Aruna menghabiskan beberapa menit hanya berdiri di depan pintu, mencoba menenangkan pikirannya. Ia menatap kunci pintu yang kini ia putar dua kali lebih kuat dari biasanya. Bukan karena paranoid, tapi karena pesan itu terlalu tepat waktu untuk diabaikan. Setelah menarik napas panjang, ia kembali ke ruang tengah. Anaknya masih duduk di karpet, memegang biskuit sambil menatap televisi. Aman. Normal. Seolah dunia tidak sedang menawarkan ancaman samar. Aruna meraih ponsel lagi. Kali ini ia mencoba menelusuri nomor tersebut lewat internet, berharap ada data apa pun—nama, wilayah, atau setidaknya operator. Tetapi hasilnya nihil. Nomor itu tampaknya acak, seperti nomor sekali pakai yang bisa dibuang kapan saja. “Nyebelin banget,” gumamnya. Ia meremas ujung kausnya, kebiasaan lama saat ia gelis

