Bab 61

1105 Kata

Angin malam menyapu pelataran depan rumah tua itu, membawa aroma lembap dari pepohonan rimbun di sekitar bangunan. Lampu-lampu kecil yang dipasang Rangga di beberapa sudut halaman berpendar redup, cukup untuk memberi cahaya tetapi tidak mencuri perhatian siapapun dari luar. Mereka berdua duduk di ruang tamu, atau tepatnya, ruangan berdebu yang dulunya mungkin ruang tamu. Dinding kusam. Lantai retak. Namun di tengah semua itu, satu hal mencolok: keheningan. Aruna duduk di kursi kayu dengan tubuh sedikit membungkuk. Ia memijat pelipisnya berulang-ulang, seperti mencoba meredam suara dari dalam kepala. Sementara itu, Rangga berdiri di dekat jendela, menatap keluar seperti penjaga yang tidak pernah mengizinkan dirinya lengah. “Tadi…” suara Aruna akhirnya terdengar, samar. “Tadi saat aku liha

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN