Bab 65

1122 Kata

Aruna menarik napas panjang. Panas, dingin, takut, marah—semuanya bercampur jadi satu seperti badai yang tak pernah ia minta, tapi kini terpaksa ia hadapi. Cahaya senter yang berkedip-kedip membuat wajah-wajah di sekelilingnya tampak seperti bayangan tanpa bentuk, dan tatapan Rangga dari balik reruntuhan rak itu—Ya Tuhan—tatapan itu seperti tangan yang memohon untuk tidak dilepaskan. Tapi langkah-langkah para pengejar semakin dekat. Dan pria berjaket hitam di sampingnya berdiri seperti satu-satunya tembok yang memisahkan Aruna dari sesuatu yang lebih gelap dari kegelapan itu sendiri. “Aruna,” Rangga memanggil lagi, suara pecah, memohon, sakit. “Jangan pergi dengan dia… aku mohon.” Aruna merasa jantungnya direnggut. Rangga, yang selalu terlihat kukuh, tegas, dingin dalam cara yang meli

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN