Pria berjaket hitam itu melangkah maju satu langkah, pistol berperedamnya tetap terarah ke kepala pria bertopeng. Lorong bawah tanah yang lembap mendadak terasa lebih sempit, seolah dinding-dindingnya ikut menahan napas. Aruna merasakan denyut jantungnya menghantam tulang rusuk, sementara kata-kata pria asing itu masih menggema di kepalanya. Akhirnya aku menemukanmu. Pria bertopeng itu tertawa pendek, hambar. “Kau terlambat,” katanya. “Prosedur sudah berjalan.” “Tidak,” balas pria berjaket hitam dengan suara tenang, nyaris datar. “Belum. Selama Subjek 07 masih bernapas, permainan belum selesai.” Nama itu lagi. Aruna mengepalkan tangannya. Ia benci bagaimana dua orang asing ini menyebutnya seolah ia benda, bukan manusia. Ia mundur setengah langkah, punggungnya menyentuh rak besi yang di

