waktu membaca buku untuk kuliah, terkadang dia membeli komik atau novel yang dia sukai dari hasil freelance mengedit komik. Sejujurnya dia juga ingin bisa membuatnya, namun otaknya terasa tumpul, dia selalu kehilangan inspirasi di tengah jalan, hingga komik buatannya hanya akan teronggok tak jelas dalam tablet secondnya yang entah dia letakkan di mana sekarang. “Darma, tolong berhenti di toko buku depan,” ujar Xaviera memberi perintah. “Toko buku di ujung jalan?” tanya Darma mengulang. “Ya, hanya itu toko buku satu-satunya di sini kan?” ucapnya. Xaviera selalu suka membaca buku fisik, aroma dari buku itu seperti membuatnya kecanduan. Darma memberi instruksi pada sopir yang bertugas, mereka membelokkan mobil itu tepat di depan pelataran toko buku. “Tunggu sini saja,” ucap Xaviera. Dia pun turun dengan langkah pasti, meski dia masih belum terlalu terbiasa membawa tubuh besar itu. Dipandang pintu kaca yang memantulkan bayangannya. Ah dia cukup tampan untuk ukuran seorang pria, dan juga kaya raya! Dia memasuki toko tersebut, sepi. Penjaga toko bukunya seorang pria yang pernah ditaksir Xaviera sayangnya, pria itu sudah menikah. Namun, kini pria itu tampak sedih. Atau mungkin lelah? “Selamat datang,” sapanya dengan suara pelan. Bukan seperti pria ceria yang Xaviera kenal. Xaviera hanya mengangguk, “buku bisnis ada di sebelah sana,” tunjuknya. Xaviera menggeleng, “saya cari buku novel dan komik, untuk ... adik saya,” ucapnya. “Oh baik saya antar,” jawabnya. Tinggi mereka sejajar, Xaviera bisa merasakan aroma parfumnya yang menenangkan seperti ada campuran teh. Pria bernama Armano menoleh ke arahnya yang terdiam, “ada apa?” tanyanya. Xaviera menggeleng, “enggak,” jawabnya pelan dengan suara yang cukup feminim, dia menutup mulutnya sendiri ups lagi-lagi dia bergaya feminim. Xaviera merasa salah tingkah berada di dekatnya, hingga Armano tampak sedikit kikuk dan menjaga jarak aman. Ya lah, dia kan normal! “Di rak itu,” tunjuknya. Bahkan tanpa ditunjukkan pun Xaviera tahu, dulu jika bosan dan mood untuk keluar dari kostnya sedang timbul, dia lebih sering menghabiskan waktu di sini, membaca buku-buku yang sudah dibuka. Seperti perpustakaan saja. Xaviera melangkah maju, melihat kumpulan komik, matanya membelalak. Seri terbaru sudah keluar! Ah kemana saja dia selama ini? Hal yang dulu tak pernah bisa dia lakukan, kini dilakukan olehnya. Memborong komik! Toh dia memiliki uang di akun banknya kan? Dia juga membeli beberapa novel romance, masih jauh lebih menyenangkan dibanding menatap pasal-pasal dan klausul kerja sama yang membosankan. Kadang tulisan itu seperti semut yang berjejer mencari makanan. Ketika dia kerepotan membawa tumpukan itu, Armano kembali menghampiri memberikan keranjang padanya. “Ah thanks, Mas Armano,” ucapnya refleks. “Kamu tahu nama saya?” tanya Armano. “Itu ... asisten saya sering ke sini katanya namanya mas itu Armano,” ucap Xaviera menggigit bibirnya sendiri, sungguh dia merasa begitu bodoh bisa kelepasan begitu saja. Armano hanya tersenyum tipis dan mengangguk, “siapa asistennya? Kalau dia sering ke sini mungkin saya kenal,” tanyanya. “Xaviera,” jawabnya. “Oh dia, sudah lama enggak kelihatan ternyata sudah dapat kerja ya,” tutur Armano, dia berjalan ke meja kasir bersama