“Xaviera jangan menakut-nakuti!” tunjuk Noel dalam tubuh Xaviera itu seraya mendorong badan Xaviera sedikit menjauh.
“Aku harus pakai pembalut khusus, karena kulitku sensitif, aku akan beli,” ujarnya seraya berdiri.
“Hei jangan membuat malu! Biar bagaimana pun kamu memakai tubuhku! Suruh saja Sherlita!” geram Noel. Xaviera menggeleng, “kamu juga pasti butuh obat, karena rasanya sering sakit,” ucapnya.
Noel menggeleng tak percaya, dia meringis lalu memegangi perutnya, “sepertinya,” ucapnya terbata, “dia keluar!” ujarnya.
“Tunggu sebentar!” tukas Xaviera, dia berlari keluar dengan wajah sedikit panik. Darma yang berjaga di luar menatapnya khawatir.
“Tuan, ada apa?” tanya Darma.
“Temani aku ke minimarket sebentar, dan satu orang jaga sini!” ujar Xaviera. Darma ikut berjalan cepat bersama orang yang dianggap Tuannya itu. Xaviera ingat di gedung ini ada minimarket sehingga dia meminta Darma men-tap id ke lift VIP dan mengajaknya segera ke lantai satu.
Di sana dia berjalan melewati lorong panjang menuju toko-toko perbelanjaan yang memang bekerja sama dengan gedung PT Empress.
Di lorong itu tak hanya ada minimarket, namun banyak juga gerai makanan dan kopi. Namun, bukan itu tempat yang Xaviera tuju. Dia langsung masuk ke minimarket, beberapa karyawan membungkuk sopan padanya.
Tanpa buang waktu Xaviera menuju rak pembalut, Darma melihat para karyawan di sana yang berbisik-bisik.
“T-tuan, mau apa?” tanya Darma yang wajahnya memerah antara malu dan juga khawatir.
“Noel, ehm maksudnya Xaviera akan datang tamu bulanan, dia butuh ini,” ucap Xaviera, “duh di sebelah mana sih?” tanyanya.
Kulitnya memang sensitif tak bisa memakai sembarang pembalut atau dia bisa terkena iritasi.
“T-tapi Tuan, kan bisa minta Sherlita belikan,” bisik Darma yang masih menatap ke sekeliling di mana para karyawan tampak mencuri pandang ke arah Xaviera yang memilih benda milik wanita itu.
“Ah ini dia,” ujarnya mengambil di rak paling atas, dia segera mencari penghangat yang bisa dipakai di perut, minyak kayu putih dan juga paracetamol. Ketika hendak membayar, Xaviera harus antri hingga para karyawan di depannya, langsung memberi ruang.
“Pak Noel, silakan duluan,” ujar mereka.
“Thanks ya,” ucap Xaviera tanpa ragu maju ke kasir, sambil menunggu kasir men-scan barcode untuk pembayaran dia pun mengambil dua cokelat batangan, “dia juga butuh ini,” ucapnya seraya memberikan pada kasir yang menghitung total belanja.
“Mau pakai kantung belanja?” tanya sang kasir yang tampak sedikit kikuk karena barang yang dibeli CEO perusahaan itu justru barang-barang tak lazim dibeli pria.
“Iya,” jawab Xaviera singkat. Dia pun membayar dengan metode Qris. Bahkan setelah itu dia berjalan cepat bersama Darma yang membungkuk seraya meminta orang-orang di sana menutup mulut dan menjaga kerahasiaan ini.
Sepeninggalnya para karyawan saling berbisik curiga, “pak Noel, beli pembalut? Untuk siapa?” tanyanya.
“Mungkin untuk asistennya?” balas teman lainnya.
“Bukannya ada bu Sherlita?” imbuh lainnya, percakapan masih terus berlangsung. Hingga Olivia yang hendak membeli suatu barang mendengarkan dengan seksama. Dia sempat ingin memanggil Noel tadi, namun pria itu tampak terburu-buru.
Olivia, tunangan resmi Noel mengepalkan tangannya sebal, dia mulai merasa harus memberi pelajaran pada asisten licik itu.
Di ruang kerjanya, Xaviera menutup rapat pintu. Dia melihat Noel yang bahkan tak bergerak dari tempat duduknya.
“Sudah keluar?” tanya Xaviera.
“Sepertinya, basah sedikit,” jawab Noel seraya meringis. Xaviera menarik tangannya dan mengajaknya masuk toilet.
Dia mengajarkan cara memakainya, Noel melihat Xaviera yang begitu telaten sambil mengusap perutnya yang terasa sakit.
