Bab 5

1107 Kata
Sudah hampir dua bulan sejak Aruna menabrak Rangga. Luka di kakinya mulai sembuh, tapi mereka berdua tetap sering bertemu. Awalnya karena rasa tanggung jawab Aruna, lalu berubah jadi kebiasaan yang sulit dijelaskan. Setiap dua atau tiga hari sekali, Aruna datang membawa bahan makanan, vitamin, atau hanya sekadar mampir untuk memastikan Ibu Rangga baik-baik saja. Di rumah kecil itu, Aruna merasa lebih dihargai sebagai manusia daripada di rumah besar miliknya sendiri. Tidak ada teriakan, tidak ada tuduhan, tidak ada tekanan soal anak. Pagi itu, Aruna datang membawa tas berisi sayur dan daging. Rangga sedang duduk di depan rumah sambil mengelas rak motor yang rusak. Ia mengenakan kaus hitam yang sudah pudar warnanya, tangan dan wajahnya sedikit berdebu. “Masih ngelas aja dari pagi?” tanya Aruna sambil menaruh kantong belanja di meja. Rangga menoleh dan tersenyum. “Udah janji sama orang bengkel. Ini tinggal finishing. Tapi tumben kamu datang pagi banget.” “Lagi nggak ke mana-mana hari ini.” “Suami kamu nggak nyariin?” Pertanyaan itu membuat Aruna diam beberapa detik. Ia cepat menutupi kekakuannya dengan senyum tipis. “Aku kan nggak bilang aku punya suami.” Rangga menatapnya bingung. “Oh iya, maksudku... maksudku temen atau keluarga. Gitu.” “Iya, nggak ada yang nyariin,” jawab Aruna singkat. Ia masuk ke dapur tanpa menoleh lagi, mencoba mengalihkan suasana. Tapi dalam hatinya, kata-kata itu menggema seperti peringatan. Setiap kali Rangga bertanya soal kehidupannya, ia terjebak antara jujur atau terus berbohong. Di dapur, Aruna mulai menyiapkan makan siang. Tangannya cekatan memotong bawang, menumis, dan mencicipi rasa. Ibu Rangga datang pelan-pelan, menatap pemandangan itu sambil tersenyum. “Kamu kalau di dapur keliatan bahagia, Nduk,” katanya. Aruna menoleh dan tersenyum. “Saya emang suka masak, Bu. Rasanya kayak... bisa ngelupain semua hal yang berat.” Ibu Rangga tertawa pelan. “Saya doain kamu nemu orang yang bikin kamu nggak perlu ngelupain apa pun lagi.” Aruna diam. Doa itu terlalu sederhana, tapi justru terasa menyakitkan. Ia tahu, hidupnya sudah terlalu rumit untuk berharap sesederhana itu. Siang itu mereka makan bertiga. Ibu Rangga lahap sekali, bahkan memuji sambal buatan Aruna. “Pedasnya pas. Kamu besok ajarin Rangga, ya,” katanya sambil tertawa. Rangga menatap Aruna dari seberang meja. “Udah sering diajarin, Bu. Tapi tiap kali nyoba, hasilnya tetap gosong.” Aruna ikut tertawa. “Masalahnya kamu buru-buru terus. Masak tuh butuh sabar.” “Ya sabar kalau ada yang nemenin,” balas Rangga cepat. Ibu Rangga tertawa makin keras. “Nah, bener tuh. Makanya cepet cari istri, biar ada yang nemenin.” Rangga menatap Aruna tanpa kata. Aruna menunduk, berpura-pura sibuk memindahkan lauk ke piring. Setelah makan, Aruna membantu membereskan meja, lalu duduk di teras. Rangga ikut duduk di sampingnya. Hening. Angin sore berhembus pelan. “Aku mikir,” kata Rangga tiba-tiba. “Kalau Ibu nanti sembuh total, aku mau buka bengkel sendiri. Biar bisa kerja di rumah, nggak ninggalin Ibu.” “Itu bagus,” jawab Aruna. “Kamu bisa mulai kecil dulu, dari depan rumah.” “Iya. Tapi modalnya belum ada.” “Kalau aku bantu, kamu mau?” Rangga menoleh cepat. “Hah? Maksudnya bantu uang?” Aruna mengangguk ringan. “Aku bisa bantu sedikit. Anggap aja aku ikut nanam modal. Nanti kalau udah jalan, kamu ganti.” Rangga terlihat ragu. “Aku nggak enak, Aruna. Kamu udah bantu banyak. Biaya rumah sakit aja aku belum ganti.” “Udah, nggak usah dipikirin. Aku ikhlas kok,” kata Aruna. “Tapi aku nggak mau kamu rugi.” Aruna tersenyum tipis. “Kalau kamu sukses, aku juga senang. Itu udah cukup.” Rangga menatapnya lama. Di mata perempuan itu, ada sesuatu yang membuatnya sulit berpaling — ketenangan, tapi juga kesedihan yang dalam. Malamnya, Aruna pulang ke rumah. Andre sudah di ruang tamu, duduk sambil menatap layar laptop. Begitu melihat istrinya masuk, ia langsung menutup laptopnya dengan suara keras. “Kamu dari mana?” “Dari luar,” jawab Aruna datar. “Luar mana?” “Bantu teman.” “Teman? Teman yang mana?!” suara Andre meninggi. Aruna menatapnya dengan wajah lelah. “Mas, aku nggak ngapa-ngapain. Cuma bantu orang sakit. Itu aja.” Andre berdiri. “Orang sakit? Laki-laki atau perempuan?” “Mas, tolong—” “JAWAB!” bentaknya. Aruna menahan napas, lalu menjawab pelan. “Laki-laki. Tapi bukan seperti yang kamu pikir.” Andre menatapnya tajam, rahangnya mengeras. “Kamu pikir aku bodoh? Lima belas tahun kamu nggak bisa ngasih aku anak, sekarang kamu sibuk bantu laki-laki lain?!” “Mas, jangan bawa-bawa itu lagi,” katanya lirih. “Kenapa nggak?! Kamu tahu nggak, semua orang di kantor udah bisik-bisik bilang aku sial karena istriku mandul!” Aruna terdiam. Dadanya sesak. Ia ingin berteriak kalau ia sudah lelah mendengar kata itu. Tapi suaminya tidak akan mendengar, tidak akan peduli. Akhirnya ia hanya berkata pelan, “Kalau Mas mau, ayo kita periksa bareng. Sekali aja. Biar kita tahu siapa yang sebenarnya bermasalah.” Andre menatapnya tajam. “Kamu nuduh aku yang nggak subur?!” “Aku cuma minta kita periksa bareng,” jawab Aruna pelan. “Supaya jelas.” Tanpa pikir panjang, Andre menamparnya. Suara tamparan itu menggema di ruang tamu. Aruna memegang pipinya yang panas, tapi matanya tidak lagi berkaca-kaca. Ia sudah tidak kaget. Andre berdiri beberapa detik, napasnya berat. “Mulai sekarang, kamu nggak usah banyak keluar rumah. Kalau aku tahu kamu masih ketemu laki-laki itu, jangan salahin aku kalau kamu aku usir.” Tanpa menjawab, Aruna berbalik dan masuk ke kamar. Ia menutup pintu, bersandar di baliknya, dan menarik napas panjang. Air mata akhirnya jatuh, tapi bukan karena sakit. Lebih karena kecewa pada dirinya sendiri — karena masih bertahan dalam pernikahan yang bahkan tidak lagi punya makna. Keesokan harinya, Aruna tetap pergi. Ia berbohong pada Andre, bilang akan ke pasar. Tapi sebenarnya ia menuju rumah Rangga lagi. Begitu melihat wajah Aruna, Rangga tahu sesuatu tidak beres. “Kamu kenapa? Wajah kamu lebam,” katanya cemas. Aruna cepat-cepat menutupi pipinya. “Nggak apa-apa. Kepentok lemari.” “Aruna...” suara Rangga pelan, tapi tegas. “Aku nggak bodoh.” Aruna menunduk. “Jangan tanya. Aku cuma mau di sini sebentar aja. Di sini aku tenang.” Rangga menatapnya lama, lalu berkata, “Kamu bisa di sini kapan aja kamu mau. Tapi kalau ada yang nyakitin kamu, aku nggak akan diam.” Aruna tersenyum samar. “Terima kasih, Rangga.” Malam itu mereka makan bersama lagi, lalu duduk di teras. Obrolan mereka ringan, tapi tatapan mereka tidak bisa berbohong. Ada sesuatu yang tumbuh di antara mereka — sesuatu yang tidak seharusnya ada, tapi juga tidak bisa dihindari. Dan malam itu juga, tanpa sadar, garis batas di antara mereka mulai kabur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN