Pagi itu koper-koper sudah tersusun rapi di ruang tamu. Andre memesan penerbangan pagi ke Bali dan menyiapkan semuanya tanpa banyak bicara. Aruna hanya menurut. Ia tidak tahu apa yang harus diharapkan dari perjalanan ini. Dalam pikirannya, liburan ini bukan benar-benar liburan, tapi ujian. Ia merasa seperti sedang dibawa ke sebuah permainan di mana ia tidak tahu kapan waktunya harus menjawab atau diam. “Na, udah siap?” suara Andre terdengar dari pintu. “Udah, Mas,” jawab Aruna pelan sambil memastikan isi tasnya lengkap. Ia memeriksa ponsel barunya, dompet, dan hasil pemeriksaan kehamilan terakhir yang disimpan di map kecil. Andre mengenakan kemeja putih dan celana bahan warna krem. Wajahnya terlihat tenang, tapi Aruna tahu ketenangan itu palsu. Sudah berminggu-minggu Andre bersikap sepe

