Udara malam terasa lebih dingin ketika langkah mereka akhirnya melambat. Pria berjaket hitam itu membawa Aruna ke sebuah bangunan tua dua lantai yang tampak seperti rumah kosong tak berpenghuni. Lampu terasnya redup, nyaris mati, tapi pintu terbuka tanpa suara ketika pria itu mendorongnya masuk. Di dalam, suasana jauh berbeda. Hangat. Lampu kuning menyala lembut, aroma teh melati samar memenuhi ruangan. Tidak ada tanda-tanda kekerasan, tidak ada senjata berserakan. Hanya sofa sederhana, meja kayu, dan jendela besar yang ditutup tirai tipis. Aruna berhenti tepat di ambang pintu. “Apa ini… tempat aman?” tanyanya pelan. “Untuk sementara,” jawab pria itu. Ia meletakkan pistolnya di atas meja, jauh dari jangkauan. Gerakan kecil itu membuat Aruna sedikit lebih tenang. “Kau bisa duduk.” Arun

