Xaviera dalam tubuh Noel benar-benar tak habis pikir dengan yang dilakukan Noel tadi. “Kancingin pakaian kamu,” gertaknya menatap tajam Noel, bahkan dengan posisi daada membusung seperti itu kain penutup cupnya tampak terlihat dari atas, menyembul dengan pose menantang.
“Seksi gini, biar aja,” ujar Noel menggoda Xaviera, salah satu kebiasaan barunya sejak bertukar tubuh adalah dia menjadi gemar menggoda Xaviera.
“Tapi itu punyaku!” gumamnya. Sopir di depan melirik dari arah kaca spion. Noel tertawa dan mengaitkan kancing kemeja yang dipakainya. Beruntung tak ada Darma pagi ini yang katanya mengecek sesuatu, atau mungkin dia ketiduran karena begadang menonton bola, entahlah?
“Selera kamu memang kutu buku kayak gitu ya?” tuding Noel sambil membuka tablet di pangkuan seperti yang dia biasa lakukan saat perjalanan, dia selalu mengisi waktu untuk melihat perkembangan bisnisnya, membaca email atau salinan kontrak sebelum yakin untuk menanda tanganinya.
“Jangan hanya liat kutu bukunya aja, dia itu baik dan pintar, yang kusuka otaknya,” ujar Xaviera dalam tubuh Noel yang justru kini membuka salah satu novel dan mulai membacanya.
“Otak pria didominasi hal m***m, tahu?”
“Enggak, dan enggak semua laki-laki kayak gitu,” sungut Xaviera ketus.
“Semua laki-laki tahu isi otak laki-laki, Virul!” gerutu Noel. Xaviera mendengus, tak mau membahas lagi lebih jauh, toh hanya tubuhnya saja yang laki-laki tapi tidak dengan otaknya yang masih otak perempuan sejati.
Sepanjang perjalanan menuju perusahaan mereka lebih banyak berkutat dengan pikiran masing-masing. Hari ini pekerjaan tampak sibuk lagi seperti sebelumnya setelah seharian kemarin mereka agak sedikit lengang hingga bisa meluangkan waktu dengan hal lain.
Setelah makan siang, Xaviera dalam tubuh Noel kembali duduk di kursi meja besar dengan kedua tangan saling bertaut di atas meja, berusaha terlihat tenang setelah Darma datang dan meminta mereka berbicara secara rahasia, awalnya Darma hanya ingin Noel saja yang mendengarnya, namun tentu saja tidak bisa karena Noel ada dalam tubuh Xaviera, membuat mereka paham sesuatu yang penting dan rahasia pasti tengah terjadi.
Sementara di seberangnya, Noel dalam tubuh Xaviera itu berdiri bersandar di sisi jendela, menatap jalanan kota yang tampak dipadati kendaraan.
Pintu ruang itu tertutup rapat, dikunci oleh Darma dari dalam. Pria itu berdiri tegak di hadapan mereka. Wajahnya lebih kaku dari biasanya.
“Apa yang akan saya sampaikan, tidak boleh keluar dari ruangan ini,” ucapnya tegas. Xaviera mengangguk, Noel menoleh, sorot matanya langsung berubah tajam, “katakan.”
Darma menarik napas dalam, “saya sudah memeriksa ulang motor yang Tuan pakai saat kecelakaan.”
Entah mengapa ruangan terasa seperti menyempit, Xaviera menegakkan punggungnya tanpa sadar.
“Awalnya kami mengira itu kecelakaan murni karena Tuan yang melanggar batas kecepatan,” ucap Darma, dia berhenti sejenak lalu melanjutkan ucapannya, “tapi ternyata tidak sepenuhnya benar.”
Noel membalik tubuhnya dari arah jendela, maju ke samping meja yang diduduki Xaviera, “jelaskan,” ucapnya tajam.
Xaviera menatap Noel, “jelaskan terperinci Darma, jangan bertele-tele,” ucapnya menirukan gaya bicara Noel yang asli.
Darma membuka tablet di tangannya, menampilkan beberapa komponen motor.
“Ini,” tunjuknya pada layar yang menunjukkan benda di dalam motor, “baut pengikat pada sistem kemudi, kendor,” ucapnya.
Noel mengambil tablet itu memperbesar layarnya dengan mata menyipit. Sementara Xaviera ikut berdiri di samping Noel agar menghilangkan kecurigaan Darma karena tak mungkin wanita terlalu mengerti motor terkecuali dia memang hobi otomotif.
“Bukan hanya kendor, ada bekas congkelan paksa seperti dilakukan terburu, ulirnya pun tampak tidak wajar, seperti pernah dilepas lalu dipasang kembali dengan sengaja tanpa dikencangkan sempurna,” ucap Darma.
Noel merasakan darahnya mendidih, “motor itu dicek rutin kan setiap minggu?” tanyanya lalu dia menoleh ke arah Xaviera seolah meminta Xaviera memberi dukungan padanya.
“Tentu,” ucapnya.
“Saya yang memeriksanya dan membawanya ke bengkel langganan setiap minggu, Nona. Itu sebabnya saya yakin bahwa ini bukan kelalaian,” ucap Darma.
Xaviera menelan salivanya kasar, “itu berarti ada seseorang yang menginginkan kecelakaan itu terjadi?” tanyanya.
Noel mengepalkan tangannya, memperbesar gambar itu lagi dengan rahang mengeras dan pipi memerah bukan tersipu, melainkan marah yang tertahan. Dia memejamkan matanya sejenak, kenangan hari itu, kilatan cahaya, kehilangan kendali dan teriakannya sebelum menabrak Xaviera berkelebat dalam ingatannya.
“Dia tidak ingin ak-hmmm kamu mati,” ucap Noel perlahan, “kalau dia mau membunuhmu, caranya jauh lebih mudah dibanding hal ini,” tuding Noel ke arah Xaviera membuat Xaviera membeku ketakutan.
Darma mengangguk, “saya setuju dengan Nona Xaviera, ini seperti peringatan atau ancaman untuk melemahkan,” tuturnya.
“Juan,” bisik Noel, suaranya tidak keras, namun terdengar menggema. Tatapan matanya dingin, “dia mulai bergerak,” ucapnya lirih.
Belum sempat Darma menjawab, ada sesuatu yang mebuatnya menoleh cepat ke arah pintu. Dia melihat sebuah bayangan bergerak di balik kaca buram di sisi lorong. Seorang sepertinya berdiri terlalu lama di sana. Darma mengangkat tangan memberi isyarat untuk diam.
Noel dan Xaviera mengikuti arah pandangan Darma dan terpaku tak bergerak atau bersuara. Langkah kaki pelan terdengar dari luar, sangat pelan seperti mengendap. Darma bergerak tanpa suara, mendekati pintu, matanya menajam dengan terlatih.
Tiba-tiba. “Hei! Kamu ngapain di situ?”
Suara perempuan memcah ketegangan. Suara itu berasal dari Sherlita, sekretaris kantor Noel. Bayangan di balik kaca tersentak. Pintu lorong terbuka sedikit, dan Darma melihatnya, seorang berseragam khas office boy, memakai topi yang ditarik rendah, tubuhnya terlalu tegang jika hanya kebetulan lewat.
“Kamu disuruh siapa berdiri di sini? Area ini terbatas!” ujar Sherlita dengan suara meninggi.
Office boy itu tidak menjawab, dia mundur satu langkah, lalu dua langkah. Dia berbalik dan berlari, Sherlita langsung melepas dokumen dan bersiap menghadangnya namun dia mendorong wanita itu hingga terjatuh.
“Berhenti!!!” Darma membanting pintu ruang kerja dan langsung mengejarnya. Noel bergerak refleks, namun Xaviera menahan lengannya dan menggeleng, matanya tampak berkabut ketakutan.
“Jangan tinggalin aku sendiri,” cicitnya.
Noel menghela napas panjang, “sebentar,” ucapnya.
Dia pun keluar dari ruangan itu, melihat Sherlita yang berusaha bangkit, Noel membantu sekretarisnya itu.
“Kamu lihat orangnya?” tanyanya.
“Tidak Xaviera, dia menutupi wajahnya dengan topi, tapi ada kamera CCTV,” tunjuk Sherlita. Noel mengangguk, lalu dia mengajak Sherlita dan Xaviera yang asli menuju ruang kamera pengawas.
Darma mengejar pria itu sampai ke pintu darurat, menghubungi anak buahnya dan petugas keamanan untuk memblokir jalanan. Pria itu sangat lincah seolah sudah sangat menghapal gedung ini.
Ketika Noel, Xaviera dan Sherlita tiba di ruang kamera pengawas, ruangan itu tampak gaduh, semua alat mati. Noel dalam tubuh Xaviera tersenyum tipis, tertawa kecil seolah mengalami hal yang lucu. Sementara Xaviera justru bersandar di dinding ketakutan.