Xaviera. “Sudah,” jawab Xaviera pelan. Ketika Armano men-scan barcode buku-buku tersebut, dia kemudian mengeluarkan satu buku dari dalam laci. Memasukkan dalam kantung belanja. “Boleh titip untuk Xaviera, dulu dia cari buku ini, saya menemukannya di rak paling dalam,” ucapnya. “Scan saja sekalian,” ucap Xaviera dingin, padahal hatinya berdegup kencang, buku itu adalah buku novel lama yang sudah sangat dia incar, namun ketika dia ingin membelinya, novel itu justru tak diketemukan. “Ini gratis, anggap saja hadiah karena dia sudah memiliki pekerjaan sekarang.” “Jangan,” tolak Xaviera, “nanti istri kamu marah, Xaviera bilang kamu sudah menikah?” Armano tersenyum getir, “ternyata kalian sedekat itu,” ucapnya yang entah kenapa seperti bernada kepedihan. “Enggak sedekat itu, hanya kebetulan,” jawab Xaviera membuang pandangan ke arah ponselnya yang sudah membuka aplikasi perbankan. “Kami sudah berpisah, dia pergi karena enggak tahan hidup dengan saya,” kekeh Armano seraya memasukkan buku terakhir yang dibeli Xaviera ke dalam tas belanja. “Mungkin,” ujarnya menatap Xaviera dalam tubuh Noel itu dari atas ke bawah, jam tangan mahal, pakaian branded, “jika saya sekaya anda, dia enggak akan pergi,” ucapnya. Xaviera membayar belanjaan itu, “enggak semua orang memandang cinta dengan harta, pasti masih ada orang yang tulus, selama mereka mau berjuang bersama,” ucapnya. Lalu dia menambahkan, “terima kasih.” Armano terdiam, mengapa rasanya sangat familiar? Padahal ini pertemuan pertama mereka. Dia pun keluar dari toko buku, disambut oleh Darma, seorang CEO dingin yang biasanya hanya membaca laporan bisnis dan jurnal ekonomi, kini keluar dari toko dengan dua kantong besar yang Darma intip isinya sungguh di luar nalarnya. Buku komik, novel romance dan light novel dengan sampul berwarna. Darma memandangnya dengan wajah yang sangat terlatih untuk tak berekspresi berlebihan, namun dia tetap terlihat bingung. “Tuan ... membaca ini?” tanyanya pelan. Xaviera mengambil satu novel yang dititipkan untuknya itu dengan wajahnya yang justru tampak santai. “Xaviera suka roman picisan, aku hanya ingin tahu apa dia suka pilihanku?” ucapnya ringan. Darma terdiam, duduk di depan memangku dua kantung berisi buku-buku itu. Sementara Xaviera dalam sosok Noel itu di belakang membuka bungkus plastik dari novel itu, menghirup aromanya dengan dalam seolah memasukkan aroma itu ke otaknya. Dia membaca halaman depan novel yang sangat dia cari itu, untuk hari ini dia merasa menjadi seperti dirinya sendiri meski di tubuh orang lain. Namun, jauh di dalam pikirannya dia mulai sadar bahwa semakin lama dia menjalani hidup Noel dengan caranya sendiri, semakin sulit membedakan mana yang topeng, mana yang nyata? Darma kemudian membuka ponselnya yang berisi pesan masuk. “Tuan, bulan ini belum massage, mau mampir?” tanyanya membuat Xaviera menatapnya dengan pandangan horor. “Massage? Sama laki-laki?” tanyanya. “Bisa sama perempuan juga, mau dibuat janji temu?” tanyanya. Xaviera mendengus, apa yang Noel pikirkan ketika dipijat oleh perempuan? Dasar m***m! “Sama laki-laki saja,” ujarnya, biar bagaimana pun ini tubuh laki-laki, tapi ... apa dia bisa dipijat oleh laki-laki? Xaviera mulai meragukan dirinya sendiri. Namun, dia paham jika dengan