“Rasanya sakit,” ujar Noel sambil memakai celana yang sudah dipasang pembalut. Bibirnya mulai pucat.
Xaviera menatapnya prihatin, dia mengambil kompres hangat dan memakaikan di luar celananya. Mengusap perut itu pelan.
“Rasanya pasti enggak nyaman, tapi tahan ya, biasanya hanya sampai hari ketiga, selanjutnya enggak terlalu.”
“APAAA! Gila! Tiga hari aku kayak gini!” jerit Noel.
“Tahan,” ucap Xaviera. Noel tak bisa menahan ledakan emosinya, dia memukul wastafel dan matanya terpejam beberapa detik lalu menghela napas panjang seolah mengusir rasa kesalnya.
Sementara di pintu ruangan kerja Noel, Olivia menerobos masuk meski Darma mencoba melarangnya.
“Bu, ibu tidak bisa masuk sekarang!” ujar Darma menghalau, namun Olivia memberi tatapan tajam, “setelah saya menikah dengan Noel, kamu akan jadi orang pertama yang saya pecat!” kecam Olivia. Darma menunduk, “maaf, tapi—“
“Minggir!” seloroh Olivia mendorong Darma, dia membuka pintu ruangan itu dan menatap Noel keluar dari toilet bersama Xaviera. Mereka bertiga saling tatap dengan kecanggungan yang luar biasa.
“Itu, tadi,” ujar Xaviera berusaha menjelaskan. Sementara Noel hanya menatapnya, “kamu datang?” tanyanya santai.
“Oh jadi ini alasan aku dilarang masuk? Kalian tengah bermesraan di toilet? Enggak puas di rumah berdua, sekarang di toilet?” tanya Olivia menyindir semua yang ada di ruangan itu, Darma memilih keluar dan tidak mau ikut campur.
Olivia semakin mendekat ke arah Noel dan Xaviera, lalu dia mendorong tubuh Xaviera menjauh hingga tubuh itu membentur meja.
Xaviera yang asli meringis, pasti sakit, pikirnya.
“Sebenarnya kamu masih anggap aku tunangan kamu enggak sih?” tanya Olivia memasang wajah innocent dan air mata yang tampak menggenang.
“Aku coba sabar selama ini, tapi ini sudah keterlaluan, kamu enggak menghargai aku lagi, Noel,” tambahnya seraya menyeka sudut matanya.
“Bukan gitu,” ujar Xaviera, dia tak mau menghancurkan hubungan Noel dengan tunangannya.
“Lalu apa? Kalian kemana-mana berdua, kalian tinggal serumah, bahkan ... di toilet?” Olivia membalik tubuhnya tak mau menatap wajah Noel. Hingga Xaviera dan Noel saling tatap untuk meminta kode apa yang harus dia lakukan.
“Dia hanya membantuku tadi,” ucap Noel dalam tubuh Xaviera itu.
“Membantu membelikan pembalut dan keperluan datang bulan?” seloroh Olivia, “bahkan aku yang tunangannya saja enggak pernah dikhawatirkan segitunya!”
“Kamu salah paham,” ucap Xaviera, “ini lebih rumit dari itu,” imbuhnya.
Noel yang asli memilih keluar membuat Xaviera memelototkan matanya, namun dia memberi kode menepuk benda di telinganya. Dia akan berbicara dari luar.
Darma melihat Xaviera palsu itu keluar ruangan dan berjalan ke sudut dekat jendela.
“Katakan padanya kalau kamu meminta waktu karena ada masalah yang urgent yang harus diselesaikan, bilang juga kalau kamu sudah memesankan tas limited edition yang akan dikirim ke toko favoritnya,” bisik Noel. Melihat jalanan di bawahnya meski perutnya terasa sakit, namun kehangatan yang menjalar dari kompres itu cukup meringankannya.
Xaviera mengikuti instruksi yang disampaikan Noel, dalam waktu singkat Olivia langsung menatapnya dengan pandangan berbeda, “kamu yakin tas itu sudah keluar?” tanyanya dengan mata berbinar. Xaviera mengangguk.
“Jadi ... jangan cemburu, aku dan Xaviera enggak ada hubungan apa-apa selain ikatan kerja,” ucap Xaviera dalam tubuh Noel itu seolah meminta Olivia percaya padanya.
Olivia langsung meloncat memeluk tubuh tinggi itu, dia hendak mengecup bibirnya, namun Xaviera segera menghalau dengan telapak tangannya, “aku habis makan ikan asin,” bohongnya membuat Noel di luar ruangan menahan tawanya. Sejak kapan dia suka makan ikan asin?
Olivia kemudian tersenyum lebar dan mengecup pipinya kiri dan kanan hingga meninggalkan lipstiknya.
“Kamu benar bisa dipercaya kan?” tanyanya manja.
“Iya,” jawab Xaviera menirukan logat bicara Noel.
“Ya sudah kalau gitu, jangan bertindak sembarangan, kamu bisa jadi makanan gosip para karyawan,” tuturnya.
“Ya, sebaiknya kamu pergi karena aku harus meeting sebentar lagi,” ucap Xaviera berdasarkan ucapan yang diucapkan Noel di earphone yang tersumbat ke telinganya.
Olivia kemudian mengusap pipi kekasihnya, menyeka sisa lipstik itu dan tersenyum seraya merapikan dasinya, “oke aku pergi dulu ya, love you,” ucapnya manja.
“Ya.”
“Kok enggak dibalas ucapannya?” rajuk Olivia.
“Iya love you juga,” ucap Xaviera gugup karena Noel yang asli tak mengatakan apa-apa.
Di dekat Noel berdiri Darma yang ikut menatap ke arah jalanan, Noel menghela napas panjang.
“Ribet juga jadi perempuan ya?” ujarnya.
Darma memasukkan tangan ke saku celananya, “sebenarnya saya penasaran, hubungan kalian berdua itu bagaimana? Kalian sangat dekat dan seperti telah lama saling mengenal, padahal tahunan bersamanya, saya enggak pernah melihat kalian bersama?” ucap Darma menyuarakan isi hatinya.
Noel menarik napas panjang, “hubungan kami rumit,” jawabnya. Tak lama dia mendengar suara langkah kaki, Olivia keluar dari ruangan itu, berhenti melangkah ketika menatap tubuh Xaviera, dia memberi tatapan tajam dan menunjuk wanita itu seolah mengancamnya.
Darma membungkuk sopan pada Olivia yang kemudian pergi meninggalkan lorong itu.
“Apa kita perlu mencurigainya?” tanya Darma.
Noel menatap kekasih itu menjauh, “untuk sementara awasi saja, seperti biasa,” jawabnya, dia pun meninggalkan Darma yang semakin curiga. Sebelumnya dia sempat berkata, “oiya kata tuan Noel mulai sekarang minta orang menjaga Sherlita karena dia tadi sempat melihat orang yang mencurigakan.”
“Bahkan Nona Xaviera tahu kita mengawasi kekasih Tuan Noel,” gumam Darma pada dirinya sendiri.
***
Di rumah Juan, di ruangan pribadinya. Beberapa wanita berpakaian seksi bahkan nyaris tak berbusana karena terlalu seksi mengerubunginya.
Dia memegang segelas wine di tangan kanan, tubuhnya dipijat, dibelai dengan lembut oleh para wanita itu.
Pria bertopi yang tadi menyamar sebagai office boy dipersilakan masuk. Pemandangan itu sudah biasa dilihatnya, bahkan dia sering melihat Juan dilayani secara eksplisit tanpa rasa malu oleh wanita-wanita itu meski mulutnya masih berbicara memberi instruksi padanya.
“Bagaimana?” tanyanya.
Pria itu mengangguk kecil, membuka topinya, ada luka jahit di keningnya yang dia tutupi dengan rambutnya.
“Kalian keluar dulu,” ucap Juan pada para wanita penghibur itu. Juan merapikan kimono satin yang dia pakai lalu dia berdiri menghampiri pria suruhannya, setelah di ruangan itu hanya ada mereka berdua.
“Tuan Noel sudah tahu bahwa ada yang mensabotase motornya, tadi hampir ketahuan karena sekretaris itu tiba-tiba masuk,” ucapnya.
“Dia bisa menjadi ancaman,” ujar Juan.
“Ya Tuan, tapi kita tidak bisa menyentuhnya, karena mertua kakaknya aparat tinggi di negeri ini,” ucap pria itu.
“Hah, ternyata benar gosip itu.” Juan kembali duduk di sofa panjang. “Untuk sementara kamu jangan keluar dulu, kita tugaskan tim dua, kamu cari tahu saja tentang asistennya yang tiba-tiba saja jadi lengket padanya,” ujar Juan.
“Baik, Tuan,” ucap pria itu kembali memakai topinya. Para wanita kembali masuk, Juan langsung meminta mereka memberi pelayanan lebih, satu orang mencumbunya, sementara dua lainnya bermain di miliknya yang berukuran standar bahkan cenderung di bawah normal! Mungkin jika tak dibayar dengan uang banyak mereka enggan melayani pria tua itu.
***