“Maaf Tuan Noel, tiba-tiba saja, semua kamera mati dan memori ter-restart, kami sedang coba pulihkan data tapi sepertinya gagal,” ucap manager keamanan membuat Xaviera menoleh ke arah Noel. Tiba-tiba pintu terbuka, Darma masuk dengan napas terengah.
“Dia berhasil lolos,” ucapnya penuh penyesalan.
“Kembali ke ruangan,” perinta Noel. Dia melihat kaki Xaviera gemetar. Dia menggenggam tangan itu dan menatapnya tajam sambil mendekatkan bibir ke telinganya meski dia harus berjinjit, “jangan tunjukkan sisi rapuh sekarang,” bisiknya.
Xaviera mengangguk, membiarkan Noel membawanya ke ruang kerjanya lalu dia menoleh ke arah Sherlita, “kamu istirahat saja dulu dan obati lukamu,” tunjuk Xaviera ke arah siku Sherlita yang tampak sedikit berdarah.
“B-baik tuan,” ringis Sherlita.
Manager keamanan terus membungkuk meminta maaf. Darma dan seorang anak buahnya mengikuti Noel yang menggandeng tangan Xaviera dan melangkah dengan pasti.
Kini anak buah Noel berjaga di depan ruang kerja Noel. Xaviera meneguk air hangat dan duduk di sofa, di sampingnya Noel bersandar sambil melipat tangan di d**a.
Darma tampak sangat gusar, baru kali ini dia benar-benar kecolongan, “dia tahu jalur staf bahkan jalan yang enggak semua orang tahu, pasti ada yang membantunya melarikan diri,” ucap Darma.
“Ini bukan hanya dugaan, tapi ini teror,” ucap Xaviera. Noel menatap wajah Xaviera yang pucat. “Dia bisa menyentuh motor, menghapus rekaman kamera dan mengirim orang untuk menguping,” imbuhnya.
Darma menunduk sedikit, merasa bersalah, “saya akan memperketat keamanan, tidak ada pergerakan tanpa pengawalan,” ucapnya.
“Kamu bisa pergi sekarang, cari lagi orang itu, kamu punya mata elang, kamu pasti bisa mengenalinya dari postur tubuhnya,” ujar Noel dalam tubuh Xaviera, lalu dia menoleh ke arah Xaviera, “tuan Noel yang cerita padaku,” ungkapnya agar tak menimbulkan kecurigaan.
Darma pun berdiri lalu membungkuk hormat dan keluar dari ruangan itu.
Noel menoleh menatap Xaviera, tangannya gemetar.
“Aku takut,” ucap Xaviera. Noel langsung memeluknya erat. Xaviera terkejut dan membeku, namun tanpa sadar dia membalas pelukan itu, jemarinya mencengkram erat baju Noel seolah itu adalah satu-satunya pegangan yang kuat.
Noel mengusap kepala Xaviera, rambut kasar itu terasa di jemarinya, dia menariknya agar pelukan mereka kian erat, “aku tahu dan itu wajar,” ucap Noel berusaha menenangkan.
Noel mempererat pelukannya, “dengarkan aku,” ucapnya yang kemudian melepas pelukan itu dan memegang kedua bahu Xaviera yang menatapnya dengan mata berair, “selama aku ada di dekatmu, enggak ada satu pun dari mereka yang akan menyentuhmu.”
Xaviera memejamkan mata sepersekian detik, lalu membuka mata untuk menatap mata Noel, manik mata yang seumur hidup dapat dia lihat dari pantulan cermin, kini dia lihat persis di depan matanya, dalam wujudnya, namun dihuni jiwa orang lain, “apa pun yang terjadi,” ucap Noel, “aku akan melindungimu, melindungi tubuh ini. Aku janji.”
Xaviera mengangguk pelan, kata-kata itu cukup kuat untuk menenangkannya sementara.
Di luar sana musuh telah bergerak, dan di ruangan itu mereka akhirnya yakin ini perang diam-diam dan kali ini Noel tidak berjalan sendirian, dia harus mengantisipasinya.
Noel kemudian memegang perutnya dan mengusapnya perlahan, “kenapa?” tanya Xaviera.
“Sejak malam perutnya kram,” ucap Noel.
Xaviera mengernyitkan kening, lalu dia menepuk keningnya itu, “sepertinya ini sudah waktunya kamu,” ungkap Xaviera.
“Waktunya untuk?”
“Periode bulanan,” ringisnya. Membuat Noel membulatkan matanya dan menatap tajam.
“Aku akan berdarah???”
***