Aruna terbangun lebih dulu sebelum alarm berbunyi. Langit di luar jendela masih gelap, hanya terlihat semburat biru dini hari. Ia menoleh. Rangga masih tertidur miring menghadap anak mereka yang meringkuk di sisi lain, seolah menjaga bahkan dalam tidur. Napas laki-laki itu berat tapi teratur, menunjukkan betapa lelahnya ia semalam. Aruna bangkit perlahan, memakai cardigan tipis, lalu menuju dapur untuk menyiapkan sarapan sederhana: nasi goreng dengan sisa ayam suwir semalam, dua telur ceplok, dan termos kopi yang ia tahu akan disentuh Rangga sebelum pergi. Pisau memotong bawang dengan suara lirih. Dapur kecil itu hangat. Tapi pikirannya tidak. Kuat nggak ya dia kerja seharian? Kuat nggak ya aku sendiri urus anak sambil bikin pesanan? Kita kuat nggak ya kalau badai benar datang? Aruna

