Suara derap langkah Rangga menggema panjang di lorong bawah tanah yang lembap. Setiap detik terasa seperti dorongan lain menuju jurang yang belum ia lihat ujungnya. Di belakangnya, Aruna berusaha menjaga napas tetap stabil, meski wajahnya masih pucat setelah insiden di depan rumahnya. Meski begitu, pandangannya tidak lagi sama—ada kehati-hatian, kecemasan, dan tekad yang semakin mengeras. “Apa tempat ini?” tanya Aruna pelan, suaranya bergetar namun keras kepala ingin tetap tegar. Rangga tidak langsung menjawab. Ia hanya menyalakan senter kecil dan mengarahkannya ke sebuah pintu besi setengah berkarat di ujung lorong. “Dulu… ini pusat penyimpanan dokumen bawah tanah milik polisi,” katanya, sambil mendorong pintu berat itu. “Tapi sejak lima tahun lalu, tempat ini ditutup. Hampir semua oran

