Sesampainya di rumah, Ricky langsung menuju ke kamar anak-anaknya. Ia melihat Mawar sedang menidurkan Ken dengan penuh kasih sayang. Luna sudah tertidur pulas di ranjangnya. Pemandangan itu membuat hati Ricky menghangat. Ia merasa beruntung memiliki Mawar di sisinya.
Mawar menoleh saat mendengar suara langkah kaki. Ia tersenyum lembut saat melihat Ricky. "Tuan Ricky sudah pulang?" Tanyanya pelan, tidak ingin membangunkan anak-anak.
Ricky mengangguk dan mendekat ke arah Mawar. "Bagaimana keadaan mereka?" Tanyanya sambil mengelus rambut Luna dengan lembut.
"Mereka baik-baik saja, Pak. Tadi sempat rewel sedikit, tapi sekarang sudah tidur nyenyak." Jawab Mawar dengan senyum yang menenangkan.
Ricky menatap Mawar dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia ingin sekali mengungkapkan perasaannya pada Mawar, tetapi ia masih merasa ragu dan takut. Ia takut jika Mawar tidak memiliki perasaan yang sama dengannya. Ia juga takut jika perasaannya ini akan menyakiti hati Nayla.
Mawar menyadari tatapan Ricky padanya. Jantungnya berdegup kencang. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari tatapan Ricky kali ini. "Apa ada sesuatu yang ingin Tuan bicarakan?" Tanyanya hati-hati.
Ricky terdiam sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam dan memberanikan diri untuk menatap Mawar. "Mawar, sebenarnya..." Ucapan Ricky terhenti saat Bi Siti tiba-tiba muncul di ambang pintu.
"Den Ricky, ini sudah malam. Sebaiknya Den Ricky istirahat saja." Kata Bi Siti dengan nada khawatir.
Ricky menghela napas pasrah. Ia tahu, ini bukan waktu yang tepat untuk berbicara dengan Mawar. "Baik, Bi. Saya akan istirahat." Jawabnya dengan nada kecewa.
Ricky menatap Mawar sekali lagi sebelum akhirnya pergi meninggalkan kamar anak-anak. Ia merasa frustrasi karena selalu ada saja halangan yang menghalanginya untuk mengungkapkan perasaannya pada Mawar. Ia berharap, memiliki keberanian untuk mengatakan semua yang ada di hatinya.
Ricky berjalan menuju kamarnya, berbaring di tempat tidur, namun matanya tetap terbuka. Bayangan Mawar dengan senyum lembutnya terus memenuhi pikirannya. Ricky tahu, ia tidak bisa terus seperti ini. Ia harus melakukan sesuatu untuk mengatasi perasaannya.
Mawar menatap kepergian Ricky dengan perasaan campur aduk. Ia merasa penasaran dengan apa yang ingin dikatakan Ricky padanya. Ia juga merasa khawatir jika Ricky sedang memiliki masalah. Ia ingin sekali membantu Ricky, tetapi ia tidak tahu bagaimana caranya. Ia hanya bisa berdoa agar Ricky selalu diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi segala masalahnya.
Mawar juga tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan Ricky dan apa yang ingin ia katakan. Jantungnya berdegup kencang setiap kali mengingat tatapan Ricky padanya. Mawar bertanya-tanya, apakah Ricky memiliki perasaan yang sama dengannya? Ia berharap, suatu saat nanti ia akan tahu jawabannya.
Di hari-hari berikutnya, Ranty selalu mencari alasan untuk mendekati Ricky. Namun pria itu tetap dingin dan tidak terpengaruh sama sekali oleh rayuannya. Ranty tidak menyerah, dia yakin Ricky hanya butuh waktu untuk melupakan Nayla dan membuka hatinya untuk wanita lain.
Pagi itu, Ranty sengaja datang lebih awal ke kantor. Dia ingin menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut Ricky. Dia tahu, Ricky adalah pria yang perfeksionis dan sangat menghargai kerapian. Ranty ingin menunjukkan kepada Ricky bahwa dia adalah sekretaris yang profesional dan dapat diandalkan.
Ketika Ricky tiba di kantor, Ranty menyambutnya dengan senyum ceria. "Selamat pagi, Pak Ricky. Semoga harimu menyenangkan." Ucapnya dengan suara yang dibuat semanis mungkin.
