Bab 66

1229 Kata

Aruna menatap pria berjaket hitam itu tanpa berkedip. Dalam remang-remang lorong bawah tanah yang lembap dan berbau logam tua, wajahnya hanya separuh terlihat—namun cukup untuk membuat tubuh Aruna merinding. Ada sesuatu di tatapannya… sesuatu yang bukan ancaman, tapi juga bukan kelegaan. Tatapan seseorang yang menemukan sesuatu yang lama hilang, tapi tidak tahu harus bersyukur atau hancur. Pria bertopeng yang mengejar Aruna menegang. Cengkeramannya pada besi berat itu melambat. “Kau lagi,” katanya datar, suaranya mengandung ketidaksenangan dan sedikit… ketakutan? “Seharusnya kau tetap mati.” “Sayangnya,” jawab pria berjaket hitam itu tenang, mengangkat pistol peredam, “orang-orang sepertimu selalu terlalu percaya diri soal laporan kematian.” Tanpa peringatan, pria bertopeng menyerbu maj

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN