bc

Gairah Nakal Sang Playgirl

book_age18+
121
IKUTI
1K
BACA
revenge
love-triangle
contract marriage
one-night stand
family
HE
escape while being pregnant
love after marriage
fated
opposites attract
second chance
friends to lovers
pregnant
arranged marriage
badboy
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
bxg
lighthearted
serious
kicking
bold
campus
city
office/work place
cheating
disappearance
lies
friends with benefits
polygamy
addiction
actor
like
intro-logo
Uraian

Dara Valerina kehilangan segalanya setelah kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan, sementara kakaknya kabur membawa seluruh harta keluarga.

Dalam keadaan terdesak dan sendirian, Dara berubah menjadi wanita dingin yang menipu pria kaya untuk bertahan hidup. Namun hidupnya berubah ketika ia menargetkan pria yang salah, Jackson yang justru menyeretnya pada sosok yang jauh lebih berbahaya, kakaknya, Jacob Anderson.

Dara terjebak dalam keluarga Anderson, keluarga yang paling berpengaruh dan terpandang. Dalam satu langkah nekat, Dara memaksa pernikahan, tapi tak pernah menyangka bahwa pria yang akan menikahinya bukan targetnya, melainkan pria paling berkuasa yang justru mulai memainkan permainan yang lebih berbahaya darinya.

chap-preview
Pratinjau gratis
1. Awal Dari Kehilangan Segalanya
"Tuan, Istri anda pergi dari rumah! Dia membawa semua pakaiannya!" seorang kepala keamanan memberitahukannya kepada Jacob Anderson. Seorang CEO perusahaan besar yang tampan, dingin dan arogan. "Apa?! Cari dia secepatnya! Jangan biarkan dia pergi begitu saja!" Rahang Jacob mengeras menahan amarah. "Kamu pikir bisa lari dariku begitu saja Dara Valerina!!" Di sisi lain, Dara Valerina istri Jacob yang sedang berada di sebuah taksi sedang menangis menyesali perbuatannya. Ia menyesal telah menipu Jacob untuk mendapatkan banyak uang demi kelangsungan hidupnya. Dia mengingat setahun sebelumnya saat dia kehilangan segalanya. Dulu, Dara Valerina adalah seorang mahasiswi di salah satu universitas ternama di Jakarta. Dia hidup dengan segala kemewahan dan kenyamanan dari orang tuanya. Dia dikenal cerdas, dan selalu datang tepat waktu ke kampus. Rambutnya yang hitam panjang biasa tergerai rapi. Seperti biasa, saat itu dia bersama temannya sedang berada di perpustakaan. Ponsel Dara bergetar berkali-kali di atas meja perpustakaan. “Ra, itu hp lo dari tadi bunyi terus,” bisik temannya pelan.” Dara mengernyit. "Ia ragu sejenak, tapi akhirnya meraih ponselnya. “Hallo?” “Selamat sore, apakah benar ini dengan Dara Valerina, anak dari Bapak Brata dan Ibu Siska?” “Iya, saya sendiri. Ada apa ya?” jawabnya, mulai merasa tidak nyaman. “Mohon maaf, kami dari rumah sakit ingin menyampaikan bahwa orang tua anda mengalami kecelakaan di jalan tol.” Dara langsung duduk tegak. “Kecelakaan? Mereka sekarang di mana? Saya bisa ke sana sekarang!!" Suara di seberang hening sesaat, lalu kembali terdengar, lebih pelan. “Kondisi keduanya sangat kritis saat tiba di sini. Kami sudah melakukan penanganan maksimal.” Jantung Dara berdegup kencang. “Maksudnya, sekarang keadaan nya bagaimana?” “Mohon maaf, orang tua anda tidak tertolong.” Dunia Dara seakan berhenti berputar. "Ti~tidak tertolong?” ulangnya lirih. “Keduanya meninggal dunia di tempat kejadian.” Ponsel itu perlahan terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai. Suara di sekitarnya mendadak hilang, seolah seluruh dunia memutuskan untuk diam. “Ra? Dara?” Temannya mengguncang bahunya. “Lo kenapa?” Dara menatap kosong ke depan. Bibirnya bergetar, tapi suaranya hampir tak keluar. “Mama sama Papa gue udah nggak ada.” “Apa?!” Temannya terkejut. Dara menggeleng pelan, matanya mulai berkaca-kaca. “Mereka bilang ortu gue kecelakaan dan,” Suaranya pecah. “Mereka meninggal!!!" "Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un.., Ra yang sabar ya!!" Dara terduduk di lantai, menatap ponsel yang baru saja jatuh. Suara di sekitarnya hilang begitu saja. Air matanya menetes tanpa bisa ditahan. Tangannya gemetar, tubuhnya seakan lepas kendali. Dunia Dara runtuh seketika. Semua yang dia kenal, semua yang dia andalkan, lenyap dalam sekejap. Ruangan itu terasa kosong dan hampa. Dara pun pulang ke rumahnya. Beberapa hari setelah pemakaman, ketika kesedihan masih terasa, masalah lain datang. Kakaknya, Heri, membawa kabur semua tabungan dan surat penting keluarga. Dara menatap meja kosong di kamar. Hatinya seperti dicabut dari tubuhnya. Dengan tangan gemetar, dia menekan nomor telepon Heri. “Her, tolong angkat telepon nya!” suara Dara hampir tak terdengar. Nada sambung berbunyi. "Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif." Dia mencoba lagi, dan lagi. Selalu tidak bisa, setiap panggilan yang berakhir membawa rasa sakit baru. Setiap detik yang berlalu membuat hatinya semakin hancur. “Her, kenapa lo ninggalin gue sendiri? Kenapa semua harus hilang?” Dara menjerit dalam hati. Tapi kakaknya tidak juga kembali. Dia seakan hilang ditelan bumi. Tangan Dara menekan ponsel ke dadanya, napasnya tersengal. Dia merasa benar-benar sendirian. Tidak ada orang tua, tidak ada kakak, tidak ada tempat berpegang. Matanya panas. Hatinya sakit. Dunia yang ia kenal kini berubah menjadi hampa tanpa tujuan hidup. Dara berdiri di ruang tamu, menatap lemari yang kini kosong. Tangannya mengepal kuat. “Ra, lo harus makan,” ucap temannya pelan dari arah belakang. “Gue nggak laper, ta.” jawab Dara. “Tapi Lo dari kemarin belum makan. Kalau Lo gak makan, Lo bakal sakit, Ra.” Dara tersenyum getir. “Memangnya masih ada yang peduli kalau gue sakit?” “Jangan ngomong gitu. Lo masih punya gue, sahabat Lo!" Dara akhirnya menoleh, matanya dingin. “Saat ini gue lagi bener-bener butuh uang ta, gue nggak bisa hidup tanpa uang!" Temannya terdiam. “Tabungan orang tua gue habis,” lanjut Dara, suaranya bergetar menahan emosi. “Semua surat penting juga hilang.” “Maksud Lo, Ra?” “Kakak gue.” Dara tersenyum pahit. “Dia bawa semuanya, terus kabur dari rumah!" “Ra, lo serius kakak Lo tega ninggalin Lo sendirian?” “Sekarang gue bener-bener sendirian, ta,” bisiknya. “Nggak punya siapa-siapa. Nggak punya apa-apa." Ruangan itu hening. Belum sempat ia menarik napas panjang, ponselnya kembali bergetar di tangannya. Kali ini, nomor lain. Dara segera mengangkat karena dia pikir mungkin itu Heri. “Hallo?” suaranya lemah. “Selamat siang, apakah ini betul dengan saudari Dara Valerina?” suara di seberang terdengar formal. “I~iya betul, ini siapa ya?” “Kami dari pihak bank, ingin menyampaikan informasi terkait properti rumah atas nama Bp. Brata Wicaksono.” Jantung Dara berdegup lebih cepat. Ada firasat buruk yang tiba-tiba merayap naik. “Ada apa ya?” “Rumah tersebut telah dijual oleh pihak ahli waris, yaitu saudara Heri Wicaksono, dan saat ini sudah menjadi aset bank.” Dunia Dara kembali runtuh, lebih keras dari sebelumnya. “Apa?!” napasnya tercekat. “Kami mohon kerja samanya untuk segera mengosongkan rumah itu segera mungkin!" Kata-kata itu seperti gema yang terus berulang di kepalanya. "Mengosongkan rumah." Tangannya mulai gemetar hebat. Ponsel Dara terlepas dari genggamannya. Brak!!! Tubuhnya ikut jatuh menyusul. Ia tersungkur ke lantai, lututnya menghantam keras, tapi ia bahkan tidak merasakannya. Tangannya mencengkeram lantai, napasnya kacau, seperti tidak cukup udara untuk hidup. “Nggak, nggak mungkiiiiin!!!” suaranya pecah. Air matanya jatuh tanpa henti, membasahi lantai di bawahnya. “Kenapa? Kenapa lo lakuin ini, Heri?! Lo jahat Heri, gue benci sama Lo!!!” tangisnya berubah menjadi isak yang menyayat. Baru beberapa menit yang lalu dia berharap kakaknya akan menjawab panggilan teleponnya. Sekarang tidak ada yang tersisa. Temannya memeluknya, mencoba menenangkan hati Dara yang sedang hancur. "Ra, yang sabar ya, untuk sementara waktu Lo boleh tinggal di rumah gue!" Dara hanya bisa terus menangis. Sahabatnya dengan setia menemaninya sampai dia tenang kembali. "Gue mau cari kos-kosan aja ta yang murah. Gue gak mau ngerepotin Lo!" "Yaudah, kalau itu keputusan Lo, gue bantu pindahan ya Ra!" "Makasih ya ta, Lo selalu ada buat gue!" "Sama-sama Ra, Lo udah seperti saudara gue sendiri." Dara pun mengemasi barang-barangnya dan untuk terakhir kalinya dia menatap ke sekeliling rumah peninggalan orang tuanya. Rumah yang sudah menjadi kenang-kenangan selama bertahun-tahun. "Ma, pa.., Dara janji akan menjadi gadis yang mandiri. Suatu saat rumah ini akan menjadi milik kita lagi!" **** Waktu terus berjalan. Beberapa hari kemudian, Dara menatap pantulannya sendiri di kaca. Gaun hitam itu pas di tubuhnya. Rambutnya terurai rapi. Bibirnya merah, kontras dengan tatapan matanya yang dingin. Berbeda, sangat berbeda dari dirinya yang dulu. “Lo yakin mau masuk ke tempat kayak gini, Ra?” tanya Lita, temannya, sambil melirik ragu ke arah gedung di depan mereka. Sebuah club malam besar berdiri megah, penuh dengan suara musik yang bahkan sudah terdengar dari luar. Dara tersenyum tipis. “Yakin!!" “Ini bukan dunia lo, tau!" “Sekarang ini dunia gue.” Lita menghela napas panjang. “Lo nggak harus sejauh ini buat cari uang.” Dara menoleh, menatap lurus ke mata Lita. “Gue nggak punya pilihan lain. Ini cara yang paling cepet buat dapet uang!!!" Sunyi sejenak. “Lagian gue nggak jual diri,” lanjut Dara tegas. “Gue cuma, mainin mereka.” “Mereka?” “Cowok-cowok kaya yang ngerasa bisa beli segalanya.” Sudut bibir Dara terangkat tipis. “Gue cuma kasih mereka harapan.” “Dan lo ambil uangnya,” sambung Lita pelan. Dara tidak menjawab. Tapi diamnya sudah cukup jadi jawaban. Begitu pintu club terbuka, suara musik langsung menghantam telinga. Lampu warna-warni berputar. Tawa, alkohol, dan aroma parfum mahal bercampur jadi satu. Dara melangkah masuk dengan percaya diri, meski di dalam hatinya ada sesuatu yang terasa, asing. Ia berhenti sejenak, mengamati sekitarnya. Matanya bergerak pelan, menilai. “Ra,” Lita masih terlihat cemas. “Kita masih bisa pulang!" Dara menggeleng. “Udah terlambat!!" Seorang pria mendekat, tersenyum percaya diri. “Sendirian aja, cantik?” Dara membalas dengan senyum yang sama. “Emangnya kenapa?” “Gue bisa nemenin.” Dara memiringkan kepala, menatapnya dari atas ke bawah, menilai, lalu.., kehilangan minat. “Sorry,” katanya ringan. “Lo bukan tipe gue!!" Pria itu terdiam, jelas tak menyangka akan ditolak secepat itu. Lita menahan tawa kecil saat mereka berjalan menjauh. “Sadis banget,” bisiknya. “Dia bukan tipe gue!!" Beberapa menit kemudian, langkah Dara melambat. Matanya berhenti pada satu sosok di sudut ruangan. Seorang pria duduk santai, dikelilingi dua temannya. Kemeja hitamnya terbuka di bagian atas, memperlihatkan sedikit dadanya. Jam tangan mahal melingkar di pergelangan tangannya. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya tajam. Berbeda dari yang lain. “Ra,” Lita mengikuti arah pandangannya. “Jangan bilang, Lo mau deketin dia?" Dara tersenyum pelan. “Gue mau dia!!" “Lo yakin?” tanya Lita. “Kelihatannya bukan tipe yang gampang di rayu!" “Justru itu menarik bagi gue!" Dara menarik napas pelan, lalu melangkah mendekat. Hari ini dia nggak boleh gagal. Ia berhenti tepat di depan pria itu. “Boleh gabung?” ucap Dara, suaranya lembut tapi percaya diri. Pria itu mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat, waktu terasa melambat. Pria itu tersenyum tipis. “Lo siapa?" Dara ikut tersenyum. “Seseorang yang bakal bikin malam lo lebih menarik!" Pria itu terkekeh pelan. “Percaya diri juga, Lo!" “Harus,” balas Dara. “Apalagi kalau yang dihadapin, orang kaya!" Salah satu temannya tertawa. “Gila, berani juga lo ngomong gitu ke dia.” Pria itu hanya menatap Dara lebih dalam, seolah mencoba membaca sesuatu di balik senyumannya. Dara mengulurkan tangan. “Nama gue Dara Valerina." "Jackson Anderson!!" Jawab pria itu sambil menatap Dara penuh arti.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Menikah, Karena Tak Sengaja Hamil

read
1.2K
bc

Pawang Cinta CEO Playboy

read
2.6K
bc

Hati Yang Tersakiti

read
9.0K
bc

Mantan Sugar Baby

read
8.6K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
44.8K
bc

The CEO's Little Wife

read
685.1K
bc

Pak Bos Duda Jadi Jodohku

read
34.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook