Langit mulai memucat ketika mereka akhirnya berhenti. Bukan di tempat aman yang Aruna bayangkan—tidak ada bunker, tidak ada markas rahasia—melainkan sebuah rumah kecil di pinggiran kota, nyaris tersembunyi di balik pepohonan tua. Bangunannya sederhana, satu lantai, dengan teras sempit dan lampu kuning redup yang menyala sejak dini hari. Pria berjaket hitam itu membuka pintu tanpa suara. “Masuklah,” katanya pelan. Aruna melangkah masuk dengan ragu. Begitu pintu tertutup, keheningan menyelimuti ruangan. Bau kopi dingin dan kayu tua memenuhi udara. Rumah itu terasa… hidup. Bukan tempat singgah sementara, melainkan rumah yang benar-benar dihuni. “Aku buatkan teh,” kata pria itu, melepas jaketnya dan meletakkannya di sandaran kursi. “Kau terlihat kedinginan.” Aruna baru menyadari bahwa tang

