Keesokan harinya, kehidupan berjalan seperti biasa. Aruna bangun lebih pagi dari Rangga. Ia menyiapkan sarapan sederhana, nasi goreng dengan telur mata sapi dan secangkir kopi hitam yang aromanya memenuhi dapur kecil mereka. Anak mereka masih tidur di kamar, terbungkus selimut bergambar kartun. Sinar matahari pagi menembus jendela dapur, memantulkan cahaya lembut di lantai keramik yang sedikit retak di sudutnya. Rangga muncul beberapa menit kemudian, rambutnya masih acak-acakan dan matanya setengah terbuka. Ia duduk di kursi makan sambil menguap. “Pagi, Na. Kamu bangun pagi banget,” katanya sambil meraih piring. Aruna tersenyum kecil sambil menuangkan kopi ke cangkirnya. “Aku udah kebiasaan bangun lebih dulu. Anak kita juga nanti kebangun, jadi sekalian siapin sarapan.” Rangga menyerupu