terapis laki-laki tak mungkin pria itu memijat bagian yang tak seharusnya kan? Ketika tiba di tempat massage dan spa, dia pun langsung dihela masuk ke satu ruangan privat. Ruangan itu sangat besar, seolah satu lantai hanya untuk satu ruangan, suasana temaram dengan lampu yang menyala lembut. Aroma terapi dari lavender dan kayu manis mengisi udara, menenangkan sejak tarikan napas pertama. Xaviera dalam tubuh Noel berdiri sejenak di tengah ruangan. Di sudut ruangan, air mengalir pelan dari batu alam, menciptakan suasana syahdu yang membuat pikiran terasa ringan. Dia menghembuskan napas panjang. Memakai kimono khusus. Terapis masuk tak lama kemudian, seorang pria tinggi mengenakan seragam spa berwarna krem, gerakannya tenang dan profesional. “Silakan berbaring, Tuan Noel, sudah lama tak berkunjung?” ucapnya sambil tersenyum sopan. Xaviera menurut, merebahkan tubuh di atas ranjang pijat yang lebar dan empuk. Sentuhan pertama minyak pijat terasa hangat, meresap perlahan ke kulit. Begitu tangan terapis mulai bekerja, Xaviera langsung merasakan sesuatu yang jarang dia rasakan. Jantungnya berdegup kencang, dia tak pernah disentuh laki-laki seperti ini sebelumnya. Pijat saja mungkin hampir tak pernah. Apalagi disentuh pria. Namun, dia terus menguatkan pikirannya dan berkata ini hanya pijat. Laki-laki atau perempuan sama saja. Terapis itu memberi tekanan di bahu, tempat semua ketegangan selama ini bersarang. Jari-jari terapis bergerak mantap, tahu persis titik mana yang perlu ditekan kuat dan dilepas. Xaviera yang tertelungkup itu tanpa sadar menghela napas lebih panjang, lalu dia masuk ke alam mimpinya dengan dengkuran halus dan terapis itu tetap memijatnya. Xaviera sepertinya terbangun, tubuhnya masih dipijat di bagian punggung. Namun dia merasakan sesuatu yang berbeda, dia menunduk melihat tubuhnya yang ternyata sudah kembali ke tubuh sendiri. Wajahnya memerah ketika dia menoleh mendapati terapis pria itu masih tersenyum seraya memijat bahunya. “Tidak! Aku sudah kembali!” gumamnya. Terapis itu masih memijat bahunya dengan lembut, lalu turun ke pahanya. Xaviera meremang, merasakan bahwa dia tak berbusana. Wajahnya memerah, bagaimana cara dia kabur? “Pergi!” ujarnya. “Ha?” tanya sang terapis tampan itu. “Pergi, tolong,” ucap Xaviera, terapis itu tak mengerti hingga Xaviera menarik handuk dan menutupi bagian atas tubuhnya. Bukannya pergi, terapis itu justru maju kian mendekat, Xaviera mendorongnya dan hal itu justru membuat handuk terlepas dari pegangan, “kamu seksi sekali, kita main sebentar yuk, kamu pasti puas,” bisiknya seraya memegang punggung Xaviera dan mencumbu bibirnya dengan panas. Sementara jemarinya mulai naik turun di punggungnya, sialnya Xaviera tak bisa melawannya, dia seperti terhipnotis hingga jemari pria itu menyentuh bagian paling sensitif tubuhnya membuat Xaviera meremang. “Jangan ... jangan di situ!” ujarnya. Dia seperti terkejut dan terjatuh, ketika dia membuka mata, hal yang lebih mengejutkan dari mimpi itu justru ada di hadapannya. Noel menyatukan bibir mereka selama sepersekian detik lalu dia melepas kecupan itu, “mimpi buruk? Hm?” Dan saat itu juga Xaviera merasa seperti terkena sengatan listrik ribuan volt! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN