Pagi berikutnya, suasana di rumah kontrakan itu masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Dapur kecil penuh aroma bawang goreng dan minyak panas. Aruna berdiri di depan kompor dengan daster lusuh yang warnanya mulai pudar. Tangannya lincah mengaduk sayur bening dalam panci kecil, sementara di sisi lain wajan berisi tempe goreng sudah mulai kecokelatan. Ia sesekali menoleh ke arah ruang tengah, memastikan anaknya tidak bangun terlalu cepat. Udara pagi masuk lewat jendela yang terbuka setengah. Suara ayam tetangga terdengar bercampur dengan radio kecil yang memutar lagu lama. Aruna menata lauk di meja makan dengan hati-hati. Ia sudah terbiasa dengan rutinitas seperti ini. Tidak mewah, tapi cukup untuk membuat rumah kecil itu terasa hidup. Rangga keluar dari kamar dengan rambut masih basah,

