Lorong bawah tanah itu tiba-tiba menjadi lebih sempit dari sebelumnya. Udara lembap yang sejak tadi menempel di kulit kini terasa seperti dinding lain yang merapat dari segala arah. Aruna tidak berkedip; tubuhnya membeku, jantungnya berdegup di telinga seperti genderang perang yang kacau. Sosok pria berjaket hitam itu berdiri dengan mantap, senjatanya terarah tepat ke pria bertopeng yang sejak awal mengejar mereka. Tidak ada keraguan, tidak ada getaran di matanya. Hanya ketenangan yang membuat ancaman itu terdengar lebih nyata. Pria bertopeng itu tidak bergerak. Ia menoleh sedikit, menimbang ancaman baru itu, lalu menurunkan besi yang hendak ia ayunkan ke arah Aruna. Aruna tidak tahu apakah ia harus merasa lega atau justru makin takut. Dua orang yang mengaku mengejarnya, yang datang dari

