Aruna terbangun dengan kesadaran yang masih kabur, seperti muncul ke permukaan setelah tenggelam terlalu lama. Bau antiseptik samar bercampur aroma kopi hangat menyelinap ke inderanya. Ia mengedipkan mata perlahan, menyesuaikan diri dengan cahaya lembut yang jatuh dari jendela kamar sempit itu. Ruangan itu sederhana. Dinding putih, satu meja kecil, dan kursi lipat di samping ranjang. Tidak ada alat medis yang rumit—hanya perban di lengannya dan selimut tipis yang menutupi tubuhnya. Namun ada satu hal yang langsung membuat dadanya menghangat. Rangga. Ia tertidur di kursi di samping ranjang, tubuhnya sedikit membungkuk, satu lengannya terikat perban kasar. Wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya, garis lelah jelas terpahat di bawah matanya. Jaketnya tergeletak di lantai, dan rambutny

