Gelap. Benar-benar gelap. Setelah dentuman besar tadi, seluruh lorong bawah tanah berubah seperti gua raksasa yang menelan cahaya. Aruna meraba-raba udara, mencoba memastikan ia masih di dunia nyata, bukan jatuh dalam mimpi buruk lain. Napasnya tercekat, bulu kuduknya berdiri, dan seluruh tubuhnya membeku. “Rangga?” panggil Aruna pelan. Tidak ada jawaban. Hanya gema samar napas seseorang… atau mungkin lebih dari satu. Kemudian suara pria berjaket hitam terdengar, tenang meski situasi kacau. “Tetap di tempatmu. Jangan bergerak.” Aruna ingin membalas, tapi sebelum sempat mengucapkan sepatah kata pun, suara lain meledak dari arah lorong seberang—suara yang menggetarkan lantai di bawah mereka. Senter Rangga yang terjatuh tadi tiba-tiba menyala lagi, entah tersenggol atau menyala otomati

