Aruna baru benar-benar berhenti berlari ketika paru-parunya terasa perih dan kakinya gemetar. Pria berjaket hitam itu membawanya ke sebuah rumah tua di pinggir kota—bangunan dua lantai dengan cat mengelupas, halaman sempit, dan satu lampu teras yang menyala redup seperti napas terakhir. Begitu pintu ditutup dan dikunci dari dalam, keheningan jatuh di antara mereka, berat dan canggung. “Kau aman di sini,” kata pria itu akhirnya. Aruna masih berdiri, punggungnya menempel ke pintu. Dadanya naik turun. Tangannya gemetar, bukan lagi karena takut semata, melainkan karena terlalu banyak hal yang belum terucap. “Kau tahu namaku. Kau tahu masa laluku. Dan caramu menatapku… seolah kita pernah bertemu.” Pria itu terdiam. Ia meletakkan pistolnya di meja kayu kecil, menjauh dari jangkauan, seolah in

