15. Pertemuan Dengan Kakek

1601 Kata
Noel mengatakan pada Darma bahwa dia ada urusan urgent dan memilih kabur ke kota terdekat, menyewa kamar hotel di sana. Dia jelas menghindari sang kakek, tak bisa menemuinya tanpa persiapan apa pun juga, atau kakeknya akan mencurigainya, lalu Juan bisa tahu dan dia tak mau hal itu sampai terjadi. Setelah mandi, Xaviera dan Noel duduk di sofa kamar hotel itu, Noel mulai menceritakan tentang kakeknya dan tentang dirinya di hadapan Xaviera agar wanita itu tetap bisa berakting nanti ketika bertemu dengan kakeknya, menjadi dirinya. Mereka pun berkata bahwa mereka harus kompak dan saling memberi kode, karena di rumah tentu mereka tak memakai earphone, hal sekecil apa pun kakeknya bisa curiga. Sejujurnya jantung Xaviera berdetak dengan cepat, lebih menakutkan dibanding saat dia harus menggantikan Noel bermain futsal. Hingga keesokan paginya, mereka pun pulang ke rumah besar itu. Di pagi menjelang siang ketika mobil hitam berplat khusus itu memasuki halaman rumah besar. Noel yang kini berada dalam tubuh Xaviera berdiri di dekat Xaviera berjalan memasuki rumah itu. Jantungnya pun ikut berdegup lebih cepat dari biasanya. Ketika pintu terbuka, keduanya berjalan mengendap, seolah takut bertemu dengan sang kakek. Namun, apalah daya sang kakek tentu sudah menunggunya sejak tadi. “Dia datang,” gumam Noel pelan. Xaviera yang berjalan di belakang Noel itu mengangkat wajahnya, langsung menegang, “kakek Endrico? Orang yang membesarkanmu?” bisiknya dengan suara bergetar. Tak lama suara langkah kaki terdengar, pelan, dan penuh wibawa. Kakek Endrico melangkah menghampiri mereka, memakai setelan sederhana, namun tampak rapi, rambutnya memutih sempurna, sorot matanya tajam dan hidup. Tatapan matanya langsung jatuh pada Noel yang menunduk, tak biasanya! “Kamu kurusan,” ucap Endrico. “Ah, iya Kek, aku olah raga,” jawabnya. Endrico menelengkan wajahnya menatap tubuh sang cucu, entah mengapa dia melihat Noel sekarang ini seperti seorang yang kurang percaya diri. “Kenapa tidak pulang semalam?” tanyanya. “Urusan luar kota,” jawab Xaviera dalam tubuh Noel itu singkat, padat seperti yang diperintahkan Noel tadi. Kakeknya hanya mengangguk, lalu dia menoleh ke arah seorang wanita mungil yang berdiri di samping cucunya, dagunya terangkat angkuh, tangannya terlipat di d**a seperti tak memiliki kesopanan pada pria tua yang baru ditemuinya. “Dan dia?” tunjuk Endrico. “Dia Xaviera, asistenku,” jawab Xaviera. Noel dalam tubuh Xaviera mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan, namun dia sangat mengenal kakeknya yang tak pernah mau membalas uluran tangan dari orang yang menurutnya asing dan tak memiliki kepentingan dengannya itu. Hingga Noel menarik tangannya lagi dan mencibirkan bibirnya, “tua bangka,” gumamnya. “Ha?” tanya sang kakek membuat Xaviera mendelikkan matanya ke arah Noel. Dia susah payah menjadi Noel, namun mengapa Noel tak bersusah payah juga untuk menjadi dirinya? “Nama keluarganya?” tanya Endrico lagi. Noel menatapnya dengan pandangan malas, “enggak ada, saya hidup sendiri,” jawabnya datar. Jawaban itu membuat alis Endrico sedikit terangkat. Endrico hanya berdehem, tidak berkata apa-apa lagi, namun matanya menilai dengan teliti membuat Xaviera merasa tubuhnya dikuliti. “Aku tidak tahu kamu tinggal serumah dengan asistenmu?” tanya Endrico sambil melangkah menuju kursi ruang ramu itu. Noel menyela, “kondisi Noel belum stabil, dia perlu orang yang selalu bersamanya agar lebih