Sudah seminggu sejak kejadian tamparan itu. Wajah Aruna mulai membaik, tapi hatinya tidak. Setiap hari ia masih menjalani rutinitas yang sama di rumah: menyiapkan sarapan untuk Andre, diam mendengarkan omelannya, lalu menunggu waktu ketika suaminya pergi agar ia bisa bernapas lebih lega.
Andre tidak pernah berubah. Setelah berangkat kerja, ia jarang pulang tepat waktu. Kadang mabuk, kadang hanya pulang untuk tidur tanpa bicara sepatah kata pun. Rumah besar itu terasa seperti penjara tanpa jeruji.
Suatu siang, Aruna tidak tahan lagi. Ia meninggalkan rumah tanpa pesan, mengendarai mobil menuju rumah Rangga seperti biasanya. Di sanalah, untuk pertama kalinya setelah lama, ia bisa merasa menjadi dirinya sendiri.
Begitu tiba, Rangga sedang menjemur pakaian. Ia menoleh dan tersenyum kecil. “Tumben datang siang-siang. Nggak takut kepanasan?”
Aruna balas tersenyum tipis. “Mending panas daripada di rumah.”
Rangga menatapnya lekat-lekat. “Kamu kelihatan capek banget, Aruna.”
“Capek mikirin hal yang nggak pernah selesai,” jawabnya pendek sambil meletakkan kantong belanja di dapur.
Ibu Rangga sedang tidur, jadi hanya mereka berdua di rumah. Setelah beberapa menit hening, Rangga menyusul ke dapur. Ia berdiri di belakang Aruna yang sedang menyiapkan teh.
“Kalau kamu butuh tempat cerita, aku dengerin,” katanya.
Aruna berhenti menuang air panas. “Aku nggak tahu harus cerita dari mana.”
“Dari yang paling bikin kamu sesak,” jawab Rangga pelan.
Aruna menatap cangkir di tangannya. “Suamiku... dia marah besar waktu tahu aku bantu kamu. Dia pikir aku selingkuh.”
Rangga terdiam beberapa detik, lalu bertanya hati-hati, “Dia sering gitu sama kamu?”
“Sering. Tapi aku udah terbiasa,” katanya datar. “Aku cuma... capek disalahin terus. Semua masalah di rumah selalu baliknya ke aku. Dia selalu bilang aku mandul.”
Rangga menatapnya lama, ekspresinya berubah jadi prihatin. “Kamu udah ke dokter kan?”
“Udah. Dan hasilnya aku sehat.”
“Terus?”
“Dia nggak mau diperiksa. Katanya nggak perlu, karena masalah pasti di aku.”
Hening. Suara kipas angin tua di pojok dapur berputar lambat. Rangga menatap Aruna yang masih berdiri memandangi cangkir teh di tangannya, seolah mencari jawaban di dalamnya.
“Aku cuma pengen buktiin kalau aku nggak salah,” kata Aruna pelan. “Kalau aku juga bisa punya anak.”
Rangga mengernyit. “Aruna, maksud kamu apa?”
Aruna menatapnya, dan kali ini matanya penuh keputusasaan. “Aku nggak tahu. Tapi aku pengen buktiin aja. Sekali aja.”
Rangga makin bingung. “Buktikan gimana?”
Aruna tidak menjawab. Ia hanya menatap Rangga lama, dalam, sampai pemuda itu merasa jantungnya berdebar keras. Ada sesuatu di tatapan itu — bukan sekadar rasa kasihan, tapi campuran antara kehilangan, kecewa, dan keinginan untuk merasa hidup kembali.
Rangga mundur setengah langkah. “Aruna... jangan ngomong hal aneh.”
“Aku nggak aneh, Rangga. Aku cuma capek disalahin. Aku cuma pengen tahu kalau tubuhku ini nggak rusak seperti yang mereka bilang.”
“Caranya bukan begini,” ucap Rangga cepat.
Aruna menatapnya dengan mata berkaca, tapi suaranya tegas. “Aku tahu ini salah. Tapi semua orang udah ngebuat aku merasa nggak berharga. Aku cuma pengen sekali aja ngerasa aku masih bisa jadi perempuan seutuhnya.”
Rangga memejamkan mata, mencoba menahan diri. Tapi melihat Aruna berdiri di depannya — dengan wajah lelah, mata sembab, dan tubuh yang gemetar karena menahan emosi — membuat hatinya goyah.
“Aruna...”
“Rangga, tolong jangan nolak,” potong Aruna lirih. “Aku nggak minta apa-apa. Cuma sekali ini aja. Setelah itu, aku nggak akan ganggu hidup kamu lagi.”
Hening panjang. Suara jam dinding terdengar jelas.
Akhirnya Rangga mendekat perlahan. Ia tahu ini salah, tapi di dalam hatinya ada perasaan yang lebih kuat dari logika. Selama ini ia selalu berusaha menjaga jarak, tapi Aruna membuatnya tidak bisa berpaling.
“Kalau ini yang kamu mau...” suaranya rendah.
Aruna hanya mengangguk.
Dan malam itu, batas di antara mereka benar-benar lenyap. Tidak ada rencana, tidak ada cinta yang diucapkan, hanya dua orang yang sama-sama terluka, mencari arti diri lewat pelukan yang salah.
Beberapa minggu berlalu. Aruna mencoba melupakan kejadian itu, tapi setiap kali melihat Rangga, ada rasa campur aduk di dalam dirinya — bersalah, tapi juga tenang. Ia masih sering datang, tapi sekarang suasana di antara mereka berbeda. Ada kecanggungan, ada jarak yang sulit dijelaskan.
Hingga suatu hari, Aruna mulai merasa mual setiap pagi. Awalnya ia pikir karena kelelahan, tapi setelah seminggu, ia sadar sesuatu tidak beres. Ia membeli test pack dan mencobanya diam-diam di kamar mandi rumahnya.
Dua garis merah muncul jelas.
Tangannya gemetar. Antara syok dan tidak percaya. Dalam sekejap, semua emosi bercampur jadi satu — takut, lega, panik, sekaligus bahagia.
Ia duduk di lantai kamar mandi lama sekali, mencoba memahami apa yang baru terjadi. Air matanya mengalir tanpa suara. Ia tahu apa artinya ini: ia hamil. Tapi ia juga tahu, bukan Andre ayahnya.
Malamnya, Andre pulang. Aruna memutuskan untuk tidak berkata apa pun dulu. Tapi beberapa hari kemudian, saat jadwal kontrol ke dokter umum, Andre ikut. Di ruang konsultasi, dokter berkata pelan, “Selamat ya, Bu Aruna. Usia kandungan Ibu sekitar empat minggu.”
Andre menatapnya dengan mata lebar. “Serius, Dok? Empat minggu?”
“Betul, Pak. Ini kabar baik. Ibu sehat, janinnya juga bagus.”
Begitu keluar dari ruang periksa, Andre tampak berubah total. Senyumnya lebar, suaranya lembut. “Kamu denger, kan? Kamu hamil! Akhirnya juga!”
Aruna hanya menatapnya kosong, lalu mengangguk pelan.
Andre memeluknya. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, pelukan itu terasa hangat — tapi bukan karena cinta. Lebih karena kebanggaan egois yang akhirnya terpenuhi.
Sejak hari itu, sikap Andre berubah drastis. Ia jadi perhatian, membelikan vitamin, bahkan menemani kontrol ke dokter. Keluarganya pun mendadak ramah, seolah semua hinaan dulu tidak pernah ada. Aruna hanya bisa menerima semuanya dengan senyum hambar. Ia tahu semua kasih sayang itu berdiri di atas kebohongan.
Di sisi lain, Rangga sama sekali tidak tahu apa-apa. Ia hanya merasa Aruna makin jarang datang. Teleponnya tak dijawab, pesannya dibaca tapi tak dibalas. Ia sempat berpikir Aruna bosan, atau mungkin merasa bersalah. Tapi tak pernah menduga bahwa alasan sebenarnya jauh lebih besar dari itu.
Beberapa bulan kemudian, Aruna menjalani kehamilan dengan baik. Setiap malam, ia memandangi perutnya yang makin membesar, mencoba meyakinkan diri bahwa ia tidak menyesal. Ia mencintai anak itu, tapi juga takut. Setiap kali Andre menatapnya penuh kebanggaan, rasa bersalahnya semakin dalam.
Kadang, di tengah malam, ia membayangkan wajah Rangga. Ia ingin memberitahunya, tapi tidak tahu bagaimana. Apa pun alasannya, Rangga tidak pantas tahu kebenaran yang hanya akan menyakitinya.
Namun dunia tidak selamanya bisa ia kendalikan. Kebenaran, cepat atau lambat, akan menemukan jalan keluar. Dan Aruna tahu, ketika hari itu tiba — semuanya akan hancur.