Pria berjaket hitam itu melangkah satu langkah ke depan, pistol berperedamnya tetap terarah stabil ke kepala pria bertopeng. Udara di ruangan bawah tanah itu terasa menegang, seolah oksigen ikut membeku bersama detik yang menggantung. Lampu senter Rangga yang jatuh ke lantai berkedip lemah, memantulkan bayangan panjang ketiga pria itu di dinding berlumut. “Turunkan senjatamu,” kata pria baru itu lagi, suaranya rendah, tenang, namun mengandung ancaman yang tak perlu diteriakkan. Pria bertopeng tertawa kecil, suara kering yang teredam masker. “Kau terlambat,” balasnya. “Subjek sudah terkonfirmasi. Instruksi kami jelas.” “Instruksimu tidak berlaku di sini,” jawab pria berjaket hitam. Ia memiringkan kepala sedikit, tatapannya tak pernah lepas dari target. “Kau tahu itu.” Ada jeda singkat.

