Noel terbangun dengan perasaan yang sangat rumit, tubuhnya begitu sakit seperti habis dipukuli orang satu kabupaten. Sungguh, dia merasa sangat enggan membuka matanya, namun perut yang melilit ditambah rasa tak nyaman di bawah sana membuatnya terpaksa melangkahkan kaki ke toilet.
Dia bahkan melepaskan pakaiannya sambil menahan mual, perutnya seperti teraduk, aroma tak sedap khas anyir darah yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya terjadi di hidupnya.
Rasanya dia sangat malas berangkat kerja, namun dia tak bisa melakukan itu, ada meeting penting hari ini. Ya memang semua meeting adalah bagian paling penting yang tak bisa dipisahkan dari kesehariannya.
Ketika dia keluar dari kamar dengan pakaian kerjanya, dia melihat Xaviera dalam tubuhnya yang sangat nyaman, tak harus merasakan sakit di tubuhnya seperti yang dia alami. Saat pertukaran ini.
Noel meraih cangkir kopi, menuang kopi hangat ke dalam gelasnya lalu menatap Xaviera dengan pandangan kesal.
“Kenapa kamu enggak pernah bilang rasanya sesakit ini?” geram Noel meremas cangkir itu erat seperti hendak menghancurkannya.
“Padnya sudah dipakai? Biar lebih hangat,” ucap Xaviera yang meletakkan buku novel di balik gelas jus buahnya.
“Sudah!” gerutu Noel. Dia menoleh ke arah sang asisten rumah tangga, “aku mau ekstra cheese dan cream di rotiku,” ujarnya menunjuk sandwich yang telah disiapkan. Para pelayan itu mengganti makanannya. Lalu Noel mengeluarkan cokelat dari tasnya yang dibelikan Xaviera kemarin.
Dia membuka bungkusnya dan menikmatinya sambil menunggu rotinya siap.
Xaviera memotong roti panggang miliknya, dia terus memperhatikan Noel yang makan banyak sekali, tak seperti biasanya. Bahkan para pelayan menatapnya dengan pandangan aneh, lebih aneh dibanding tatapan yang mereka berikan sehari-hari.
“Proyek Kaisar akan mulai dilaksanakan lusa, nanti kita tinjau lokasinya,” ucap Noel. Xaviera hanya mengangguk kecil dengan wajah malas.
“Haruskah?” tanyanya.
Noel mengangguk, menghabiskan potongan terakhir rotinya, lalu mereka berjalan ke dalam mobil.
Di perjalanan yang biasanya memakan waktu lebih cepat, namun jalanan pagi ini terasa lebih macet dibanding biasanya. Noel sudah marah-marah sejak tadi, dia bahkan tak bisa menahan emosinya, semua hal dia komentari.
Xaviera yang mengenal hormon itu hanya bisa menahan tawanya, seolah memberi hukuman pada Noel yang sering seenaknya.
“Ada apa sih di depan???” gerutunya seraya menendang jok mobil yang diduduki Darma hingga pria itu menoleh dengan pandangan sedikit kesal.
“Dia sedang datang bulan,” ujar Xaviera seolah memberi peringatan agar Darma maklum.
“Apa kamu melotot kayak gitu!” seloroh Noel.
Xaviera memegang tangannya, “sabar,” ucapnya.
Noel menepis tangan Xaviera lalu melipat tangan di d**a dan menoleh ke arah jalanan, dia melihat seorang wanita mendorong gerobak sambil menggendong belakang anak balitanya yang tampak lusuh.
Noel melihat wanita itu yang sesekali menoleh ke arah anaknya, dia pikir anaknya hanya satu yang digendongannya saja, namun ternyata di atas gerobak ada anak lainnya yang berdiri dan berpegangan di sisi gerobak.
Tanpa terasa air mata Noel menetes, dia saja terkejut melihatnya, dia tak pernah menangis sebelumnya, namun kali ini ... apa ini?
“Kasihan banget,” ucapnya lirih, dia bahkan menutup mulutnya sendiri. Tidak! Dia tak suka dengan pemandangan itu, dia selalu berpikir sebelumnya jika memang belum siap memiliki anak, setidaknya mereka bisa mencegahnya, bukannya membawa anaknya pada ketidak beruntungan.
Namun, mengapa nuraninya kini berkata sebaliknya, dia merasa kasihan, memikirkan bagaimana mereka makan? Tidur? Apakah anaknya itu sekolah?
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Noel terhenyak, mobil perlahan melaju, hampir melewati wanita dengan anak dalam gendongannya itu. Noel tanpa sengaja bertatapan dengan anak di gendongan sang ibu. Anak itu menatap kaca mobilnya, mungkin melihat pantulan dirinya sendiri dan tersenyum polos.
Noel menyeka air matanya, “sialan senyumnya manis banget,” dengusnya. Dia mengeluarkan beberapa lembaran uang rupiah dari dompetnya. Membuka kaca jendela mobil, “hei,” panggilnya.
Wanita yang mungkin seusia dengannya itu menoleh, “Ya Tuan?” tanyanya.
Noel menyerahkan uang itu ke wanita tersebut, “belikan anakmu makan,” ujarnya dingin.
“Maaf nona, saya tidak mengemis, saya mencari barang bekas,” tolaknya halus. Noel memutar bola matanya.
“Ini untuk anakmu, bukan untuk kamu, terima saja,” ujar Noel. Wanita itu menatap kedua anaknya bergantian, memang sejak semalam mereka belum makan karena belum ada barang yang bisa dijual.
“S-saya terima uangnya, terima kasih banyak.”
“Hmmm,” dehem Noel yang kemudian menutup kaca jendelanya lagi. Wanita itu menyeka air mata dengan kain jarik yang dipakainya, kain yang sangat lusuh.
Noel kembali kesal, kemana sebenarnya suaminya? Tega menyuruh istrinya berpanasan membawa dua anak mencari uang!
“Kamu baik juga,” ucap Xaviera.
“Ini karena aku memakai hatimu!” gerutu Noel. “Aku yang asli justru sangat membenci mereka!”
Xaviera menggeleng, “enggak juga, aku enggak merasakan perasaan benci, aku merasakan iba, di dalam sini,” ucapnya menunjuk dadanya sendiri.
Noel sangat gengsi mengakui bahwa dirinya memang terkadang iba pada orang-orang yang tak berdaya. Sementara, di depan jalanan mulai lebih lengang dan mobil bisa melaju lebih cepat untuk tiba di PT Empress.
“Kenapa sih rasanya pengen marah-marah terus?” tanya Noel sambil berjalan mengentakkan kakinya dengan kasar ke lantai ketika mereka tiba di lobi perusahaan itu, beberapa orang menatap mereka dan membungkuk sopan menghormati sosok Noel sebagai sang CEO.
Xaviera di sampingnya hanya menggeleng geli, “mood swing ya? Maklum hormon kamu lagi enggak stabil.”
“Dan hari ini anehnya, rasanya lebih sakit dibanding kemarin.”
“Hari kedua memang selalu lebih intens sakitnya, tapi tenang saja biasanya hari ketiga akan lebih baik,” tukasnya membuat Noel kian mendengus kesal.
Di ruang kerja Noel, dia tak langsung mengempaskan tubuhnya ke kursi, ada rasa takut benda yang dia pakai itu berantakan. Dia duduk dengan tenang lalu menghela napas panjang seraya mengusap perutnya.
Xaviera mengambilkan air minum hangat dan meminta Noel meminum obatnya. Untuk pertama kalinya dia merasa seperti menjadi perempuan seutuhnya, sungguh dia tak berdaya dengan kesakitan ini.
“Jadi kalian setiap bulan mengalami ini?” tanya Noel.
Xaviera duduk di kursi yang dulu selalu ditempati Noel dan mengangguk, “ya setiap bulan,” jawabnya.
Noel menggeleng tak percaya, “gila sih kalian kuat banget!”
Xaviera tersenyum, “kami terbiasa, bukannya kuat.”
Noel memilih memejamkan mata dan bersandar di kursinya, “benar kata kamu, mood swing aku parah banget, sebentar-sebentar kesal, terus nangis, terus lapar,” ujar Noel menutup mata dengan lengannya.
Kini dia percaya, bahwa benar menurut penelitian bahwa wanita lebih kuat dibanding pria, dia yang baru sekali saja sudah merasa tidak sanggup dan ingin menyerah, tetapi Xaviera ... mengalaminya setiap bulan.
Pintu diketuk, Sherlita masuk membawakan berkas-berkas seperti biasanya.
“Meeting satu jam lagi, Pak,” ucap Sherlita ke arah Xaviera yang tampak serius membaca berkas di meja. Lalu dia mengedikkan dagu ke arah Noel, “kenapa?” tanyanya setengah berbisik.
“Sedang datang tamu bulanan,” jawab Xaviera pelan membuat Sherlita membulatkan mulutnya. “Oiya bagaimana keadaan kamu? Masih sakit sikunya?” tanya Xaviera.
Sherlita menggeleng, “sudah lebih baik, Pak,” ucapnya.
“Syukurlah,” jawab Xaviera. Sherlita kemudian memutuskan meninggalkan kedua orang itu di ruangan.
