Bab 34

871 Kata

Aruna menutup keran dengan cepat, seolah suara air bisa menarik perhatian seseorang yang sedang mengawasinya. Ponsel itu masih berada di tangannya, layarnya menyala dengan dua pesan terakhir yang belum sempat ia hapus atau balas. Napasnya berat. Ia melirik ke arah kamar, memastikan anaknya masih tertidur. Tidak ada suara selain napas lembut dari dalam kamar dan bunyi lantai kayu yang mengerut karena udara pagi. Aruna menekan tombol kunci layar, lalu mematikan suara ponsel. Ia menaruhnya di meja makan, tetapi hanya beberapa detik, sebelum akhirnya mengambil kembali. Tangannya gelisah. “Hah… siapa sih?” gumamnya pelan, lebih ke dirinya sendiri. Ia bukan tipe orang yang mudah panik, tapi pesan semacam itu—di jam pagi, dari nomor tak dikenal, tepat beberapa menit setelah Rangga pergi—terla

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN