Sepulang dari perjalanan di pesisir pantai itu, Noel dalam tubuh Xaviera yang mengendarai mobil kesayangannya pun berniat untuk melakukan massage, tubuhnya sudah terasa kaku dan dia membutuhkan terapis. Terapis wanita yang sering menggodanya dan memberikannya kepuasan lebih. Pikirannya sudah dipenuhi hal-hal menyenangkan, hingga ketika dia memarkirkan kendaraan itu dia melihat mobilnya yang lain juga terparkir.
Saat Noel keluar dari mobil, dia menatap Darma yang duduk di kursi taman sambil menikmati kopi hangat bersama sopirnya. Darma mengangkat tangan menyapanya membuat Noel mendesis, dasar pria itu, jika dia di tubuhnya yang asli pasti Darma sudah tergopoh menyambutnya.
Hingga Noel menghampirinya, “Xav-ehm maksudnya Noel di dalam?” tanya Xaviera.
“Iya Nona, Tuan sedang pijat, biasa kegiatan rutin,” ucap Darma santai, “kopi?” tawarnya. Noel menggeleng dan mendengus.
“Dengan perempuan atau laki-laki?” tanyanya.
Darma mengernyitkan keningnya, “laki-laki,” jawabnya.
“Wah mulai nakal,” gumam Noel sambil berjalan masuk. Darma dan sang sopir mengangkat bahunya acuh, “jadi bagaimana nonton timnas malam nanti?”
“Kita nobar, bos,” ujar sang sopir.
Sementara Noel melangkah masuk seperti terbiasa berada di tempat itu, “maaf Nona, dilarang ke ruang privat,” ucap sang resepsionis. Noel mengenalnya wanita itu juga pernah diminta melayaninya kan? Bahkan dia sering merayunya untuk mendapatkan tip darinya.
“Saya asistennya,” ujar Noel mendelikkan mata. Resepionis itu hanya menunduk takut, lalu Noel masuk ke dalam. Tampak Xaviera dalam tubuhnya itu tengah tertelungkup menikmati pijatan sang terapis, Noel mendekat ke wajahnya dan menggerakkan tangannya, sepertinya wanita itu tidur.
“Tinggalkan kami berdua,” ucap Noel pada terapis. Terapis itu hanya mengangguk sambil membawa handuk kecil untuk membersihkan tangannya.
Noel membungkuk menatap wajahnya yang tertidur pulas, sangat tenang dan damai, entah apa yang ada di pikirannya, dia pun memajukan wajahnya dan mengecup bibir itu, hingga Xaviera terkejut dan terbangun.
“Noel?” ujarnya terperanjat. Noel tertawa, “cepat juga ya bangunin kamu,” kekehnya.
“Mana-mana terapis itu? Ngapain cium-cium!” gertak Xaviera menyeka sudut bibirnya.
“Jadi enak dipegang-pegang laki-laki?” tanya Noel.
“Aneh kalau dipijit wanita kan!” cebik Xaviera.
Noel menghela napas panjang, “tubuhku biasanya dipijat wanita,” ucapnya mengerling nakal.
“Dasar cowok m***m!” ujar Xaviera.
“Tadi aku sempat berpikir, jangan-jangan kita bisa tertukar lagi kalau kita ciuman,” kekehnya.
“Tadi aku mimpi kembali ke dalam tubuhku,” ucap Xaviera, “tapi kamu menghancurkan mimpi itu!” gerutunya membuat Noel tertawa.
“Apa kamu mimpi m***m?”
“Enggak!” jawab Xaviera cepat, namun wajahnya sedikit memerah.
“Ya sudah kamu pijit di sini saja, aku di ruangan lain.”
“Sama laki-laki?” tanya Xaviera, “jangan aneh-aneh sama tubuhku!”
“Hei hei, aku masih normal, masih suka perempuan!” gerutu Noel sambil berjalan meninggalkan ruangan itu, dia melihat sang terapis tadi tak jauh dari ruangan.
“Lanjutkan saja, tapi jangan sentuh yang aneh-aneh, dia milikku,” gumam Noel membuat terapis itu mengangguk.
Dia pun mereservasi ruangan lain, ruangan yang lebih kecil dengan terapis wanita. Dia menatap gadis yang baru masuk, dia belum pernah dilayani wanita itu sebelumnya.
“Nona silakan ganti pakaiannya,” ucap perempuan itu.
“Nama kamu siapa?” tanya Noel mengerlingkan matanya genit, gadis itu sedikit terkejut lalu dia menunduk, “Alya, nona,” jawabnya.
“Oh baru ya?” tanyanya.
“Baru dua minggu,” jawabnya. Noel menatapnya dari atas ke bawah, tubuhnya begitu menggoda, sayangnya dia di dalam tubuh Xaviera, akan aneh jika dia memintanya melayani lebih kan?
Noel mengganti pakaian dengan kemben yang disiapkan, dia menelungkupkan tubuhnya di ranjang. Wanita itu mulai memijat kakinya dengan lembut.
“Sudah cukup kekuatannya?” tanya Alya.
“Sudah,” jawab Noel, “lebih ke atas lagi, ya disitu,” ucap Noel tersenyum nakal. Alya masih memijatnya.
“Tadi katanya nona asisten tuan Noel ya?” tanyanya.
“Kamu kenal?” tanya Noel, dia saja baru bertemu dengannya kan?
“Enggak ada yang enggak kenal tuan Noel, dia royal, baik dan ... suka yang lebih,” kekeh Alya, “kupikir hari ini hari keberuntunganku,” ucapnya jujur.
Noel hanya tersenyum, “nanti kamu pasti dipilihnya,” ucapnya, dalam hati dia berkata nanti jika sudah kembali ke tubuhnya, mungkin dia akan menggoda Alya.
“Tuan Noel itu sibuk banget ya, perusahaannya besar dan katanya ada perusahaan di luar negeri juga,” ucap Alya.
“Ya betul sekali, wah gosipnya menyebar luas ya,” tukas Noel sambil memejamkan mata, pijatannya sangat enak, tepat ke urat-uratnya yang kaku.
“Sudah lama tidak pijat ya Nona, badannya kaku banget,” ucap Alya.
“Aku juga lupa kapan terakhir pijat,” dehemnya.
“Nona sudah lama kerja sama tuan Noel?” tanya Alya. Noel mulai merasa curiga, mengapa wanita ini terlalu cerewet? Apakah memang dia sangat senang berbicara.
“Aku mengantuk, jangan ajak bicara dulu,” jawab Noel. Dia mulai kembali curiga pada orang-orang di sekitarnya, mengingat Juan bisa saja menyusupkan orang di lingkungannya untuk mencari tahu tentangnya dan menghancurkannya.
“Maaf Nona, saya lancang. Saya hanya ingin mendapat penilaian baik karena saya membutuhkan kerjaan ini, tolong jangan komplain tentang saya ya Nona,” ucapnya mengiba. Noel menghela napas panjang. Ah sepertinya dia terlalu curigaan. Mungkin Alya tak seperti dugaannya.
“Hmmm, iya tenang saja,” jawab Noel.
Alya tersenyum tipis, kembali melanjutkan memijatnya dengan lembut dan telaten. Lalu dia menatap Noel tajam, dan menggeleng tak berdaya, ada sesuatu dalam matanya yang tak biasa, seperti harapan yang pupus padahal ini adalah kesempatannya.
***
Malam harinya ketika Noel dan Xaviera telah berada di rumah, Noel dalam tubuh Xaviera menyempatkan diri menonton pertandingan sepak bola meski waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Xaviera keluar dan ikut duduk di sampingnya membawa buku komik yang dibelinya tadi.
“Astaga, jatuh wibawaku kalau ada yang liat bawa-bawa komik gitu Virul!” ujar Noel sebal.
“Kan enggak ada yang liat, Cinul!” geram Xaviera membuat Noel menahan tawanya.
“Jadi panggilan kita sekarang Virul dan Cinul? Lucu juga,” gurau Noel.
Xaviera hanya mendengus, “kamu belum minta maaf,” ucap Xaviera.
“Maaf kenapa?”
“Sudah cium-cium tadi!”
“Ya sudah balas aja kalau keberatan,” kekeh Noel membuat Xaviera menepok bahunya dengan buku komik di tangannya.
“Ingat kamu pakai tenaga cowok lho! Virul!” gerutu Noel mengusap bahunya yang sakit.
“Bantu aku besok,” ucap Xaviera.
“Bantu apa? Oiya kontrak sudah ditanda tangani, besok minta Sherlita kirim ke kantor Kaisar, lagi pula tinggal tanda tangan aja pakai dibawa pulang segala, time is money harusnya udah mulai jalan itu tender,” gumam Noel sambil mengangkat kedua kaki ke atas sofa dan menatap layar lebar di hadapanya.
“Hmmm.”
Noel merasa suasana mendadak terlalu sunyi, Xaviera kembali melanjutkan baca buku komiknya. Apakah dia telah salah bicara? Mengapa dia jadi pendiam. Raganya ada tapi entah ke mana jiwanya?
Hingga Noel berdehem, “mau minta tolong apa?”
“Sadar juga,” ujar Xaviera merajuk. Sangat tidak pantas dengan tubuh sebesar itu dia mencebikkan bibirnya seperti gadis remaja.
“Ya jadi apa?” tanya Noel tak sabaran.
“Tadi aku ke toko buku, terus ketemu pemiliknya, namanya Armano, aku sudah lama naksir dia. Yah tadinya kupikir perasaanku harus pupus karena dia sudah menikah, ternyata dia sudah berpisah dengan istrinya.”
“Jadi kamu minta aku merayunya? Enggak, aku enggak bisa merayu sesama jenis,” gerutu Noel.
“Bisa dengar dulu sebelum ambil kesimpulan enggak sih?” geram Xaviera.
“Iya iya, jadi apa?”
“Kamu besok ke tokonya, aku tunggu di luar, cuma temuin dia dan bilang makasih, novelnya sudah dibaca dan sesuai ekpektasi sangat seru. Gitu aja simpel, jangan berlebihan,” tukas Xaviera.
“Oke itu aja kan?”
“Ya,” jawab Xaviera sambil menguap, “kamu suka banget sama dia?” tanya Noel.
“Lumayan, aku tidur dulu, ngantuk,” ujar Xaviera meninggalkan Noel yang masih menonton televisi.
Entah mengapa pertandingannya jadi tak terlalu seru? atau memang permainannya yang mulai menurun. Dia pun mematikan televisinya, berjalan ke kamar yang dia tempati.
Ketika dia merebahkan tubuh di atas ranjang, dia merasa perutnya sedikit kram.
“Apa salah makan ya?” tanya Noel mengusap perut itu. Rasanya sungguh tak nyaman, namun dia mencoba mengabaikan dan memilih memejamkan mata, besok dia akan kembali ke kantor. Pasti dia akan sibuk mengecek dokumen lagi.
***
Keesokan harinya, Noel diantar Xaviera yang menunggu di depan toko, sebelum mereka ke kantor pun memutuskan untuk masuk ke dalam toko. Sementara Xaviera menunggu di mobil. Dia sebenarnya khawatir Noel akan berbuat sembrono, sehingga dia memutuskan mengintip dari celah jendela.
Noel tampak celingukan mencari pemiliki toko hingga seorang pria menyapanya, “Xaviera, kamu ... cantik sekali,” sapa Armano, Noel memperhatikan penampilannya. Jelas cantik dia memakai baju karya desainer, sepatu mahal dan sedikit pulasan lipstik di bibirnya. Noel dalam tubuh Xaviera mengibaskan rambutnya.
“Apa kamu sudah suka aku kalau aku berdandan seperti ini?” tanya Noel mengerling genit.
“Ha?” tanya Armano.
Noel mengerjapkan matanya lalu dia melirik Xaviera yang mengintip sambil memberi tanda seperti akan mencekiknya. Noel tertawa dan membuka kancing teratas kemejanya seraya membusungkan dadanya, tangannya dipakai menopang pinggangnya.
“Apa aku secantik itu?” tanyanya menggoda.
Armano tersenyum lebar, “ya kamu cantik dan tampak berbeda,” ucap Armano.
Noel memajukan wajahnya, menarik ujung kemeja Armano, “kapan-kapan kita jalan,” ajak Noel.
Xaviera tak tahan lagi, dia langsung masuk dan menarik tubuh itu menjauh dari Armano.
“Kita sudah enggak punya banyak waktu, katakan yang mau kamu katakan, karena kita harus meeting!” gerutu Xaviera memelototi Noel.
Noel mendengus, “komik eh novel kemarin, makasih ya aku sudah baca, tokohnya meninggal keren banget,” ucapnya asal.
“Meninggal?” tanya Armano sambil menahan tawanya. Xaviera menginjak kaki Noel kesal.
“Lho memangnya enggak meninggal?” tanyanya.
“Xaviera, kamu sedang demam ya?” tanya Xaviera seperti memberi kode agar mereka segera meninggalkan tempat itu.
Noel mencebikkan bibirnya lalu dia menoleh ke arah Armano, memaksakan tawanya, “aku hanya bercanda tadi, but terima kasih novelnya aku suka,” ucap Noel kali ini berusaha lebih natural.
“Sama-sama, dan selamat ya kamu sudah bekerja, semoga sukses karirnya,” ucap Armano tulus. Xaviera memandang wajah itu lekat, mata Armano menatapnya penuh kekaguman tak seperti dulu yang seperti menganggapnya adik saja, apa mungkin penampilan bisa merubah penilaian seseorang? Jika memang begitu, ingatkan Xaviera untuk tetap bergaya seperti yang dilakukan Noel sekarang, mungkin dengan seperti itu dia bisa memiliki kekasih nantinya.
***