Ricky hanya mengangguk singkat, tanpa membalas senyuman Ranty. Dia langsung menuju ruang kerjanya dan mulai bekerja. Ranty merasa sedikit kecewa, tetapi dia tidak menyerah. Dia tahu, Ricky masih berduka atas kepergian Nayla. Dia harus lebih bersabar dan memberikan waktu kepada Ricky untuk beradaptasi dengan situasi yang baru.
Siang harinya, Ranty membawakan makan siang untuk Ricky. Dia tahu, Ricky sering lupa makan karena terlalu sibuk bekerja. Ranty ingin menunjukkan perhatiannya kepada Ricky dengan cara yang sederhana, namun bermakna.
"Pak Ricky, ini ada makan siang untuk anda. Saya tahu, Pak Ricky pasti belum makan siang." Ucap Ranty sambil meletakkan kotak makan di atas meja Ricky.
Ricky mendongak, menatap Ranty dengan tatapan kosong. "Terima kasih, Ranty. Tapi saya tidak lapar." Jawabnya singkat.
Ranty merasa sedikit sakit hati.
Dia sudah berusaha keras untuk mendekati Ricky, tetapi pria itu tetap acuh tak acuh padanya. Namun, Ranty tidak akan menyerah. Dia tahu, dia harus lebih berusaha lagi untuk mendapatkan hati Ricky.
Malam harinya, Ranty kembali ke ruangan Ricky. Dia menawarkan diri untuk menemaninya makan malam. Ricky hanya menjawabnya dengan singkat. "Terima kasih Ranty, tapi saya sudah makan. Lagipula anak-anak sudah menunggu saya."
Ranty merasa sangat kecewa. Dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk mendekati Ricky, tetapi pria itu tetap tidak memberikan respons positif padanya. Malahan sekarang karena kehadiran Mawar, Ranty merasa mendekati Ricky sama sulitnya seperti dulu saat Ricky masih bersama dengan Nayla.
Ranty mulai meragukan dirinya sendiri. Apakah dia tidak cukup menarik bagi Ricky? Apakah dia tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Nayla di hati Ricky?
Namun, Ranty tidak menyerah. Dia tahu, dia harus terus berusaha agar Ricky bisa membuka hati untuknya. Dia yakin, suatu saat nanti Ricky akan menyadari bahwa dia adalah wanita yang lebih tepat daripada Mawar si pengasuh itu.
Dia akan terus berusaha memberikan perhatian kepada Ricky, meskipun pria itu tidak membalasnya dengan cinta. Dia akan terus berada di sisi Ricky, menunggu saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya. Ranty yakin, dengan kesabaran dan ketekunannya, dia bisa memenangkan hati Ricky.
Hari demi hari terus berlalu, Ranty terus berusaha mendekati dan menggoda Ricky. Namun Ricky yang dingin benar-benar tidak menghiraukannya. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di ruangannya, tenggelam dalam pekerjaan dan sesekali menghubungi Mawar untuk menanyakan kabar Ken dan Luna.
Ranty benar-benar frustrasi dengan sikap Ricky yang acuh tak acuh. Semua usahanya seolah sia-sia. Ia mencoba berbagai cara, mulai dari mengenakan pakaian yang lebih seksi, memasak makanan kesukaan Ricky, hingga memberikan perhatian ekstra. Namun, Ricky tetaplah Ricky, dingin dan sulit didekati.
Suatu sore, saat Ricky masih berada di kantor, Ranty memberanikan diri untuk datang ke ruangannya tanpa mengetuk pintu. Ia melihat Ricky sedang duduk di kursinya, menatap kosong ke arah jendela. Wajahnya terlihat lelah.
"Pak Ricky.." Panggil Ranty dengan suara lembut.
Ricky menoleh, lalu menatap Ranty dengan tatapan kosong, seolah jiwanya telah lama meninggalkan raganya. Ada apa, Ranty?" Tanyanya.
Ranty merasakan sentuhan iba menyelinap di hatinya, namun ia segera menepisnya. Ia harus tetap fokus pada tujuannya, yaitu mendapatkan Ricky Pratama, pria yang berada di hadapannya ini.
"Saya hanya ingin memastikan jika Pak Ricky baik-baik saja. Pak Ricky terlihat sangat lelah. Apa ada yang bisa saya bantu?" Jawab Ranty, menatapnya dengan tatapan prihatin yang dibuat-buat. Lalu ia mendekat dan berdiri di depan meja Ricky.
Ricky menghela napas pelan. "Saya hanya sedang banyak pikiran, Ranty. Tidak ada yang bisa kamu lakukan untukku." Jawabnya pelan.