aman,” jawabnya. Endrico berhenti melangkah dan menoleh ke arah sang cucu, “aman? Apa kurang penjagaan dari Darma? Hingga kamu butuh dijaga seorang perempuan?” Xaviera menelan salivanya kasar, “dia harus di sisiku,” jawabnya pelan. “Kakek mungkin enggak tahu kalau aku hampir mati,” imbuhnya. Endrico duduk di sofa itu, menatap Noel dan Xaviera bergantian, dia hanya tahu cucunya kecelakaan motor, hal yang sangat dibencinya, dia tak suka Noel mengendarai kendaraan roda dua itu yang bisa mengancam keselamatannya, namun mendengar Noel selamat membuatnya lega. “Sore ini, temani main golf,” ujar Endrico. Xaviera menoleh ke arah Noel, dia tak bisa bermain golf. Noel memberi kode memutar tangannya dan berkata tanpa suara, sakit. “Tanganku sakit, terkilir tadi,” ucap Xaviera berusaha menggerakkan tangannya dan sedikit merintih. Noel memegang tangan itu, “tangannya sakit, aku yang menggantikan main golf nanti,” ujarnya. “Kamu bisa main golf?” tanya Endrico. “Aku bahkan pernah memenangkan kompetisi,” ujarnya angkuh. Endrico tertawa kecil sementara Xaviera membelalakkan mata. Kompetisi? Pegang stik golf saja dia tak pernah. Memang suka sembarangan bicara, pria itu! Di sore hari, Xaviera terpaksa memakai perban palsu di pergelangan tangannya, dia memang memakai pakaian olah raga, namun dia hanya mendampingi saja. Sementara Noel sudah memakai pakaian khas golf, setelan putih dengan topi milik Noel yang juga putih. Dia tampak cantik dengan pakaian itu. Xaviera sendiri terpukau melihat tubuhnya dalam balutan baju fit body itu, roknya pendek namun tidak vulgar, dengan kaos kaki yang membalut kakinya, dan sepatu mahal yang dibeli Noel. Sungguh sempurna. Mungkin jika dia yang berada di tubuh itu, dia akan sangat senang mengambil banyak foto. Di lapangan golf besar, sang kakek duduk di samping tubuh Noel saat naik mobil golf, sementara Noel yang asli justru duduk di belakangan. Sang sopir membawa mobil itu dan disampingnya ada Darma. Satu mobil golf dibelakang berisi asisten sang kakek dan juga pengawalnya yang membawakan alat-alat golf. “Bagaimana bisnis?” tanyanya. Xaviera melirik ke arah Noel yang sudah mengangguk, “lancar, proyek-proyek berjalan dengan sempurna di bawah tanganku,” ucapnya. Endrico menatap tangan cucunya yang diperban, “bagaimana bisa di bawah tangan sakit itu proyek berjalan lancar,” decihnya. Xaviera hanya terdiam, “Juan,” ujar Endrico membuat Xaviera dan Noel menegang. “banyak membantu kamu, kan?” Xaviera tak bisa menjawabnya, dia hanya menggeleng. Lalu ketika mobil berhenti di tempat yang mereka tuju, Xaviera langsung memilih duduk di bawah tenda putih, yang sudah disediakan cemilan manis dan juga minuman dingin. Dia duduk sambil menyilangkan kakinya. Noel dalam tubuh Xaviera sudah bersiap memegang stik golf, “kakek pukul duluan,” ucapnya. Endrico menatap Xaviera, apakah dia tak terlihat sok akrab di hari pertama pertemuan mereka? “Kamu benar bisa main golf?” “Jangan remehkan aku, Kek,” gerutu Noel membuat Endrico tertawa. “Bagaimana bisa Noel mendapat asisten yang mirip sepertinya?” tanya Endrico sambil bersiap memukul bola, namun bolanya tak menjangkau targetnya. Kini giliran Noel yang bersiap memukul, “perhatikan kakek tua, tanganmu sudah lemah, jangan ambil target terlalu jauh,” ujar Noel sombong. Bukannya tersinggung, Endrico justru tertawa kecil. Dia menoleh ke arah sang cucu yang duduk di bawah tenda, menikmati cake sambil sedikit membungkuk. Dia bahkan melambaikan tangannya dengan riang, dengan tangan yang katanya sakit, hingga dia menyadari cerita malam tadi bahwa Noel tak pernah seriang itu bertemu kakeknya, dia langsung memasang wajah datar. Dia hanya senang karena kuenya sangat enak. Endrico menggeleng, berpikir cucunya banyak berubah setelah dia tinggal. “Lihat, Kek!” ujar Noel. Endrico memperhatikan cara wanita di depannya memegang stik, memukul bola dan ... tepat langsung masuk ke lubang. “Lihat kan! Aku jago!” ujarnya bersorak. Endrico mendengus, “itu karena aku kurang berlatih,” ujarnya. Mereka masih bermain golf. Ketika Noel bersiap melakukan pukulan itu, Endrico justru menatap ke danau membuatnya bingung. “Kakek mau udahan?” tanyanya. “Lanjutkan saja,” jawabnya pelan. “Kek?” tanya Noel. Endrico menghela napas panjang, “aku senang melihat bocah itu baik-baik saja,” ujarnya melirik ke arah tubuh Noel berada, tengah berbincang dengan pria yang tadi menjadi sopirnya. Noel yang asli justru mendengus, tatapan Xaviera pada pria itu seperti mengaguminya, dasar cewek, tidak boleh melihat pria tampan! “Bukannya ... kata Noel, kakek membencinya? Kakek selalu menyuruhnya ini itu, melarangnya ini itu,” ucap Noel seolah menyuarakan isi hatinya. Endrico menggeleng, “aku hanya ingin melindunginya, keluarga kami dikutuk,” ucapnya. “Dikutuk?” tanya Noel mengingat kisah Malin Kundang, dikutuk jadi batu kah? “Usia anak cucuku enggak akan sampai empat puluh, katanya seperti itu.” “Apa kakek kaya karna ikut pesugihan, makanya dikutuk?” tanya Noel membuat Endrico tertawa. “Bukan seperti itu, tapi memang begitulah adanya.” “Kurang-kurangi takhayul, dengar peramal atau apalah itu, sudah tua, istirahat saja enggak usah pergi jauh-jauh karena percaya takhayul, jika memang takdirnya usianya segitu ya segitu aja, tapi kalau ditakdirkan usianya panjang, apa pun yang terjadi ya tetap akan hidup setua kakek,” ujar Noel. Endrico menatap gadis itu, sungguh dia sangat mirip cucunya. Dia menggeleng, tak mungkin kan jika mereka berdua kembar? “Tapi aku masih perlu mengusahakannya, aku kaget mendengar dia kecelakaan kemarin, tapi syukurlah dia sehat dan selamat,” ucap Endrico meminta Noel kembali memukul bola karena sudah giliranya. Setelah Noel mencetak hole, kakeknya bersiap memukul bola. “Om Juan itu,” ucap Noel menggantung, Endrico menoleh. “Kenapa dengannya?” “Kurasa ... dia berencana membuat Noel hancur,” ucapnya seraya menatap pandangan ke arah tubuh Noel yang masih asik memakan makanan manis. “Enggak mungkin, dia hanya gemar bermain wanita dan juga berjudi, tapi dia sayang sama keponakannya,” ucap Endrico keras kepala. Noel hanya menghela napas panjang, ya memang itu lah kakeknya, meski dia tahu anak angkatnya sering berbuat ulah, namun dia masih mempercayainya, terlebih Juan sangat pandai memainkan karakter sebagai paman yang mencintai keponakannya. “Istirahat dulu,” ajak Endrico. Noel mengangguk, menyerahkan stik golf pada petugas yang sejak tadi mendampingi mereka. “Kamu tahu Noel sudah punya tunangan?” tanya Endrico. Noel tentu saja mengangguk. “Kamu enggak takut, sakit hati nanti?” tanyanya lagi. “Sakit hati kenapa?” tanya Noel. “Ya jika kamu jatuh cinta dengan cucuku, kamu mungkin harus mengalah pada cinta itu nantinya,” ucap Endrico. Noel mendengus, jatuh cinta pada gadis yang tubuhnya sudah dilihatnya setiap hari? Apakah bisa? Aneh, takkan mungkin lah. Lagi pula Xaviera sudah memiliki pria lain di hatinya, pria itu tampaknya baik, hanya miskin saja! pikir Noel. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN