Mobil itu melaju dalam keheningan. Lampu kota berkelebat di luar jendela, memantul samar di kaca yang sedikit berembun. Aruna duduk di kursi penumpang, tubuhnya masih terasa ringan sekaligus berat—ringan karena ia masih hidup, berat karena terlalu banyak kebenaran yang baru saja menabraknya tanpa aba-aba. Pria berjaket hitam itu menyetir tanpa bicara. Tangannya mantap di setir, sorot matanya fokus ke jalan, tetapi sesekali ia melirik Aruna dari sudut matanya, seolah memastikan Aruna benar-benar ada di sana, bukan bayangan yang selama ini hanya ia kejar dalam diam. “Aku boleh tahu namamu sekarang?” tanya Aruna akhirnya, suaranya pelan namun jujur. Pria itu menghela napas. Lama. Seolah nama itu membawa beban yang tidak ringan. “Arya,” katanya singkat. “Panggil aku Arya.” Aruna mengulang

