Mobil itu melaju dalam keheningan yang canggung. Mesin berdengung rendah, lampu jalan melintas satu per satu seperti garis waktu yang terpotong. Aruna duduk di kursi penumpang, memeluk map di dadanya, sementara pria misterius itu menyetir dengan tenang, seolah dunia di luar mobil tidak sedang memburunya. “Rangga…” suara Aruna pecah pelan. “Dia masih di sana.” Pria itu melirik sekilas, lalu kembali fokus ke jalan. “Dia akan selamat. Aku memastikan orang-orangku mengevakuasinya setelah kita pergi.” Aruna menutup mata, mengembuskan napas panjang. Ada kelegaan yang datang terlambat, bercampur rasa bersalah. “Kau yakin?” “Aku tidak meninggalkan orang yang penting bagimu,” katanya singkat, tapi ada sesuatu dalam nada suaranya—yakin, protektif. Aruna menoleh. “Bagimu, aku penting?” Mobil it

