Lorong itu mendadak terasa jauh lebih sempit ketika sosok berjaket hitam itu melangkah maju. Suaranya tenang, tapi cara ia mengucapkan nama Aruna membuat udara seolah mengeras. Aruna tak berkedip, seluruh tubuhnya kaku. Sementara pria bertopeng menegakkan bahu, memegang senjatanya lebih erat. “Kau… seharusnya tidak ada di sini.” Suaranya berat, tersendat, mengisyaratkan kejutan bercampur ketakutan. Bukan ketakutan pada Aruna. Ketakutan pada pria yang baru datang itu. Pria berjaket hitam mengarahkan pistolnya tanpa sedikit pun tremor. “Lepaskan semua yang kau pegang, lalu pergi.” Langkahnya mantap. Tidak tergesa, tidak ragu—seperti seseorang yang tahu persis bahwa setiap gerakannya adalah perintah. Aruna masih terduduk di lantai, pipa besi tergeletak beberapa sentimeter dari tangannya

