Langkah Aruna akhirnya melambat ketika mereka tiba di sebuah rumah kecil di pinggiran kota. Bangunannya sederhana, cat dindingnya sedikit pudar, tapi halaman depannya bersih dan tertata. Lampu teras menyala redup, memberi kesan hangat yang kontras dengan dinginnya malam dan kekacauan yang baru saja ia lalui. Pria berjaket hitam itu membuka pintu dengan kunci kecil dari saku jaketnya, lalu mempersilakan Aruna masuk lebih dulu. “Masuklah. Di sini aman… untuk sementara,” katanya pelan. Aruna melangkah masuk dengan ragu. Aroma teh hangat dan kayu tua langsung menyambutnya. Ruangan itu tidak besar, tapi terasa hidup. Ada rak buku, sofa usang berwarna abu-abu, dan meja kecil dengan dua cangkir yang tampak sering digunakan. Tempat ini bukan markas rahasia seperti yang Aruna bayangkan. Justru te