Setelah satu jam berlalu, Noel sudah merasakan perutnya sedikit lebih baik. mereka pun berjalan bersama ke ruang meeting seperti biasanya.
Di ruang rapat, suasana terasa lebih tegang dari biasanya. Para direksi duduk dengan rapi, proyektor menyala menampilkan slide demi slide presentasi.
Noel duduk di tempat biasa, wajahnya tampak dingin ditambah suhu AC yang membuatnya kian menggigil hingga kakinya gemetar.
Beberapa menit berlalu. Dia menunduk, hingga salah satu direksi menyapa Xaviera dalam tubuh Noel itu.
“Bagaimana pendapat anda Pak Noel?” tanyanya.
Xaviera terdiam, menunggu bisikan dari Noel, namun ketika dia menatap tubuh wanita itu dia tak mendapat jawaban, yang dilihat justru Noel tampak menggigil.
“Saya tidak bisa memutuskan sekarang,” tutur Xaviera mencoba bersikap tenang.
“Tapi waktu kita tidak banyak,” ujar yang lain.
Xaviera berharap Noel bisa berbisik memberi penjelasan logis, namun dia hanya diam dan menunduk, merasakan suasana yang berubah Noel seperti tersadar dari sakitnya dan mengumpulkan kekuatannya.
“Bilang pada mereka, kamu ... kamu setuju dan minta mereka jabarkan vendornya, itu akan memakan waktu lama,” bisik Noel terengah, melalui alat penghubung mereka berdua.
Xaviera pun mengatakan yang Noel katakan, lalu dia bersandar di kursi empuk itu, menutup mulut berpura-pura terlihat berpikir, “kamu baik-baik saja?” tanyanya berbisik agar tak ada yang curiga.
Noel menatap Xaviera dari kejauhan dan mengangguk seraya menunjukkan ibu jarinya. Dia tak boleh terlihat lemah, terutama di ruangan ini, di mana Juan pun ada, yang bisa saja langsung mengambil langkah untuk segera merebut tahta ini.
Meeting berakhir, Noel merasa tak kuat lagi, dia butuh istirahat. Sungguh rasanya sangat melelahkan berada di tubuh seorang wanita yang mendapat periode bulanannya.
Di ruangan kerja, Noel langsung berbaring di sofa, Xaviera mengambil selimut dan menyelimuti tubuh itu yang terlihat begitu rapuh.
“Thanks,” ucap Noel.
“Tidurlah, meeting setelah ini dilakukan online dan aku hanya perlu mendengarkan saja kan?” tanya Xaviera yang mulai menghapal semuanya di luar kepala.
“Hmmm, ya,” gumam Noel. Tak berapa lama dia pun terlelap. Sungguh dia merasa begitu kelelahan.
Dia bahkan bangun di sore hari, di waktu mereka hampir pulang. Xaviera membereskan barang yang dia bawa, memasukkan dalam tasnya. Sementara Noel di toilet mengganti pembalutnya, dia sudah mahir sekarang. Dia akui dirinya memang pintar baru sekali diajari dia sudah paham.
Darma berjalan di depan mereka menuju mobil yang terparkir, dia membukakan pintu untuk Xaviera yang dia anggap adalah bosnya. “Ada laporan dari rumah, katanya Tuan Endrico sudah pulang,” ucapnya.
Noel yang masuk ke dalam mobil itu hampir melompat lagi keluar, “apa????” tanyanya dengan mata melotot, sementara Xaviera yang baru masuk itu justru kebingungan.
“Siapa?” tanyanya.
Noel meminta Xaviera memberi kode pada sopirnya dan Darma untuk meninggalkan mereka berdua.
“Aku harus bicara dengan Xaviera empat mata, kalian keluarlah dulu,” ucapnya memberi perintah. Darma dan sang sopir keluar dari mobil itu.
“Tuan Endrico itu siapa?” tanya Xaviera.
“Kakekku! Kita harus keluar kota, kita enggak bisa menemuinya dalam keadaan seperti ini,” ucapnya.
“Tapi?”
“Kamu belum tahu wataknya seperti apa? Dia bisa mencecar kita dengan banyak pertanyaaan jebakan, dan satu lagi, aku belum menceritakan ke kamu tentangnya, kamu harus mempelajarinya dulu,” ucap Noel.
“Jadi ... kita melarikan diri?”
“Bisa dibilang gitu!” ujarnya menatap lurus ke manik hitam yang sebelumnya merupakan manik kebanggaannya yang kini dihuni jiwa lain. Dia harus mencari cara agar kakeknya tak curiga!
***