Udara malam terasa lebih dingin ketika Aruna akhirnya duduk di bangku penumpang mobil hitam itu. Pintu tertutup pelan, nyaris tanpa suara. Mesin belum dinyalakan. Di dalam mobil, hanya ada keheningan yang berat, dipenuhi sisa ketegangan yang belum sepenuhnya pergi. Pria itu duduk di kursi pengemudi. Tangannya masih menggenggam setir, tapi bahunya sedikit turun, seolah ia baru saja melepas beban yang terlalu lama dipikul. “Kita aman untuk sementara,” katanya akhirnya. Aruna mengangguk pelan. Tangannya masih menggenggam map itu, kini terlipat di dadanya seperti tameng. Dadanya naik turun perlahan. Baru sekarang ia menyadari betapa lelahnya tubuh dan pikirannya. “Kamu… belum menjawab pertanyaanku,” ucap Aruna lirih. Pria itu menoleh. Lampu jalan menyorot wajahnya setengah terang, setenga

